5 Pelatih Top yang Pernah Selamat dari Pemecatan: Sir Alex Ferguson hingga Luis Enrique

Sejumlah pelatih top pernah berada di ujung tanduk sebelum membalikkan keadaan.

BolaCom | Merisa AmandaDiterbitkan 29 Oktober 2026, 15:00 WIB
David Moyes ditunjuk langsung oleh Sir Alex Ferguson untuk menggantikan posisinya sebagai manajer Manchester United. Moyes mengawali musim yang sulit di Old Trafford karena tidak mendapatkan dukungan dari manajemen di bursa transfer. Hal tersebut membuatnya hanya bertahan 9 bulan. (AFP/Ian Macnicol)

Bola.com, Jakarta - Tekanan terhadap pelatih sepak bola bisa meningkat drastis ketika tim terus kehilangan poin. Namun, tidak semua periode buruk berakhir dengan pemecatan.

Beberapa pelatih justru mampu bangkit setelah mendapat kesempatan tambahan dari manajemen.

Advertisement

Planet Football, Rabu (28/10/2026), merangkum sejumlah pelatih yang pernah berada di ambang kehilangan pekerjaan, tetapi berhasil mengubah nasib lewat hasil penting.

Berikut lima nama paling terkenal yang menarik untuk disimak.


Sir Alex Ferguson - Manchester United

1. David Beckham (Manchester United) – Kekalahan dari Arsenal pada ajang Piala FA 2002-2003 membuat Sir Alex Ferguson mengamuk di ruang ganti. Mantan pemain Real Madrid ini menjadi korban salah sasaran dari amarah sang pelatih. (AFP/Odd Andersen)

Sir Alex Ferguson hampir kehilangan pekerjaannya setelah Manchester United menjalani periode sulit pada akhir 1980-an.

Setelah finis di posisi ke-11 pada musim 1988/1989, performa tim kembali tidak konsisten pada musim berikutnya.

Tekanan memuncak menjelang pertandingan Piala FA melawan Nottingham Forest pada Januari 1990. Kemenangan menjadi sangat penting bagi Ferguson untuk mempertahankan posisinya.

Gol Mark Robins pada menit ke-56 akhirnya membawa United menang 1-0.

Mereka kemudian menjuarai Piala FA, sementara Ferguson melanjutkan perjalanan menuju era kejayaan dengan 13 gelar Premier League dan dua trofi Liga Champions.


Mikel Arteta - Arsenal

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, berdiri di tepi lapangan saat pertandingan Liga Inggris melawan Manchester United di Emirates Stadium, Minggu (25/1/2026). (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Arteta menghadapi awal musim 2021/2022 yang buruk. Arsenal menelan tiga kekalahan beruntun di Premier League tanpa mencetak gol, termasuk dibantai Manchester City 0-5.

Meski begitu, manajemen tetap memberikan kepercayaan kepada pelatih asal Spanyol tersebut. Arsenal kemudian bangkit dengan mengumpulkan 20 poin dari delapan pertandingan berikutnya.

Perubahan hasil itu menjadi fondasi bagi proyek jangka panjang Arteta. Arsenal perlahan kembali bersaing di papan atas Premier League setelah beberapa musim sebelumnya kesulitan menjaga konsistensi.


Luis Enrique - Barcelona

Pelatih Barcelona, Luis Enrique, dan putrinya, Xana, melambaikan bendera setelah pertandingan Final Liga Champions UEFA antara Juventus dan FC Barcelona di Stadion Olimpiade di Berlin pada 6 Juni 2015. FC Barcelona memenangkan pertandingan dengan skor 1-3. (LLUIS GENELLUIS GENE/AFP)

Pada Januari 2015, masa depan Luis Enrique di Barcelona sempat menjadi sorotan. Hasil tim yang tidak konsisten dan laporan ketidakpuasan Lionel Messi membuat situasi di klub semakin panas.

Kemenangan atas Atletico Madrid menjadi titik balik penting. Barcelona kemudian tampil lebih solid dan menutup musim dengan meraih tiga gelar sekaligus, yakni La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions.

Keberhasilan itu mengubah persepsi terhadap Luis Enrique. Ia yang sempat diragukan justru membawa Barcelona menjalani salah satu musim paling sukses dalam sejarah klub.


David Moyes - West Ham United

David Moyes

Moyes berada dalam tekanan besar pada Januari 2023 ketika West Ham United terancam masuk zona degradasi.

West Ham akhirnya menang 2-0 atas Everton, memberi Moyes kesempatan untuk melanjutkan pekerjaannya. Tim tersebut perlahan menjauh dari zona berbahaya.

Lima bulan kemudian, Moyes membawa West Ham menjuarai UEFA Europa Conference League setelah mengalahkan Fiorentina di final.

Gelar itu menjadi pencapaian penting dalam perjalanan kepelatihannya bersama klub London tersebut.


Mauricio Pochettino - Tottenham Hotspur

Pelatih Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino memberikan instruksi kepadan anak asuhnya saat melawan Aston Villa pada aga FA Cup di White Hart Lane (8/1/2017). Tottenham menang 2-0. (AFP/Ben Stansall)

Pochettino sempat menghadapi tekanan ketika Tottenham Hotspur berada di papan bawah klasemen pada November 2014.

Permainan tim dinilai belum cukup menghasilkan kemenangan, sehingga posisi sang pelatih mulai dipertanyakan.

Momen penting datang saat Tottenham menghadapi Aston Villa. Harry Kane mencetak gol melalui tendangan bebas yang berbelok arah pada menit ke-84, memastikan kemenangan dramatis bagi Spurs.

Pochettino kemudian mengenang arti penting gol tersebut. “Bagi saya, gol itu luar biasa karena memberi kami semua kesempatan untuk tetap berada di sini hingga hari ini,” ujar Pochettino, seperti dikutip Planet Football, Rabu (28/10/2026).

Sumber: Planet Football

Berita Terkait