Bola.com, Jakarta - Perdebatan mengenai siapa pemain tenis terbaik sepanjang masa atau GOAT kembali mengarah kepada dua nama besar, Rafael Nadal dan Novak Djokovic. Keduanya terlibat dalam satu di antara rivalitas terbesar dalam sejarah tenis.
Dalam wawancara dengan AS, Nadal turut memberikan pandangannya mengenai status Djokovic sebagai pemain terbaik sepanjang masa.
Nadal dan Djokovic pernah bertemu di partai final empat turnamen Grand Slam, masing-masing Australian Open, Roland Garros, Wimbledon, dan US Open.
Salah satu duel paling dikenang terjadi pada final Australian Open 2012 yang berlangsung selama lima jam 53 menit, sekaligus menjadi final Grand Slam terpanjang dalam sejarah.
Djokovic akhirnya keluar sebagai pemenang dalam duel yang berlangsung sangat melelahkan tersebut.
Persaingan keduanya dalam koleksi gelar Grand Slam kemudian berubah pada 2023. Djokovic meraih gelar US Open untuk keempat kalinya sekaligus mengoleksi Grand Slam ke-24 dalam kariernya.
Pencapaian itu membuat Djokovic unggul dua gelar atas Nadal, yang mengoleksi 22 Grand Slam. Saat itu, Nadal mengakui Djokovic lebih baik darinya dan dari seluruh petenis lain yang pernah bermain.
Nadal Akui Djokovic Unggul dalam Statistik
Kini, Nadal kembali memberikan penilaiannya. Menurutnya, angka dan statistik menjadi tolok ukur yang tidak bisa diperdebatkan ketika membahas pencapaian Djokovic.
"Saya percaya bahwa angka adalah angka dan statistik adalah statistik. Dalam hal itu, menurut saya dia (Djokovic) memiliki angka yang lebih baik daripada saya dan itu tidak terbantahkan," ujar Nadal, seperti dikutip ESPN.
Nadal menilai penilaian di luar pencapaian statistik lebih bersifat subjektif karena setiap orang memiliki selera dan pandangan berbeda terhadap seorang atlet.
"Itulah kenyataannya. Selebihnya adalah selera, inspirasi, sensasi yang mungkin ditularkan oleh satu atau yang lain kepada Anda, yang membuat Anda mungkin lebih menyukai salah satunya. Saya pikir dalam hal gelar, Djokovic adalah yang terbaik dalam sejarah dan tidak ada yang perlu diperdebatkan mengenai itu," lanjutnya.
Puas dengan Pencapaian
Kendati mengakui Djokovic unggul dalam jumlah gelar, Nadal tetap puas dengan pencapaiannya sendiri.
Petenis Spanyol itu pernah menduduki peringkat satu dunia dalam tiga dekade berbeda. Ia pertama kali menjadi petenis nomor satu dunia pada 2008 dan terakhir kali menempati posisi tersebut pada 2020.
Nadal juga menegaskan tidak ingin memperdebatkan statusnya hanya demi mempertahankan posisi dalam pembicaraan mengenai GOAT.
"Saya sudah mengatakannya ketika saya adalah pemilik gelar Grand Slam terbanyak, saya mengatakannya ketika kami memiliki jumlah yang sama, dan saya mengatakannya sekarang ketika saya berada di belakang: Saya tidak akan menjadi orang yang berusaha, melalui perjuangan pribadi, untuk menjadi sesuatu yang bukan diri saya," tutur Nadal.
"Apa yang ada, ya ada, dan apa yang tidak ada, ya tidak ada. Saya katakan ini: Saya sangat puas dengan semua yang telah saya lakukan."
Nadal Sudah Pensiun, Djokovic Masih Mengejar Rekor
Nadal mengakhiri karier profesionalnya setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan pada kakinya. Ia didiagnosis menderita sindrom Muller-Weiss empat tahun setelah memulai karier profesional.
Kondisi langka tersebut menyebabkan masalah serius pada kaki Nadal sepanjang kariernya. Masalah itu juga berkontribusi terhadap munculnya artritis lebih awal pada kaki dan pergelangan kakinya.
Menjelang pensiun, Nadal menjalani operasi sebagai upaya menangani persoalan yang telah berlangsung lama tersebut.
Sementara itu, Djokovic masih melanjutkan perjuangannya di level Grand Slam. Pada usia 39 tahun, petenis Serbia itu akan memulai upayanya memburu gelar Grand Slam ke-25, Minggu hari ini.
Djokovic dijadwalkan tampil pada babak pertama US Open. Tahun ini, ia sudah mencapai final Australian Open, melaju hingga babak ketiga Roland Garros, serta menembus semifinal Wimbledon.
Kini, Djokovic kembali mendapat kesempatan untuk mengejar gelar Grand Slam ke-25 di New York.
Sumber: Give Me Sport
Penulis: Arif Anggara Mulya