FIGC Cabut Dukungan untuk Gianni Infantino Jelang Pemilihan Presiden FIFA

Keputusan itu diumumkan pada Rabu (26/8/2026) dan menjadi pukulan terbaru bagi Infantino yang tengah menghadapi tekanan dari sejumlah federasi nasional maupun kontinental.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 27 Agustus 2026, 12:30 WIB
Presiden FIFA Gianni Infantino berbicara dalam konferensi pers di Qatar National Convention Center, Doha, Sabtu, 19 November 2022, menjelang Piala Dunia Qatar 2022. Infantino membalas kritik terhadap catatan hak asasi manusia Qatar. (COFFRINI KAIN / AFP)

Bola.com, Jakarta - Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi menarik dukungannya terhadap Gianni Infantino untuk kembali menjabat sebagai Presiden FIFA.

Keputusan itu diumumkan pada Rabu (26/8/2026) dan menjadi pukulan terbaru bagi Infantino yang tengah menghadapi tekanan dari sejumlah federasi nasional maupun kontinental.

Advertisement

FIGC menyatakan keputusan itu diambil untuk menyampaikan sikap secara jelas dan transparan. Federasi sepak bola Italia itu menyoroti sejumlah inisiatif kontroversial Infantino, khususnya yang berkaitan dengan tata kelola dan pengembangan kompetisi internasional.

Infantino telah memimpin FIFA sejak 2016 dan dikabarkan berencana mencalonkan diri kembali dalam Kongres FIFA yang akan digelar di Maroko pada Maret mendatang.

 
 

FIGC Kritik Kebijakan Infantino

Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Presiden FIGC, Giovanni Malago, menegaskan Italia akan tetap bekerja sama dengan UEFA dan federasi-federasi Eropa lainnya untuk memperjuangkan model sepak bola yang berlandaskan meritokrasi, solidaritas, keberlanjutan, serta menempatkan suporter sebagai bagian penting.

"Kami terus bekerja bersama UEFA dan federasi Eropa lain untuk mempromosikan visi sepak bola yang berlandaskan merit, solidaritas, keberlanjutan, dan sentralitas penggemar," ujar Malago.

Ia juga menekankan pentingnya dialog dan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan sepak bola.

"Kami mengidentifikasi diri dengan model dialog, mendengarkan, dan tanggung jawab bersama yang selama ini memungkinkan sepak bola berkembang, berinovasi, sekaligus mempertahankan prinsip-prinsip dasarnya," lanjutnya.

Sikap tersebut menunjukkan FIGC tidak lagi sejalan dengan sejumlah kebijakan yang diambil di bawah kepemimpinan Infantino.


Proposal FIFA Forward Enterprise Jadi Pemicu

Tekanan terhadap Gianni Infantino meningkat setelah ia memperkenalkan proposal FIFA Forward Enterprise pada musim panas.

Rencana itu berkaitan dengan penjualan sebagian kepemilikan perusahaan yang mengendalikan hak komersial Piala Dunia dan sejumlah kompetisi FIFA kepada investor swasta.

Proposal itu langsung menuai penolakan luas dari berbagai pihak. Setelah mendapat tekanan besar, FIFA akhirnya menarik kembali rencana tersebut.

Meski proposal telah dibatalkan, kontroversi yang ditimbulkannya belum sepenuhnya berakhir.

Sejumlah asosiasi nasional dan badan sepak bola kontinental masih mempertanyakan cara Infantino memimpin organisasi sepak bola dunia tersebut.

FIGC kini menjadi salah satu federasi besar yang secara terbuka memilih untuk tidak lagi mendukung upaya Infantino mempertahankan jabatannya.


UEFA, AFC, dan CONCACAF Pertanyakan Kepemimpinan Infantino

 

Tekanan terhadap Infantino juga datang dari tiga konfederasi besar, yakni UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF.

Ketiga organisasi tersebut sebelumnya mengirimkan surat bersama yang menuduh Infantino telah merusak kepercayaan melalui apa yang mereka sebut sebagai "penipuan" terkait proposal FIFA Forward Enterprise.

Mereka juga menyerukan dilakukannya peninjauan yang sepenuhnya independen terhadap proposal yang akhirnya dibatalkan tersebut.

Selain FIGC, beberapa federasi nasional juga telah menarik dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino.

Federasi sepak bola Inggris, Wales, dan Irlandia termasuk di antara asosiasi yang mengambil sikap serupa.

Rangkaian penolakan tersebut berpotensi membuat perjalanan Infantino menuju pemilihan kembali tidak semulus sebelumnya.


Masa Depan Infantino di FIFA Mulai Dipertanyakan

 

Infantino menjabat sebagai Presiden FIFA sejak 2016. Selama kepemimpinannya, ia mendorong sejumlah perubahan besar dalam sepak bola internasional, termasuk ekspansi Piala Dunia jadi 48 peserta.

Namun, kontroversi mengenai tata kelola FIFA dan rencana komersialisasi hak kompetisi kini menjadi tantangan serius menjelang pemilihan presiden berikutnya.

Infantino dilaporkan tetap berencana mencalonkan diri untuk masa jabatan berikutnya dalam Kongres FIFA di Maroko pada Maret mendatang.

Dengan makin banyaknya federasi yang mempertanyakan kepemimpinannya, pemilihan tersebut berpotensi menjadi salah satu periode paling menantang bagi Infantino sejak duduk di posisi tertinggi FIFA.

Keputusan FIGC juga menjadi sinyal bahwa dukungan terhadap Infantino tidak lagi otomatis datang dari federasi-federasi Eropa.

Dalam beberapa bulan ke depan, kemampuan Infantino untuk membangun kembali kepercayaan dan mendapatkan dukungan anggota FIFA akan menjadi faktor penting dalam menentukan masa depannya sebagai pemimpin sepak bola dunia.

Sumber: The Sun

Berita Terkait