7 Rekrutan Terburuk di Liga Inggris: Bintang MU dan Chelsea Mendominasi, Nomor Satu Dilabeli Pemain Palsu

Berikut nama-nama yang masuk dalam daftar rekrutan terburuk Liga Inggris yang dinilai tidak memiliki pembenaran yang cukup.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 13 Oktober 2026, 09:15 WIB
Sempat kesulitan tampil maksimal di lini serang MU, Jadon Sancho mulai nyetel saat kehadiran Ralf Rangnick. Sejak bergabung pada musim panas tahun 2021, ia diketahui telah mencetak lima gol dan tiga assist dari 33 penampilan untuk Setan Merah. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Jakarta - Dalam sepak bola Eropa, terdapat dua jendela transfer setiap musim, yakni pada musim panas dan musim dingin. Periode tersebut menjadi kesempatan bagi klub untuk mendatangkan pemain yang masih terikat kontrak dengan klub lain. Sementara itu, pemain berstatus bebas transfer bisa direkrut kapan saja sepanjang musim.

Klub juga memiliki dua opsi dalam mendatangkan pemain, yakni membelinya secara permanen atau meminjamnya untuk jangka waktu tertentu.

Advertisement

Dengan perputaran uang yang begitu besar dalam sepak bola modern, bursa transfer kerap menjadi ajang bagi klub untuk menggelontorkan dana hingga jutaan poundsterling demi memperkuat skuad. Namun, tidak semua investasi berakhir manis.

Di antara berbagai kompetisi elite Eropa, Liga Inggris bisa dibilang menjadi salah satu liga yang memiliki catatan transfer mengecewakan. Sejumlah klub pernah mengeluarkan uang dalam jumlah fantastis untuk merekrut pemain yang pada akhirnya gagal memberikan kontribusi sesuai harapan.

Menentukan sebuah transfer sebagai perekrutan terburuk bukan perkara mudah. Ada empat faktor utama yang menjadi pertimbangan, yakni harga transfer, ekspektasi terhadap pemain, performa di lapangan, serta lamanya pemain bertahan di klub.

Dalam sejumlah kasus, satu atau dua faktor yang mengecewakan masih bisa ditutupi oleh aspek lainnya. Harga mahal, misalnya, bisa dianggap sepadan jika sang pemain mampu tampil gemilang atau memberikan kontribusi besar dalam jangka panjang.

Namun, nama-nama yang masuk dalam daftar rekrutan terburuk ini dinilai tidak memiliki pembenaran yang cukup.


7. Danny Drinkwater: Rp808 Miliar ke Chelsea

Gelandang Leicester, Danny Drinkwater, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Liverpool pada laga Premier League di Stadion King Power, Leicester, Senin (27/2/2017). (AFP/Adrian Dennis)

Saat bergabung dengan Chelsea, Danny Drinkwater tengah berada di puncak kariernya. Gelandang asal Inggris itu baru saja membantu Leicester City menjuarai Premier League dan bahkan berada di ambang mendapatkan tempat di skuad Timnas Inggris.

Namun, kepindahan tersebut justru menjadi awal kemunduran kariernya. Drinkwater kini berusia 36 tahun dan telah memutuskan pensiun dari sepak bola pada Oktober 2023.

Drinkwater juga pernah mengungkapkan pengalaman kurang menyenangkan selama berseragam Chelsea. Ia mengklaim manajer saat itu, Maurizio Sarri, pernah berusaha mendepaknya pada jam-jam terakhir bursa transfer. Namun, sang gelandang menolak pindah klub.

Dalam podcast High Performance, Drinkwater turut mengakui kerap berpesta selama membela Chelsea. Ia menyebut kebiasaan tersebut menjadi pelarian dari berbagai persoalan yang tengah dihadapinya dalam kehidupan profesional.

Catatan statistiknya bersama The Blues jauh dari harapan. Direkrut pada 2017, Drinkwater bertahan hingga 2022, tetapi hanya mencatatkan 12 penampilan, satu gol, dan nol assist.

Transfer yang semula diharapkan memperkuat lini tengah Chelsea itu akhirnya menjadi salah satu periode paling mengecewakan dalam perjalanan kariernya.


