UEFA Cabut Ancaman Boikot Turnamen FIFA, Usai Dapat Jaminan Rencana Kontroversial Gianni Infantino Tak Akan Dihidupkan Lagi

Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) bersiap secara resmi menarik ancaman boikot terhadap kompetisi-kompetisi di bawah naungan FIFA.

BolaCom | Farrel Mido DestianoDiterbitkan 27 Agustus 2026, 16:15 WIB
Presiden FIFA Gianni Infantino berbicara dalam konferensi pers di Qatar National Convention Center, Doha, Sabtu, 19 November 2022, menjelang Piala Dunia Qatar 2022. Infantino membalas kritik terhadap catatan hak asasi manusia Qatar. (COFFRINI KAIN / AFP)

Bola.com, Jakarta - Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) bersiap secara resmi menarik ancaman boikot terhadap kompetisi-kompetisi di bawah naungan FIFA.

Sikap itu diambil UEFA setelah mendapat jaminan rencana penjualan hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta yang diusung Presiden FIFA, Gianni Infantino, tidak akan dihidupkan kembali.

Advertisement

Seperti dikutip dari ESPN, keputusan krusial tersebut diambil dalam pertemuan federasi anggota UEFA di Monaco yang berlangsung menjelang pengundian babak penyisihan grup Liga Champions, Rabu (26/8/2026). 

Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya yang mengetahui substansi pembahasan tersebut, kesepakatan UEFA untuk menarik ancaman ini dicapai setelah negosiasi intensif di balik pintu tertutup.

Dengan dibatalkannya aksi boikot ini, enam tim nasional asal Benua Biru dipastikan dapat melanjutkan persiapan untuk tampil pada ajang Piala Dunia Wanita U-20 FIFA yang dijadwalkan bergulir mulai 5 September di Polandia.

Prancis dan Spanyol telah merilis daftar skuad resmi mereka pekan lalu untuk turnamen yang diikuti 24 negara tersebut, yang sebelumnya berpotensi menjadi medan pertempuran politik antara UEFA dan FIFA. 


Respons FIFA

Gianni Infantino, Presiden FIFA, melambaikan tangan kepada penonton sebelum pertandingan babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara CR Flamengo dan FC Bayern München di Hard Rock Stadium pada 29 Juni 2025 di Miami Gardens, Florida. (Michael Reaves/Getty Images via AFP)

Selain Prancis dan Spanyol, negara-negara Eropa lainnya seperti Inggris, Italia, Portugal, serta tuan rumah Polandia dipastikan turut serta dalam ajang bergengsi tersebut bersama tim-tim kuat dunia lain seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina.

FIFA secara terbuka menyambut baik perkembangan positif dari UEFA dan menegaskan keyakinan mereka bahwa sepak bola memiliki kekuatan besar untuk menyatukan semua pihak, bahkan di tengah situasi yang penuh tantangan sekalipun.

Perselisihan sengit ini bermula ketika Gianni Infantino memicu kemarahan para pimpinan sepak bola dunia setelah rencananya membentuk anak perusahaan bernilai 20 miliar dolar AS untuk mengendalikan hak komersial FIFA, termasuk Piala Dunia, terbongkar ke publik.

Rencana kontroversial tersebut mencakup pengalihan 20 persen saham kepada konsorsium investor swasta yang dipimpin oleh dana investasi asal New York bentukan Joshua Kushner.

Menghadapi gelombang penolakan dan kritik tajam yang dipelopori UEFA serta didukung penuh oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan Concacaf, Infantino akhirnya membatalkan usulan tersebut hanya dalam waktu empat hari.

UEFA kemudian menuntut jaminan tertulis bahwa entitas komersial bernama FIFA Forward Enterprise itu tidak akan dihadirkan kembali dalam bentuk atau format lain di masa depan.


Titik Balik

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Retaknya hubungan ini juga berimbas langsung pada dukungan politik terhadap kepemimpinan Infantino. UEFA sebelumnya sempat menyatakan hilang kepercayaan terhadap sang Presiden FIFA menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung Maret 2027 di Rabat, Maroko.

Gelombang penolakan tersebut semakin menguat setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan Federasi Sepak Bola Rumania (FRF) secara resmi mencabut dukungan mereka terhadap pencalonan kembali Infantino untuk periode keempat.

Presiden FIGC, Giovanni Malago, menegaskan Italia memilih untuk berdiri sejajar bersama UEFA dan federasi Eropa lainnya demi mendorong visi sepak bola yang berbasis pada meritokrasi, keberlanjutan, serta keterlibatan fans.

Senada dengan hal tersebut, Presiden FRF Răzvan Burleanu, menyatakanFIFA saat ini membutuhkan sosok pemimpin baru yang mampu menciptakan konsensus, membangkitkan kepercayaan, serta menyatukan seluruh elemen sepak bola dunia.

Meskipun Infantino sebelumnya diprediksi melenggang mulus tanpa lawan hingga 2031, krisis tata kelola akibat proposal investor swasta ini telah mengubah peta politik sepak bola global secara signifikan.

Pembatalan boikot oleh UEFA kini menjadi titik balik penting dalam memulihkan stabilitas kompetisi internasional, sekaligus menandai perlawanan tegas federasi-federasi Eropa terhadap komersialisasi berlebihan dalam olahraga ini.

Sumber: ESPN

Berita Terkait