Juventus Tumbang dari Sassuolo, Luciano Spalletti Mengakui Bianconeri Kehilangan Keseimbangan

Juventus yang sebelumnya hanya kebobolan satu gol dalam tiga pertandingan awal Serie A, kali ini harus memungut bola dari gawang sendiri sebanyak tiga kali.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 14 September 2026, 07:30 WIB
Duel Sassuolo vs Juventus di Serie A Liga Italia, Senin (14/9/2026) dini hari WIB. (Massimo Paolone/LaPresse via AP)

Bola.com, Jakarta - Juventus harus menelan kekalahan dramatis 2-3 dari Sassuolo pada lanjutan Serie A di Mapei Stadium. Pelatih Luciano Spalletti mengakui timnya kehilangan keseimbangan karena bernafsu mengejar kemenangan.

Pertandingan berlangsung liar. Juventus yang sebelumnya hanya kebobolan satu gol dalam tiga pertandingan awal Serie A, kali ini harus memungut bola dari gawang sendiri sebanyak tiga kali.

Advertisement

Bianconeri bahkan dua kali mampu menyamakan kedudukan. Edon Zhegrova menjadi bintang Juventus dengan mencetak dua gol pertamanya sejak mengenakan jersey klub tersebut.

Namun, Sassuolo akhirnya memastikan kemenangan melalui gol Sebastiano Esposito, Kieron Bowie, dan Vasilije Adzic yang tercipta lewat sentuhan terakhir pertandingan.

Ironisnya, Adzic merupakan pemain Juventus yang sedang menjalani masa peminjaman di Sassuolo.


Spalletti Akui Juventus Terlalu Bernafsu Menyerang

Pelatih Juventus Luciano Spalletti mengamati jalannya pertandingan pada laga fase liga Liga Champions antara Monaco vs Juventus di Monaco, Rabu, 28 Januari 2026. (AP Photo/Philippe Magoni)

Luciano Spalletti mengakui Juventus sebenarnya memiliki peluang untuk membalikkan keadaan dan bahkan memenangkan pertandingan.

Namun, keinginan besar meraih tiga poin justru membuat timnya kehilangan keseimbangan.

"Sakit rasanya karena tim sebenarnya bisa memenangkan pertandingan pada akhirnya dan pantas membalikkan keadaan. Namun, jelas kami kehilangan keseimbangan dan hal itu seharusnya tidak terjadi," ujar Spalletti kepada DAZN Italia.

"Kami memiliki delapan pemain yang maju untuk menyerang bola sehingga meninggalkan celah besar di belakang. Padahal, kami punya peluang untuk menang 3-2 sebelumnya," lanjutnya.

Spalletti bahkan mengakui dirinya ikut bertanggung jawab karena terus mendorong para pemain untuk mengejar kemenangan.

"Para pemain berpikir mereka bisa menang dan saya adalah orang yang mendorong mereka untuk terus maju dan menang. Namun, mungkin mereka terlalu mengartikan instruksi saya secara harfiah dan semua pemain langsung ikut menyerang secara bersamaan," katanya.

Menurut Spalletti, keinginan untuk menang tetap merupakan hal positif. Namun, Juventus harus mampu menjaga struktur permainan.

"Kami harus mengambil sisi positif dari keinginan untuk menang dengan segala cara. Saya pikir mereka menciptakan situasi untuk membalikkan keadaan dan meraih tiga poin. Namun, kami berada di penghujung pertandingan dan terlalu kehilangan keseimbangan," tegasnya.


Lini Belakang Juventus Jadi Sorotan

Duel Sassuolo kontra Juventus dalam laga giornata keempat Serie A Liga Italia di Mapei Stadium, Senin (14/9/2026) dini hari WIB. Sassuolo menang 3-2 dalam pertandingan tersebut. (Massimo Paolone/LaPresse via AP)

Salah satu masalah Juventus terlihat jelas pada proses gol pertama Sassuolo. Bianconeri gagal menjalankan jebakan offside dan terlihat pasif setelah situasi lemparan ke dalam.

Spalletti tidak mencari alasan dan mengakui pertahanan Juventus memang harus bertanggung jawab.