6. Mykhailo Mudryk: Rp2,1 Triliun ke Chelsea

Gelandang Chelsea, Mykhailo Mudryk mengontrol bola saat bertanding melawan Borussia Dortmund selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Signal Iduna Park, Jeramn, Kamis (16/2/2023). Dortmund menang atas Chelsea dengan skor tipis 1-0. (AP Photo/Martin Meissner)

Chelsea menggelontorkan dana 88,5 juta poundsterling (Rp2,1 triliun) untuk merekrut Mykhailo Mudryk pada Januari 2023. Kedatangan winger asal Ukraina itu semula dianggap sebagai transfer besar yang menunjukkan ambisi The Blues.

Nama Mudryk mencuat setelah tampil impresif bersama Shakhtar Donetsk. Arsenal dan Brentford sempat memburu tanda tangannya sebelum Chelsea memenangkan persaingan. Ia kemudian menandatangani kontrak berdurasi delapan tahun dengan gaji fantastis.

Namun, perjalanan Mudryk di Stamford Bridge jauh dari kata mulus, baik di dalam maupun luar lapangan.

Sejak awal, Mudryk kesulitan beradaptasi dengan intensitas dan kerasnya persaingan di Premier League. Pada musim pertamanya, ia hanya mampu menyumbangkan beberapa assist tanpa mencetak gol. Pengambilan keputusan yang kurang tepat serta minimnya kontribusi akhir menjadi sorotan.

Masalah yang lebih besar datang pada Desember 2024. Mudryk dijatuhi skorsing sementara setelah sampel yang diambil dua bulan sebelumnya menunjukkan hasil positif meldonium, zat yang masuk dalam daftar terlarang.

Ia kemudian dijatuhi larangan bermain selama empat tahun. Namun, hukuman tersebut dibatalkan pada 2026 setelah ia berhasil mengajukan banding.

Meski demikian, masa depannya di Chelsea tetap tidak menentu. Pelatih Xabi Alonso dikabarkan tidak memasukkan Mudryk dalam rencananya. Pada hari terakhir bursa transfer, sang winger akhirnya bergabung dengan Tottenham Hotspur melalui kesepakatan peminjaman.

Statistik Mudryk bersama Chelsea sejak 2023 menunjukkan ia telah mencatatkan 73 penampilan dengan torehan 10 gol dan 11 assist. Catatan tersebut menjadi sorotan mengingat besarnya dana yang dikeluarkan Chelsea untuk memboyongnya dari Shakhtar Donetsk.


5. Romelu Lukaku: Rp2,31 Triliun ke Chelsea

Romelu Lukaku meninggalkan Inter Milan dan kembali ke Chelsea pada awal musim 2021/2022. The Blues merekrut Lukaku dengan biaya yang mencapai 115 juta euro. Namun, kembalinya Lukaku ke Stamford Bridge tidak berjalan sesuai rencana. Penyerang asal Belgia tersebut mengalami kesulitan di bawah asuhan Thomas Tuchel. Lukaku tidak betah di Chelsea dan akhirnya kembali ke Inter pada musim panas ini. Lukaku balik ke Giuseppe Meazza dengan status pinjaman selama semusim ke depan. (AFP/Marco Bertorello)

Romelu Lukaku kembali ke Chelsea pada 2021 dengan nilai transfer yang memecahkan rekor klub. Setelah sukses menjuarai Liga Champions, The Blues berharap kehadiran striker asal Belgia itu bisa menjadi kepingan terakhir untuk membawa mereka meraih gelar Premier League.

Awal perjalanan Lukaku bersama Chelsea sempat menjanjikan. Dalam beberapa pertandingan pertamanya, ia menunjukkan potensi besar dan membuat The Blues terlihat sebagai salah satu penantang serius Manchester City dalam perburuan gelar liga.

Namun, performanya kemudian menurun. Menurut laporan The Athletic, minimnya waktu berlatih bersama tim selama pramusim membuat Lukaku kesulitan mencapai kebugaran optimal sekaligus membangun chemistry dengan rekan-rekan setimnya.

Investasi besar Chelsea pun tidak sebanding dengan kontribusi yang diberikan sang striker. Lukaku hanya mencetak delapan gol dari 26 penampilan di Premier League pada periode tersebut.

