Mauricio Pochettino Picu Kontroversi, Minta Satu Gelar Liga Inggris Milik Chelsea Dicabut

Mauricio Pochettino melontarkan pernyataan kontroversial terkait gelar Liga Inggris 2016/2017.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 11 September 2026, 05:00 WIB
Pelatih Timnas AS, Mauricio Pochettino, berbicara dengan media selama konferensi pers pada 5 Desember 2025 di Washington, DC. (Jamie Sabau/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Mauricio Pochettino melontarkan pernyataan kontroversial terkait gelar Liga Inggris 2016/2017. Mantan manajer Tottenham Hotspur itu menilai Chelsea seharusnya dicopot dari status juara dan gelar tersebut diberikan kepada Spurs yang finis sebagai runner-up.

Pochettino menilai hukuman yang dijatuhkan kepada Chelsea terkait pelanggaran regulasi finansial Premier League belum cukup. Menurutnya, jika pelanggaran tersebut terbukti terjadi pada musim 2016/2017, maka The Blues tidak seharusnya tetap mempertahankan gelar.

Advertisement

Chelsea dijatuhi denda 10 juta poundsterling (sekitar Rp220 miliar) pada Juli 2026 serta mendapat larangan transfer selama dua jendela yang statusnya ditangguhkan.

Hukuman tersebut berkaitan dengan 74 pelanggaran regulasi FA mengenai agen, perantara, serta investasi pihak ketiga dalam pemain.

Pelanggaran itu dilaporkan terjadi pada era kepemilikan Roman Abramovich. Pemilik Chelsea saat ini, Todd Boehly dan Clearlake Capital, melaporkan sendiri dugaan pelanggaran tersebut kepada otoritas sepak bola pada 2022 ketika proses akuisisi klub dari Abramovich berlangsung.

 


Merasa Tottenham Layak Juara

Mauricio Pochettino juga dilaporkan masuk dalam radar FA sebagai calon pelatih baru Timnas Inggris. Pelatih asal Argentina itu punya pengalaman yang kaya di Inggris. Pochettino saat ini sedang menganggur usai cabut dari Chelsea sehingga ia dikabarkan cukup tertarik untuk mengambil pekerjaan ini. (HENRY NICHOLLS / AFP)

Sejumlah transaksi yang menjadi bagian dari pelanggaran tersebut berkaitan dengan transfer Eden Hazard, Willian, David Luiz, dan Nemanja Matic ke Stamford Bridge.

Keempat pemain tersebut memiliki peran penting dalam kesuksesan Chelsea menjuarai Premier League 2016/2017 di bawah asuhan Antonio Conte.

Saat itu, Tottenham asuhan Pochettino finis di posisi kedua dengan selisih tujuh poin dari Chelsea.

Kini, Pochettino menilai Spurs seharusnya menjadi juara jika Chelsea terbukti mendapatkan keuntungan melalui pelanggaran regulasi.

"Kami seharusnya memenangi satu gelar Premier League. Gelar itu seharusnya diberikan kepada kami," ujar Pochettino kepada wartawan, seperti dikutip dari AFC, Kamis (10/9/2026). 

Pochettino mengaku tidak ragu menyampaikan pendapat tersebut meski pernah menjadi manajer Chelsea pada musim 2023/2024.

"Jika memang benar, maka kami layak menjadi juara pada tahun itu. Mereka dihukum dan mengakui pelanggaran tersebut? Kalau begitu, sudah jelas. Gelar seharusnya diberikan kepada tim yang finis di posisi kedua," tegasnya.

 


Tak Takut Fans Chelsea Marah

Sejak mendapat kucuran dana segar dari Roman Abramovich Chelsea menjelma menjadi raksasa Liga Inggris. Dengan bermaterikan pemain berlabel bintang The Blues mampu menjuarai Premier League sebanyak lima kali yakni pada 2005, 2006, 2010, 2015, 2017. (AFP/Carl De Souza)

Pochettino tetap mengakui Chelsea tampil luar biasa pada musim tersebut. Namun, ia mempertanyakan apakah persaingan berlangsung dengan kondisi yang benar-benar setara.

"Kami bisa mengatakan mereka mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Oke. Tetapi sangat wajar jika kami mengatakan bahwa sebelum musim dimulai, kami tidak bertanding dengan kartu yang sama," lanjutnya.

"Jika menggunakan aturan yang sama, mungkin kami bisa merekrut beberapa pemain yang membuat tim lebih baik atau mencetak lebih banyak gol."

Pelatih Timnas Amerika Serikat itu bahkan menegaskan akan mengatakan hal yang sama jika Tottenham berada dalam posisi Chelsea.

"Saya tidak ragu dan tidak takut mengatakan kebenaran. Fans Chelsea mungkin akan marah kepada saya. Tetapi jika kami berada di Tottenham dan melanggar aturan, saya juga akan mengakui hal yang sama, kami tidak layak mendapatkan gelar karena kami melanggar aturan," kata Pochettino.

 


Tak Bermaksud Remehkan Chelsea

Pelatih Timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, memimpin anak asuhnya menghadapi Paraguay pada laga perdana Grup D Piala Dunia 2026 di SoFi Stadium, Inglewood, Sabtu (13/6/2026) pagi WIB. Dalam duel itu, Amerika Serikat menang 4-1 atas Paraguay. (AFP/Patrick T. Fallon)

Ia kemudian menggunakan perumpamaan dalam sepak bola untuk menggambarkan pentingnya kesetaraan aturan.

"Mustahil jika hanya beberapa klub bermain dengan aturan offside, sementara klub lain tidak. Atau satu klub bermain dengan VAR dan klub lainnya tidak menggunakan VAR," ujar Pochettino. 

"Semua orang harus bermain dengan aturan yang sama. Setelah itu, barulah setiap klub memiliki kesempatan membangun tim terbaik."

Pochettino kembali menegaskan bahwa komentarnya bukan bermaksud meremehkan pencapaian Chelsea maupun Antonio Conte.

"Saya tidak mengatakan Chelsea tidak bermain bagus atau Conte bukan pelatih hebat. Saya tidak mengatakan itu. Saya tidak ingin pesan saya dipelintir," ujar Pochettino. 

"Tetapi jika Anda melanggar aturan, maka ciao. Gelar harus diberikan kepada tim lain. Saya tidak tahu mengapa hal itu tidak terjadi."

"Yang sedang dipromosikan dan diberi insentif adalah melanggar aturan," sambung dia. 

Pochettino kini masih menangani Timnas Amerika Serikat. Ia juga baru saja menandatangani perpanjangan kontrak yang membuatnya bertahan hingga Piala Dunia 2030.

Sumber: AFP

Berita Terkait