"Kami tidak cukup agresif dan kemudian garis pertahanan terlalu tinggi sehingga meninggalkan ruang. Kami harus mengakui kesalahan itu. Ini jelas sesuatu yang perlu kami perbaiki," ucapnya.

Situasi tersebut menjadi semakin sulit karena Juventus tengah menghadapi krisis cedera.

Sejumlah pemain penting absen, termasuk Manuel Locatelli, Jeremie Boga, Weston McKennie, Andrea Cambiaso, Kenan Yildiz, Khephren Thuram, Jeff Ekhator, dan Juan Cabal.

Kondisi itu membuat Spalletti harus memutar otak untuk menjaga keseimbangan tim, terutama ketika pertandingan memasuki fase krusial.


Spalletti Menyoroti Randal Kolo Muani

Pemain depan Juventus asal Prancis #20, Randal Kolo Muani, merayakan gol kedua timnya lewat tendangan penalti selama pertandingan Serie A Italia antara Como dan Juventus di Stadion Giuseppe Sinigaglia di Como, Italia, Sabtu dini hari WIB (8-2-2025). (Piero CRUCIATTI/AFP)

Selain lini belakang, Randal Kolo Muani juga belum mampu memberikan kontribusi maksimal dalam pertandingan tersebut.

Spalletti menilai Juventus sebenarnya harus lebih sering mencari Kolo Muani ketika lini tengah lawan dipenuhi pemain.

"Kami harus memberikan bola kepada Kolo Muani. Ketika lini tengah padat, itu berarti mereka bermain satu lawan satu, jadi kami perlu dia untuk menahan bola," ujar Spalletti.

"Namun, kami tidak cukup sering mencarinya. Meski pada beberapa kesempatan benar bahwa dia juga harus lebih bertekad."

Nick Woltemade yang masuk sebagai pemain pengganti sebenarnya memiliki kesempatan emas untuk membawa Juventus kembali unggul. Namun, sundulannya dari posisi bebas pada masa injury time justru melebar.

Peluang itu akhirnya menjadi salah satu momen yang disesalkan Juventus sebelum Adzic mencetak gol kemenangan Sassuolo melalui sentuhan terakhir pertandingan.


Edon Zhegrova Jadi Satu-Satunya Sisi Positif

Di tengah kekecewaan, Spalletti tetap menemukan satu hal positif: Edon Zhegrova.

Pemain yang sempat diperkirakan bakal meninggalkan Juventus pada musim panas tersebut justru tampil gemilang.

Zhegrova mencetak dua gol, sekaligus mengakhiri penantian panjang untuk mencetak gol dalam pertandingan kompetitif. Sebelumnya, ia terakhir kali mencetak gol pada November 2024.

Spalletti menilai kemampuan Zhegrova dalam melewati pemain lawan menjadi senjata utama Juventus.

"Inilah kekuatan Zhegrova. Dia menjadi tidak terduga dan sulit dihentikan ketika berhadapan satu lawan satu," kata Spalletti.

Meski demikian, sang pelatih tetap melihat ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

"Dia terkadang terlalu lama memegang bola dan tidak cukup cepat memberikan umpan. Dalam satu situasi, Kalulu bahkan menunggu bola darinya. Dia juga tidak mengejar pemain lawan ketika berada di sisi lapangan," jelasnya.

"Tetapi jika Anda menyerang dan hanya berada di area pertahanan lawan, Zhegrova adalah pemain yang luar biasa."

Kekalahan tersebut juga membuat Spalletti harus mengakui keunggulan tim yang kini dilatih Alberto Aquilani, mantan pemainnya ketika masih menangani AS Roma.

"Aquilani sudah memiliki kualitas ketika masih bermain dan saya mengenali visi tersebut dalam timnya hari ini," ujar Spalletti.

Namun, Spalletti kembali menegaskan penyesalannya: Juventus sebenarnya memiliki peluang untuk memenangkan pertandingan, tetapi kehilangan keseimbangan karena terlalu bernafsu mengejar kemenangan.

Sumber: Football Italia

Berita Terkait