Pada musim panas 2024, Lukaku bergabung dengan Napoli. Kepindahan tersebut sekaligus menandai akhir dari periode sulitnya bersama Chelsea dan perjalanan yang penuh pasang surut di Inggris.

 


4. Antony: Rp1,92 Triliun ke Manchester United

Gelandang Manchester United Antony. (Oli SCARFF / AFP)

Erik ten Hag punya kebiasaan merekrut pemain yang pernah bekerja sama dengannya di klub sebelumnya. Lisandro Martinez menjadi contoh sukses dari strategi tersebut di Manchester United. Namun, kisah berbeda justru dialami Antony.

MU menggelontorkan dana lebih dari 80 juta poundsterling untuk memboyong winger asal Brasil itu dari Ajax Amsterdam. Nilai transfer tersebut menjadi sorotan karena Antony hanya mencetak delapan gol di liga pada musim sebelumnya bersama klub Belanda tersebut.

Keputusan merekrut Antony dengan harga selangit akhirnya menjadi salah satu transfer yang banyak dipertanyakan di Old Trafford. Manchester United memang memiliki catatan perekrutan pemain yang kurang memuaskan dalam satu dekade terakhir, dan Antony termasuk nama yang mendapat sorotan tajam.

Kontribusinya di Premier League jauh dari ekspektasi. Selama membela Setan Merah pada periode 2022–2025, Antony hanya mencatatkan lima gol dan tiga assist dari 62 penampilan di kompetisi tersebut.

Minimnya kontribusi itu membuat masa depannya di Manchester United semakin tidak menentu. Antony akhirnya meninggalkan Old Trafford dan bergabung dengan Real Betis pada hari terakhir bursa transfer.

 


3. Jadon Sancho: Rp1,72 Triliun ke Manchester United

Pemain Manchester United, Jadon Sancho memberikan tepuk tangan setelah laga lanjutan Liga Inggris 2022/2023 melawan Leeds United di Old Trafford, Manchester, 8 Februari 2023. Sancho tercatat sebagai pemain dengan gaji tertinggi di Liga Inggris. Pria berkebangsaan Inggris tersebut diketahui menerima upah sebesar 373.750 pounds per pekan. (AFP/Oli Scarff)

Kedatangan Jadon Sancho ke Manchester United pada 2021 semula dipandang sebagai langkah besar untuk mengembalikan kejayaan Setan Merah. Dengan reputasinya sebagai salah satu penyerang muda elite Eropa, Sancho diharapkan mampu menambah daya gedor sekaligus menjadi bagian penting dalam proyek kebangkitan klub.

Namun, kenyataan di Old Trafford jauh dari ekspektasi. Masalah sikap, kepercayaan diri yang naik turun, serta perselisihan berulang dengan manajer Erik ten Hag membuat Sancho kerap tersisih dari tim utama.

Performa Sancho juga tidak pernah menyamai pencapaiannya ketika bermain di Jerman bersama Borussia Dortmund. Pada musim 2019/2020, ia tampil tajam dengan torehan 17 gol dan 16 assist, sebuah catatan yang membuat Manchester United rela mengeluarkan dana besar untuk merekrutnya.

Sayangnya, potensi tersebut gagal terwujud secara konsisten di Premier League. Sancho kemudian menjalani sejumlah masa peminjaman, termasuk kembali ke Borussia Dortmund serta memperkuat Chelsea dan Aston Villa. Namun, periode-periode tersebut tidak cukup untuk menghidupkan kembali kariernya di Manchester United.

Setelah lima tahun membela Setan Merah, Sancho akhirnya meninggalkan klub dengan status bebas transfer pada 2026.

 


2. Ricky Alvarez: Rp224 Miliar ke Sunderland

Ricky Alvarez. Didatangkan Sunderland dari Inter Milan pada awal musim 2014/2015 sebagai pinjaman dengan opsi permanen jika Sunderland lolos dari degradasi. Hanya tampil dalam 8 partai Premier League karena mengalami cedera dan kebugaran yang buruk. (AFP/Lindsey Parnaby)

Kisah transfer Ricky Alvarez mungkin tidak terlalu sering dibicarakan ketika membahas perekrutan terburuk dalam sejarah Premier League. Namun, keputusan Sunderland merekrut gelandang asal Argentina itu menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah transfer bisa berujung kerugian finansial yang sangat besar.

