Bola.com, Jakarta - Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, menyebut Liga Indonesia memiliki tingkat persaingan atau competitiveness level tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan data Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Menurut Sadikin, tingkat persaingan yang tinggi menjadi satu di antara aspek yang membuat Liga Indonesia mulai menarik perhatian sponsor dan pihak-pihak dari luar negeri.
"Kalau kita melihat competitiveness level kita, biarpun Persib juara tiga kali berturut-turut, tetapi pada saat Persib mau juara, itu ada kompetitif yang cukup tinggi, apalagi tahun lalu sampai minggu terakhir," ujar Sadikin dalam diskusi PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta Selatan, Senin (31-8-2026).
Sadikin kemudian membandingkan persaingan di Indonesia dengan sejumlah kompetisi di negara Asia Tenggara lainnya.
Ia menyoroti dominasi Johor Darul Ta'zim (JDT) di Malaysia yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
"Tetapi, kalau kita bandingkan Malaysia, Malaysia itu yang namanya JDT sudah berapa tahun, lebih dari sepuluh tahun juara berturut-turut. Sebelas kali juara, ada persaingan tidak di situ? Begitulah cara penilaiannya," tuturnya.
Situasi berbeda, menurut Sadikin, juga terlihat di Liga Thailand. Ia menyebut persaingan perebutan gelar dalam satu dekade terakhir hanya melibatkan beberapa klub saja.
"Di Thailand, kalau tidak salah empat tim, Buriram United, Port FC, Bangkok United, sama satu lagi, sepuluh tahun yang bersaing cuma itu saja. Sedangkan kita di Indonesia ini, kalau dilihat competitiveness level-nya tinggi," kata Sadikin.
Ia mengatakan data AFC mengenai tingkat persaingan Liga Indonesia menjadi salah satu hal yang diperhatikan sponsor.
Sadikin menyebut perkembangan tersebut mulai terlihat dalam dua tahun terakhir ketika makin banyak pihak memberikan perhatian terhadap kompetisi sepak bola Indonesia.
"Di situlah sebenarnya sponsor melihat, 'Wah, Indonesia ini competitiveness level-nya tinggi', dan itu datang dari AFC, bukan dari kami, data itu dari AFC," imbuhnya.
Menurut Sadikin, perhatian tersebut juga terlihat dari makin banyaknya pemain dengan level permainan yang sebelumnya dianggap sebagai pemain tier atas mulai melihat Liga Indonesia sebagai tujuan.
"Buktinya banyak sekarang, banyak dibilang pemain-pemain yang main di sini ter-tier, dulunya, ya. Sekarang second tier atau first tier saja sudah ada yang melihat," ucapnya.
Gaji Pemain Asing Setara Thailand
Selain persaingan kompetisi, Sadikin menyinggung perkembangan gaji pemain asing di Liga Indonesia.
Berdasarkan data yang dimiliki I.League, rata-rata gaji pemain asing di Indonesia disebut sudah setara Liga Thailand, bahkan berpotensi lebih tinggi.
"Kalau kita melihat average salary kita di sini, pemain asing itu sudah 'masuk', kita sudah setara sama Thailand. Kita mungkin lebih tinggi dari Thailand. Nah, ini menandakan bahwa pemain kita sudah mulai bagus di situ," ungkap Sadikin.
Ia juga menyebut kompetisi di sejumlah negara Asia Tenggara mulai mengalami perubahan. Vietnam, misalnya, baru melakukan perubahan terhadap kompetisinya, termasuk meluncurkan logo baru.
"Jadi, kita sudah mulai melihat bahwa kompetisi kita sudah mulai bagus, orang melihatnya juga, perubahan yang dilakukan oleh Liga Indonesia berbeda dengan yang lain. Ya, benar juga mungkin sekarang liga-liga lain juga bikin perubahan," papar Sadikin.
Pasar Indonesia Besar
Sadikin juga menilai Indonesia memiliki pasar sepak bola yang besar. Ia merujuk pada data Nielsen yang disebutnya menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penggemar sepak bola terbesar di kawasan, baik dari sisi persentase maupun jumlah.
"Jangan salah, kita tidak boleh melihat mundur, kita harus melihat, market kita ini besar. Datanya Nielsen terbesar penggila sepak bola di regional ada di Indonesia. Baik itu persentase maupun secara kuantitas," ucapnya.
