Juventus Kena Sentilan Menohok: Bukan Tim Juara, Hanya Dihuni Pemain Bagus

Juventus kena kritik pedas dari mantan penyerangnya, Zbigniew Boniek.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 Oktober 2026, 14:00 WIB
Para pemain Juventus bereaksi setelah kalah dalam pertandingan Serie A Italia antara Juventus dan Lazio di Allianz Stadium, Turin, pada 19 Oktober 2026. (Marco Bertorello/AFP)

Bola.com, Jakarta - Mantan penyerang Juventus, Zbigniew Boniek, menilai mantan klubnya itu belum menunjukkan kualitas yang cukup untuk bersaing dalam perburuan gelar Serie A.

Menurutnya, Juventus saat ini hanya memiliki pemain-pemain bagus, tetapi belum memiliki skuad dengan karakteristik tim juara.

Advertisement

Komentar Boniek muncul sehari setelah Juventus meraih kemenangan 2-0 atas Lecce, Senin dini hari WIB kemarin.

Dalam pertandingan tersebut, Weston McKennie dan Douglas Luiz mencetak gol pada babak pertama sekaligus mengakhiri penantian Bianconeri selama 35 hari untuk kembali memetik kemenangan di liga.

Tambahan tiga poin mengangkat Juventus ke peringkat ketujuh klasemen dengan koleksi 14 poin. Namun, hasil positif itu belum mengubah pandangan Boniek terhadap performa tim asuhan Luciano Spalletti.

Berbicara kepada Radio Anch'io Sport, seperti dilaporkan Gazzetta dello Sport, Boniek menyoroti perbedaan memiliki pemain berkualitas dan membangun tim yang mampu menjadi juara.

"Saya melihat dan mendengar berbagai kritik. Ada yang menginginkan Conte, ada pula yang mengkritik Spalletti. Saya hanya ingin mengatakan bahwa ketika menyaksikan Juventus, saya tidak melihat tim yang berisi para juara, melainkan sekadar pemain-pemain bagus. Itulah yang membuat perbedaan," ujar Boniek.

 

Cek klasemen terkini Liga Italia 2026/2027 di sini ya.


Bukan Dominasi Juventus

Weston McKennie dari Juventus merayakan gol pembuka timnya dalam pertandingan sepak bola Serie A antara Lecce dan Juventus di Lecce, Italia, Senin (26-10-2026) dini hari WIB. (Giovanni Evangelista/LaPresse via AP)

Ia juga menilai Juventus belum berada dalam persaingan utama untuk memperebutkan Scudetto.

Menurut Boniek, kondisi tim saat ini turut terlihat dari kesulitan yang mereka alami ketika bertanding di kompetisi Eropa.

Boniek tidak menganggap kemenangan atas Lecce sebagai bukti Juventus telah memperlihatkan permainan yang meyakinkan. Ia menyoroti proses terciptanya gol pembuka yang dinilainya turut dipengaruhi situasi di lapangan.

"Gol pertama tercipta dari tendangan bebas, sedikit karena faktor kebetulan, ketika penjaga gawang terkecoh oleh McKennie. Bukan berarti mereka mendominasi pertandingan," kata Boniek.

Ia juga membandingkan Juventus saat ini dengan tim yang pernah dikenalnya pada masa lalu.

"Pada masa lalu, mereka memiliki kualitas yang lebih baik," kata pria asal Polandia itu.


Sindir Cara Bicara Spalletti

Pelatih Juventus asal Italia, Luciano Spalletti (kiri), berbicara dengan bek Juventus asal Prancis bernomor punggung 15, Pierre Kalulu Kyatengwa, selama pertandingan Serie A Italia antara Juventus dan Lazio di stadion Allianz di Turin, Senin dini hari WIB. (Isabella BONOTTO/AFP)

Selain mengomentari kualitas tim, Boniek turut melontarkan gurauan mengenai gaya komunikasi Spalletti yang dikenal rumit.

Ia mengaku terkadang harus "membuka kamus" untuk memahami perkataan pelatih Juventus tersebut ketika menyaksikan wawancaranya di televisi.

"Dia sangat menuntut dan punya karakter yang khas. Saya sudah tinggal di Italia selama 44 tahun, tetapi ketika mendengarnya berbicara di televisi, saya harus membuka kamus untuk memahami apa yang dia katakan," ucap Boniek.

Boniek memiliki sejarah panjang bersama Juventus. Ia memperkuat klub Turin itu selama tiga musim pada era 1980-an dan berhasil meraih gelar Scudetto serta Piala Eropa.

Meski demikian, hubungannya dengan Juventus sempat merenggang sejak era Calciopoli.

Pada periode tersebut, Boniek secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap jajaran manajemen klub yang dipimpin Luciano Moggi.


Singgung Polemik Bintang di Stadion Juventus

Persoalan lain muncul pada 2010, ketika Boniek termasuk daftar 50 mantan pemain yang dipilih untuk mendapatkan bintang penghormatan di Juventus Stadium, yang kini dikenal sebagai Allianz Stadium.

Namun, penghargaan untuk Boniek tidak berlanjut setelah sejumlah kelompok suporter melayangkan protes.

Juventus kemudian menangguhkan pemberian bintang tersebut dan menggelar pemungutan suara ulang. Dalam hasil akhirnya, Edgar Davids mendapatkan bintang yang diperebutkan itu.

Boniek kembali menyinggung kejadian tersebut ketika menjelaskan komentarnya mengenai Juventus bukan semata-mata bentuk kritik terhadap klub yang pernah dibelanya.

"Saya tidak bermaksud mengkritik mantan tim saya. Tanpa perlu mengkritik mereka, Juventus pernah memberikan bintang di stadion kepada saya, lalu mengambilnya kembali," kata Boniek.

"Saya rasa cukup sampai di situ," ucapnya.

 

Sumber: Football Italia

Berita Terkait