DNA Raja Eropa Menyelamatkan Real Madrid, tetapi Sampai Kapan?

Real Madrid kembali menang 4-3 atas AS Roma namun wajah tim belum banyak berubah; Mourinho lebih piawai mengalihkan sorotan, sementara sanksi Vinicius jadi isu.

BolaCom | Harley IkhsanDiterbitkan 15 Oktober 2026, 17:09 WIB
Reaksi penyerang Real Madrid Prancis #10, Kylian Mbappe. selama Liga Champions UEFA - pertandingan putaran pertama hari ke-2 antara AS Roma dan Real Madrid di Stadion Olimpiade di Roma pada 15 Oktober 2026. (Filippo MONTEFORTE/AFP)

Bola.com, Jakarta - Real Madrid kembali menunjukkan kapasitasnya meraih hasil meski permainan kolektif belum stabil. Kemenangan 4-3 atas AS Roma terjadi pada Matchday 2 Liga Champions 2026/2027 di Stadio Olimpico, Kamis (15/10/2026) dini hari WIB.

Los Blancos sempat terpuruk usai tertinggal 1-3, sebelum membalas dengan tiga gol dalam rentang tujuh menit untuk memastikan kemenangan. "Real Madrid’s immortality strikes again in stunning comeback against Roma," tulis Diario AS menyikapi pertandingan tersebut.

Advertisement

Status sebagai pengoleksi gelar terbanyak kompetisi dengan 15 trofi memang menegaskan sejarah panjang klub di Liga Champions, tetapi pertanyaan soal keberlanjutan faktor tersebut tetap mengemuka. Dua musim terakhir tidak menghasilkan trofi utama, sementara gelar FIFA Intercontinental Cup dan Supercopa de Espana pada 2025/2026 merupakan pengecualian karena keduanya melibatkan sedikit pertandingan.


Diselamatkan Oleh Kualitas Individu

Selebrasi pemain Real Madrid saat mempermalukan Roma di Liga Champions (AFP)

Kenyataannya, wajah Real Madrid musim ini masih mirip dengan periode sebelumnya; perbedaan signifikan belum terlihat pada permainan kolektif. Penampilan tim kerap tidak konsisten, dan kemenangan sering ditopang oleh kualitas individu.

Contoh karakteristik itu terlihat di Olimpico, di mana tiga gol terakhir yang mengubah skor ke 4-3 tercipta dari situasi sepak pojok. Kontribusi pemain-pemain kunci jadi penentu, mulai dari trio lini depan (Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham) hingga palang pintu terakhir Thibaut Courtois.

Jose Mourinho, yang baru memasuki periode kedua sebagai pelatih, belum memiliki banyak waktu untuk menerapkan perubahan besar pada gaya permainan Real Madrid. Nakhoda asal Portugal itu lebih dikenal dengan pendekatan pragmatisme hasil ketimbang gaya permainan indah.


Cerdik Mengalihkan Perhatian

Pemain Real Madrid Endrick merayakan gol ketiga timnya dalam pertandingan fase liga Liga Champions melawan AS Roma di Roma, Italia, Kamis (15/10/2026). (AP Photo/Alessandra Tarantino)

Selama Los Blancos terus meraih kemenangan, persoalan struktur dan permainan tim cenderung tidak menjadi sorotan utama publik. Pengalaman Mourinho sebagai pelatih memungkinkan dia mengarahkan fokus media dan publik ke isu lain.

Contoh paling dekat terlihat saat Real Madrid susah payah menang 1-0 atas Villarreal di Liga Spanyol; perhatian justru tertuju pada langkah Mourinho yang memboikot konferensi pers usai pertandingan. Eks nakhoda Manchester United itu mengaku takut salah bicara sehingga dilarang mendampingi tim, mengingat El Clasico versus Barcelona (25 Oktober) sudah di depan mata.

Selepas laga melawan Roma, Mourinho kembali mengalihkan perhatian dengan menyorot keputusan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) yang menjatuhkan larangan bermain empat laga kepada Vinicius Junior akibat kartu merah saat bertemu Villarreal. "Mereka tidak bisa melakukannya besok pagi, tapi dua jam sebelum pertandingan?" sindir Mourinho menyindir momen pengumuman sanksi Vinicius.

Dengan pengalihan isu semacam itu, fokus publik sering bergeser dari kekurangan permainan tim ke kontroversi luar lapangan atau manuver manajerial, setidaknya sampai hasil di lapangan kembali dipertanyakan secara keras.

Berita Terkait