Bola.com, Jakarta - Real Madrid kembali menunjukkan karakter pantang menyerah setelah meraih kemenangan dramatis 4-3 atas AS Roma di Liga Champions pada tengah pekan lalu. Namun, di balik hasil positif itu, sejumlah keputusan taktik Jose Mourinho justru menjadi sorotan.
Jose Mourinho mendapatkan apresiasi karena mampu melakukan penyesuaian yang membantu Real Madrid membalikkan keadaan. Meski demikian, pendekatan awal pelatih asal Portugal tersebut dinilai terlalu konservatif dan kurang efektif menghadapi tekanan agresif Roma.
Sejumlah pemain yang memiliki kemampuan membangun serangan dari lini belakang, seperti Arda Guler, Bernardo Silva, Trent Alexander-Arnold, dan Dean Huijsen, justru memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Keputusan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai strategi Madrid dalam menghadapi lawan dengan intensitas pressing tinggi.
Perubahan Mourinho Berhasil, tetapi Strategi Awal Dipertanyakan
Mourinho layak mendapatkan kredit atas perubahan yang dilakukannya pada babak kedua. Pergantian pemain dan penyesuaian taktik membantu Real Madrid bangkit setelah kesulitan menghadapi permainan AS Roma.
Namun, keputusan itu juga memperlihatkan kelemahan dalam pendekatan awal sang pelatih. Real Madrid dinilai terlalu lambat mengantisipasi tekanan lawan sehingga harus melakukan perubahan dalam situasi mendesak.
Dalam analisis yang dituliskan Managing Madrid, pergantian pemain Mourinho disebut kerap menyerupai langkah darurat setelah rencana awalnya tidak berjalan sesuai harapan.
Strategi reaktif tersebut memang bisa menghasilkan kebangkitan ketika pemain pengganti memiliki cukup waktu untuk memberikan pengaruh.
Namun, pendekatan serupa tidak selalu berhasil dalam pertandingan lain, termasuk ketika menghadapi Real Betis dan Atletico Madrid.
Persoalannya bukan semata-mata keputusan mengganti pemain, melainkan bagaimana Mourinho menyusun komposisi awal untuk menghadapi karakter lawan.
Menghadapi tim dengan pressing agresif seperti AS Roma, Madrid seharusnya memiliki cukup pemain yang mampu mengalirkan bola dan keluar dari tekanan.
Arda Guler dan Trent Alexander-Arnold Seharusnya Dapat Kesempatan
Salah satu kritik terbesar diarahkan kepada keputusan Mourinho mencadangkan empat pemain yang dinilai memiliki kemampuan penting dalam progresi bola, yakni Arda Guler, Bernardo Silva, Trent Alexander-Arnold, dan Dean Huijsen.
Absennya mereka dari susunan pemain inti membuat Madrid kehilangan sejumlah opsi untuk membawa bola melewati lini tekanan lawan.
Duet Fede Valverde dan Aurelien Tchouameni di lini tengah juga menjadi bahan perdebatan.
Keduanya dinilai belum mampu memberikan keseimbangan yang diharapkan, terutama ketika Madrid harus membangun serangan dari belakang.
Valverde dianggap kurang aktif menawarkan diri dalam fase pembangunan serangan, sedangkan kemampuan Tchouameni dalam menguasai dan mendistribusikan bola dinilai belum cukup untuk menutupi persoalan tersebut.
Memang, Trent memiliki kelemahan dalam bertahan dan Bernardo Silva tidak lagi berada pada level terbaiknya seperti beberapa tahun lalu.
Namun, kemampuan Trent dalam mengalirkan bola tetap sangat berharga bagi komposisi skuad Madrid saat ini.
Arda Guler juga menjadi perhatian khusus. Pemain asal Turki itu dinilai memiliki kreativitas yang sangat dibutuhkan Madrid dan seharusnya tidak terus-menerus memulai pertandingan besar dari bangku cadangan.
Melawan tim yang menerapkan penjagaan satu lawan satu dan pressing agresif, kehadiran pemain kreatif dengan kemampuan menemukan ruang bisa menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran serangan.
Thibaut Courtois Kembali Dibebani Pertahanan Madrid
Thibaut Courtois juga mendapat perhatian dalam analisis pertandingan itu. Kiper asal Belgia itu selama bertahun-tahun kerap menjadi salah satu pemain paling menentukan bagi Real Madrid, terutama ketika lini pertahanan tidak tampil meyakinkan.
Namun, menghadapi AS Roma, Courtois kembali berada dalam situasi sulit ketika lawan menerapkan pressing tinggi dengan penjagaan satu lawan satu.
Tekanan itu membuat Courtois sering kali harus melepaskan umpan panjang untuk melewati lini pertama pressing Roma. Hasilnya, ia hanya berhasil menyelesaikan tiga dari 17 percobaan umpan panjang.
Situasi itu menimbulkan pertanyaan mengenai rencana permainan Madrid. Jika umpan panjang memang menjadi bagian dari strategi Mourinho, Madrid membutuhkan penyerang yang mampu menahan bola dan membantu rekan-rekannya naik ke area serangan.
Kylian Mbappe dinilai belum cukup konsisten dalam aspek itu. Beberapa kali, umpan vertikal Courtois cukup baik, tapi sentuhan pertama Mbappe tidak mampu mengoptimalkannya.
Masalah ini menunjukkan bahwa membangun serangan melawan pressing tinggi tidak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan penjaga gawang.
Tim juga membutuhkan struktur permainan yang jelas, pergerakan tanpa bola, serta pemain yang mampu memenangkan duel dan mempertahankan penguasaan bola.
Endrick dan Carlos Espi Layak Mendapat Peran Lebih Besar
Selain menyoroti pemain inti, analisis itu juga menilai Real Madrid perlu memberikan kesempatan lebih besar kepada Endrick dan Carlos Espi.
Keduanya dianggap bukan sekadar opsi darurat yang hanya dimainkan ketika tim berada dalam situasi sulit.
Mereka dinilai memiliki potensi untuk memberikan kontribusi lebih besar jika mendapatkan peran yang lebih konsisten.
Espi disebut mampu mencetak gol dengan produktivitas tinggi jika dihitung berdasarkan menit bermainnya.
Sementara itu, Endrick dinilai memiliki keberanian, agresivitas, dan kemauan untuk terus menekan pertahanan lawan.
Kualitas itu bisa menjadi alternatif bagi Real Madrid ketika membutuhkan energi baru di lini depan, terutama dalam pertandingan dengan intensitas tinggi.
Kemenangan 4-3 atas Roma pada akhirnya memperlihatkan dua sisi Real Madrid. Di satu sisi, tim ini tetap mampu bangkit dan membalikkan keadaan dalam pertandingan besar.
Sementara di sisi lain, keputusan pemilihan pemain dan strategi awal Jose Mourinho masih menyisakan sejumlah pertanyaan.
Bagi Real Madrid, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan kemampuan bangkit, melainkan menemukan pendekatan yang lebih efektif sejak menit pertama agar tidak terus bergantung pada perubahan taktik di tengah pertandingan.
Sumber: Managing Madrid