Alvarez bergabung dengan Sunderland melalui kesepakatan pinjaman dari Inter Milan pada 2014. Dalam perjanjian tersebut, Sunderland wajib mempermanenkan sang pemain apabila berhasil bertahan di Premier League.

The Black Cats memenuhi target tersebut dan terhindar dari degradasi. Konsekuensinya, mereka harus membayar biaya transfer sesuai kesepakatan.

Namun, Sunderland menolak memenuhi kewajiban itu. Klub beralasan Alvarez sudah memiliki masalah pada lutut kirinya sebelum bergabung dan mengalami persoalan baru pada lutut kanan. Menurut mereka, kondisi tersebut seharusnya membatalkan kewajiban pembayaran.

Alvarez akhirnya bergabung dengan Sampdoria secara gratis. Meski demikian, Sunderland tetap diperintahkan membayar biaya transfer sebesar 9,5 juta poundsterling.

Artinya, Sunderland harus mengeluarkan uang jutaan poundsterling untuk pemain yang tidak lagi mereka miliki. Situasi itu semakin merugikan karena biaya pembayaran tersebut ditambah pengeluaran untuk menghadapi proses sengketa.

Menurut laporan Daily Mail, total biaya yang harus ditanggung Sunderland akibat transfer Alvarez mendekati 20 juta poundsterling. Jika dikonversikan dengan kurs perkiraan Rp20.000 per poundsterling, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp400 miliar.

Dari sisi statistik, kontribusi Alvarez di Premier League bersama Sunderland juga sangat minim. Pada 2015, ia hanya mencatatkan 13 penampilan tanpa mencetak gol maupun memberikan assist.

 


1. Ali Dia: Gratis ke Southampton

Kisah Ali Dia menjadi salah satu cerita paling absurd dalam sejarah Premier League. Hanya bermodalkan pengakuan palsu dan sebuah panggilan telepon, pria yang minim pengalaman sepak bola profesional itu berhasil mendapatkan kontrak dari Southampton hingga mencicipi pertandingan kasta tertinggi Liga Inggris.

Kisah ini bermula ketika seseorang menelepon Southampton dan mengaku sebagai George Weah, mantan pemain kelas dunia yang pernah meraih penghargaan Pemain Terbaik Dunia. Tidak berhenti sampai di situ, penelepon tersebut bahkan merekomendasikan Ali Dia agar direkrut oleh The Saints.

Orang yang menyamar sebagai Weah itu mengklaim bahwa Dia pernah bermain bersamanya di Paris Saint-Germain (PSG), mencetak dua gol untuk Timnas Senegal pada pekan sebelumnya, serta memiliki pengalaman bermain di divisi kedua Liga Jerman.

Namun, seluruh cerita tersebut ternyata bohong.

Dia yang saat itu berusia 31 tahun sebenarnya merupakan mahasiswa yang paling jauh hanya pernah bermain sepak bola semi-profesional. Ia sama sekali tidak memiliki rekam jejak seperti yang diceritakan dalam panggilan telepon tersebut.

Anehnya, manajer Southampton saat itu, Graeme Souness, mempercayai rekomendasi tersebut. Dia kemudian dipanggil untuk menjalani uji coba sebelum mendapatkan kontrak.

Kesempatan yang didapat Dia bahkan melampaui ekspektasi. Ia masuk bangku cadangan dan akhirnya dimainkan dalam sebuah pertandingan Premier League.

Namun, penampilannya tidak berlangsung lama. Setelah 53 menit berada di lapangan, Dia ditarik keluar. Southampton mulai menyadari bahwa pemain yang mereka rekrut ternyata jauh dari gambaran yang sebelumnya disampaikan.

Petualangan Dia di Southampton hanya berlangsung sekitar satu pekan pada 1996. Ia tercatat hanya tampil sekali di Premier League tanpa mencetak gol maupun memberikan assist.

Kisah ini menjadi salah satu cerita paling sulit dipercaya dalam sepak bola Inggris: seorang pemain yang mendapatkan kesempatan tampil di Premier League setelah klub merekrutnya berdasarkan rekomendasi palsu melalui telepon.

Sumber: Give Me Sport

 

Berita Terkait