Mengapa Jason Wilcox Dianggap Bertanggung Jawab Atas Krisis Manchester United Awal Musim 2026/2027?

Usai kalah 0-3 dari Bournemouth, suporter Manchester United meluapkan protes. Jason Wilcox disorot soal transfer, meski batas kewenangannya dipertanyakan.

BolaCom | Asad ArifinDiterbitkan 27 Oktober 2026, 15:28 WIB
CEO Manchester United, Omar Berrada (kanan), dan Direktur Sepak Bola, Jason Wilcox (tengah), duduk di antara penonton selama pertandingan Liga Inggris antara Burnley dan Manchester United di Turf Moor di Burnley, barat laut Inggris pada 7 Januari 2026. (Oli SCARFF/AFP)

Bola.com, Jakarta - Krisis Manchester United pada awal musim 2026/2027 tidak hanya menempatkan performa tim di bawah sorotan, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar mengenai arah pengelolaan klub. Nama Jason Wilcox, direktur sepak bola Setan Merah, kini menjadi pusat kemarahan suporter yang menuntut perubahan di tubuh manajemen.

Kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford pada Minggu menjadi titik ketika kekecewaan publik meledak secara terbuka. Saat pertandingan berjalan menuju akhir, sebagian besar pendukung tuan rumah meneriakkan nama Wilcox disertai kata-kata kasar, sebuah pesan keras yang diulang lebih dari sekali.

Advertisement

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa ketidakpuasan suporter tidak lagi terbatas pada hasil pertandingan atau performa para pemain di lapangan. Kebijakan transfer, keputusan strategis, dan minimnya komunikasi dari jajaran petinggi klub turut memunculkan keraguan terhadap kepemimpinan Wilcox.

Namun, menempatkan seluruh kesalahan Manchester United di pundak satu orang juga berisiko menyederhanakan persoalan yang lebih kompleks. Untuk memahami mengapa Wilcox menjadi sasaran utama, perlu dilihat bagaimana perannya berkembang, sejauh mana kewenangannya, serta keputusan-keputusan yang membentuk kondisi skuad Setan Merah saat ini.


Jason Wilcox Disorot Setelah Krisis Manchester United Memburuk

Gelandang Manchester United asal Kamerun bernomor punggung 19, Bryan Mbeumo (tengah), merayakan gol kelima timnya bersama rekan-rekan setim dalam pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Ipswich Town di Old Trafford, Manchester, Inggris barat laut, pada 30 Agustus 2026. (Paul ELLIS/AFP)

Wilcox bukan sosok asing dalam sepak bola Inggris. Mantan pemain sayap tim nasional Inggris itu pernah merasakan gelar Premier League bersama Blackburn Rovers pada musim 1994/1995 sebelum menapaki jalur karier di balik layar sepak bola profesional.

Ia bergabung dengan Manchester United pada April 2024 sebagai direktur teknis setelah menjalani 15 bulan dalam peran serupa di Manchester City. Sebelumnya, Wilcox juga bertanggung jawab atas akademi City, pengalaman yang memberinya bekal dalam pengembangan pemain dan pengelolaan aspek teknis klub.

Ketika Wilcox datang, United menyatakan bahwa ia akan menangani seluruh aspek teknis klub demi mencapai "standar performa tertinggi" dan bertanggung jawab kepada direktur olahraga. Akan tetapi, pemecatan Dan Ashworth pada Desember 2024 mengubah lanskap organisasi klub, setelah muncul perbedaan pendapat mengenai sosok yang seharusnya menggantikan Erik ten Hag sebagai manajer.

Sepuluh bulan setelah perubahan tersebut, rentetan hasil buruk dan ketidakpuasan terhadap aktivitas transfer membuat posisi Wilcox semakin disorot. Ketika persoalan di lapangan tak kunjung mereda, tanggung jawab di level manajemen pun menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas di kalangan suporter.

Salah satu persoalan utama terletak pada batas kewenangan Wilcox yang belum sepenuhnya diketahui publik. Ia disebut tidak memiliki kendali atas anggaran transfer, sebab keputusan mengenai besaran dana yang tersedia ditetapkan oleh pihak yang berada di tingkat lebih tinggi dalam struktur klub.


Kebijakan Transfer dan Minimnya Komunikasi Jadi Masalah

Para pemain Manchester United bereaksi setelah kebobolan gol keempat dalam pertandingan League Phase UEFA Champions League antara Como 1907 dan Manchester United di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Como, Italia bagian utara, pada 21 Oktober 2026. (PIERO CRUCIATTI/AFP)

Manchester United menghadapi sejumlah kendala yang memengaruhi kemampuan mereka bergerak di bursa transfer musim panas. Cedera Manuel Ugarte ketika membela Uruguay di Piala Dunia menggagalkan rencana penjualan gelandang tersebut, sehingga klub kehilangan peluang menambah dana melalui transaksi yang telah direncanakan.

United juga tidak dapat mengandalkan pemasukan dari potensi transfer Marcus Rashford ke Barcelona. Klub asal Spanyol itu membatalkan kesepakatan senilai £26 juta untuk merekrut penyerang tim nasional Inggris tersebut, yang turut memengaruhi ruang finansial United untuk belanja pemain dan membayar gaji.

Kedua persoalan itu mempersempit pilihan klub dalam menyusun skuad untuk musim 2026/2027. Namun, meski faktor eksternal dan keterbatasan anggaran patut diperhitungkan, pertanyaan mengenai prioritas perekrutan tetap relevan, terutama ketika beberapa posisi penting dinilai belum mendapatkan tambahan kekuatan yang memadai.

Keputusan Manchester United yang berfokus memperkuat lini tengah pada musim panas lalu menjadi salah satu sumber tanda tanya. Klub tidak mendatangkan pesaing bagi Luke Shaw di posisi bek kiri maupun pemain pendukung untuk Benjamin Sesko di lini depan, sementara alasan di balik prioritas tersebut belum dijelaskan secara terbuka.

Minimnya komunikasi Wilcox dengan media turut memperbesar ruang spekulasi. Ia memang jarang berbicara kepada wartawan, tetapi situasi ini membuat publik kesulitan memahami pertimbangan strategis yang mendasari keputusan transfer dan pembagian tanggung jawab di internal klub.

Sejak bergabung dengan United, Wilcox baru memberikan satu wawancara mendalam melalui siniar internal Inside United pada Oktober 2025. Sebulan sebelumnya, ia juga berbicara dalam acara makan malam untuk memperingati hari jadi ke-40 asosiasi mantan pemain Manchester United.

Sumber: BBC Sport


Klasemen Premier League 2026/2027

Berita Terkait