Bola.com, Jakarta - Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, memastikan pihaknya akan memberikan dukungan kepada klub-klub Indonesia yang bermain di turnamen antarklub Asia, termasuk melalui penyesuaian jadwal agar dapat menjalani kompetisi domestik dan internasional secara lebih baik.
Menurut Sadikin, dukungan tersebut juga mencakup aspek finansial karena klub membutuhkan biaya besar ketika harus bermain di turnamen antarklub Asia.
Sadikin berkaca pada pengalamannya ketika memimpin PSM dan menyebut persaingan klub Indonesia di turnamen antarklub Asia saat ini berbeda dibandingkan era sebelumnya, termasuk ketika Persipura Jayapura pernah menembus AFC Cup 2014.
"Saya pernah mengalami apa yang dilakukan oleh Persib sebenarnya sekarang, malah kalau enggak salah dihukum saya enggak naik itu perubahan jadwal malah ditolak sama I.League waktu itu," ujar Sadikin Aksa dalam diskusi PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta Selatan, pada Senin (31/8/2026).
Dia menjelaskan klub yang bermain di berbagai kompetisi dalam satu musim membutuhkan kedalaman skuad yang berbeda karena tidak cukup untuk menjalani seluruh pertandingan yang tersedia sepanjang musim.
Untuk turnamen antarklub Asia musim depan, Indonesia diwakili oleh Persib Bandung yang memulai dari play-off AFC Champions League (ACL) Two dan Borneo FC Samarinda di AFC Challenge League (ACGL).
"Jadi memang gini, untuk bersaing di kompetisi Asia, ya apalagi kayak Persib dan kalau enggak salah sih Persib sudah melakukan ya sekarang dengan pengalaman tahun lalu, kita dia berkompetisi ada empat kompetisi, Super League, AFC, League Cup, dan ASEAN Club Championship," kata Sadikin.
"Itu tidak mungkin bangun satu tim, minimal tiga, itulah yang membedakan kita waktu itu, dulu kita pikir dengan satu tim aja cukup dengan bersaing apa berkompetisi di beberapa turnamen, tidak mungkin," ucap Sadikin.
Perkembangan Klub Asia Tenggara
Sadikin juga menyebut perkembangan klub-klub di Asia Tenggara tidak dapat dilepaskan dari kondisi yang dihadapi dalam satu dekade terakhir, sementara klub Indonesia sempat mengalami sejumlah hambatan yang memengaruhi proses transformasi.
"Jadi kenapa kita menurun karena pertama waktunya sudah berbeda ya, zaman dulu sama kalau kita bandingkan dulu persaingan zaman dulu sama persaingan sekarang berbeda, dan kalau ditanya klub-klub yang di Asia Tenggara ini kenapa lebih maju? Mereka tidak menghadapi banned dan tidak menghadapi masalah COVID 19, mereka tetap jalan meski ada COVID 19," tuturnya.
"Masalah banned kompetisi kita, banned itu yang paling berat yang kita rasakan, nah mereka tidak merasakan itu, jadi pada waktu ada perubahan regulasi daripada AFC mereka mengikuti, kita pada saat itu mau ngikutin kita kena banned," jelas Sadikin.
Dia menilai klub-klub Indonesia baru menjalani proses transformasi dalam beberapa tahun terakhir sehingga membutuhkan waktu untuk mengejar klub-klub di kawasan yang telah melakukan perubahan lebih dulu, tetapi arah perkembangan tersebut menurutnya sudah mulai terlihat.
"Akhirnya mindset klub-klub kita kalau ditanya kita itu baru bisa bertransformasi benar tiga tahun terakhir, jadi kalau kita mau berharap bisa mencapai mereka yang sudah bertransformasi dari mungkin sepuluh tahun lalu, ya tidak bisa tiba-tiba ya kalau kita bilang, tapi apakah kita menuju ke sana? Menuju ke sana," ucap Sadikin.
Terkait persoalan jadwal, Sadikin menegaskan I.League telah berkomunikasi dengan klub-klub yang berkompetisi di turnamen antarklub Asia sebelum menyusun serta merilis jadwal, sehingga jadwal yang dibuat merupakan hasil komunikasi dengan klub terkait.
"Kemarin komunikasi masalah jadwal, ya jadwal kita tidak bisa ngapa-ngapain, kalau ditanya kita tidak mengikuti, kita sebelum merilis jadwal kita komunikasi dengan klub yang berkompetisi di AFC dan AFF, jadi ini adalah yang terbaik jadwal yang kami sudah komunikasikan dengan mereka," jelasnya.
Penyesuaian Jadwal
Sadikin menambahkan penyesuaian jadwal masih terbuka jika klub melangkah lebih jauh di turnamen antarklub Asia sehingga kompetisi domestik dapat kembali disesuaikan dengan turnamen internasional.
"Jadi tidak mungkin nanti perubahan itu ada pada saat kalau mereka masuk 16 besar, masuk final misalnya, itu pasti ada adjustment lagi, pasti dan pasti kita akan mengakomodasi klub-klub ini," katanya.
Sadikin memastikan I.League mendukung penuh Persib dan Borneo FC mendapatkan dukungan penuh selama menjalani turnamen antarklub Asia, termasuk bantuan finansial untuk meringankan beban biaya perjalanan yang harus dikeluarkan klub ketika bertanding di luar negeri.
"Saya yakin kalau kita mau bersaing ya dengan kondisi kayak kita sekarang, dua hingga tiga tahun ke depan harusnya kita sudah bisa bisa bisa bersaing, dan kami berharap I.League mendukung Persib dan Borneo FC untuk berlaga di dua turnamen AFC dan AFF," ujar Sadikin.
"Dan bukan cuma support dari pengaturan jadwal, financially pun kita support, karena kita tahu bertanding ke luar itu cukup mahal," lanjutnya.
Teringat Pengalaman di Filipina
Sadikin mengingat kembali pengalamannya ketika PSM melawat ke Manila, Filipina, dalam AFC Cup dan menyebut biaya perjalanan untuk satu pertandingan tandang saja dapat mencapai angka yang besar.
"Saya malah bilang boleh enggak kita tarik ke belakang waktu dulu, waktu PSM itu bertanding ke mana, ke Manila itu away saja Rp900 juta," kata Sadikin.
"Jadi bayangkan saja kalau ditanya apakah, saya merasakan kok waktu itu saya juga ada Piala Indonesia, ada AFC Cup, ada Liga Indonesia, itu cuma tiga loh tidak ada ASEAN Club Championship. Coba saya membayangkan dan kalau Persib dan siapa Borneo FC hanya bangun satu tim apa dua tim berat, minimal tiga tim," ungkapnya.
"Jadi strategi tim pelatih yang harus jago ya, jadi mereka bisa bertanding berapa bisa sampai 45 laga selama satu musim, jadi pertama kami dari I.League sudah pasti menyesuaikan jadwal, tidak mungkin tidak menyesuaikan, jadwalnya sudah pasti," tuturnya.
Sadikin membantah anggapan bahwa I.League tidak memberikan dukungan kepada klub Indonesia di level internasional, meski ia mengakui tidak semua permintaan terkait jadwal dapat dipenuhi karena setiap keputusan tetap memiliki konsekuensi berbeda.
"Jadi kalau ada komen-komen mengenai jadwalnya kita tidak support itu salah total, kita support jadwalnya mereka, tapi kalau ditanya tidak mungkin semuanya kita penuhi semua, pasti apa pun keputusan yang kita ambil ada yang setuju dan tidak apalagi netizen, tapi ada intinya dan tidak kita support mereka financially sudah pasti," papar Sadikin.