Besarnya jumlah penduduk Indonesia turut menjadi satu di antara hal yang menurut Sadikin membuat pasar nasional menarik bagi brand-brand dunia.
"Kita kalau mau ,dibanding secara kuantitas kita sudah pasti lebih besar dari mereka. Kita 50 persen dari 300 juta saja sudah 150 juta orang, itu lebih besar daripada penduduk Malaysia, lebih besar dari penduduk Thailand. Itulah menjadi market besarnya brand-brand dunia di Indonesia," lanjutnya.
Persepsi Mulai Berubah
Sadikin mengatakan persepsi pihak luar terhadap Indonesia juga mulai berubah dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Sebelumnya, persoalan keamanan dan ketidakpastian jadwal disebut menjadi pertimbangan bagi pihak yang ingin masuk ke pasar Indonesia.
"Dulu mereka pada takut masuk ke Indonesia, benar, keamanan, masalah jadwal tidak pasti. Tetapi, apa yang mereka rasakan dua tahun, tiga tahun terakhir? Oleh karena itu mereka masuk," ungkap Sadikin.
Menurutnya, konsistensi dalam melakukan perubahan menjadi tugas I.League agar makin banyak brand internasional melihat potensi Liga Indonesia, baik Super League maupun Championship.
"Ini konsistensi, ini yang tugas dari I.League, menjaga supaya lebih banyak lagi brand internasional melihat kepada Liga Indonesia, Super League kita, Championship kita sudah melihat," kata Sadikin.
Ia mengungkapkan sudah ada pihak dari luar negeri yang menanyakan perubahan yang dilakukan terhadap kompetisi sepak bola Indonesia. Namun, Sadikin tidak membeberkan identitas pihak-pihak tersebut.
"Cuma yang kayak begini, kita pelan-pelan, tidak boleh kita buka juga secara ini, kenapa? Sebab apa, ada dari mereka tidak mau ketahuan siapa orang-orangnya. Tetapi, apa yang dari luar lihat ke kita sudah kelihatan," tuturnya.
Masih Ada Jarak
Sadikin mengakui Liga Indonesia masih memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan kompetisi di Belanda dan Spanyol.
Ia mengatakan hal tersebut diketahuinya setelah mengunjungi kedua negara bersama Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra.
"Saya dan Kang Asep sudah pernah ke Belanda dan Spanyol, ya, kalau kita mau bandingkan dengan sana beda, tetapi menuju ke sana ada," ujar Sadikin.
Ia menilai perubahan tetap harus dilakukan, meski Indonesia pernah menghadapi sejumlah persoalan yang berdampak terhadap kompetisi.
"Kita ini harus kita akui, di Indonesia ini ada tiga dua kali kita dapat masalah. Pertama waktu kita dapat banned, waktu itu dari banned FIFA, terus kedua ada zaman COVID-19 kita berapa hari tidak main, itu lumayan gede, 1,5 tahun kita tidak main," katanya.
Klub Didorong Lebih Mandiri
Sadikin menyebut dampak persoalan masa lalu masih dirasakan sejumlah pemilik klub. Karena itu, pembenahan terhadap pengelolaan klub dinilai perlu terus dilakukan, termasuk melalui pengetatan club licensing.
"Jadi, itu saja sudah menjadi beban buat kita dan jangan salah, klub-klub ini mendapatkan masalah besar ini, owner-owner ini masih menanggung dari masalah-masalah masa lalu. Itu harus kita bereskan semua," kata Sadikin.
Ia menegaskan klub perlu memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Pengembangan sumber pendapatan menjadi bagian dari proses tersebut.
"Makanya, dengan pengetatan club licensing ini tugas utama kita agar supaya klubnya bisa mandiri ke depan, lebih bisa sustainable secara keuangan dulu," jelasnya.
Sadikin juga menyoroti potensi akademi sebagai sumber pemasukan klub. Menurutnya, akademi di sejumlah negara telah menjadi profit center, sementara kondisi tersebut belum banyak terjadi di Indonesia.
"Jadi akademi ini kalau di luar ini adalah profit center, kalau kita di sini akademi masih rugi, tetapi kita ke depan akademi harus profit center juga," ungkap Sadikin.
Selain akademi, ia menyebut tiket pertandingan, sponsor, dan bisnis merchandising sebagai sumber pendapatan yang perlu dikembangkan klub.
"Makanya tiket penonton, akademi, sponsor dan juga apa namanya, dan juga bisnis merchandising," ucap Sadikin.