5 Masalah Besar MU yang Tak Akan Selesai Hanya dengan Memecat Michael Carrick

Berikut lima masalah besar yang harus dibenahi Manchester United.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 29 Oktober 2026, 07:45 WIB
Pelatih kepala Manchester United asal Inggris Michael Carrick memberi isyarat di tepi lapangan selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Bournemouth di Old Trafford di Manchester, barat laut Inggris, pada 25 Oktober 2026. (Darren Staples/AFP)

Bola.com, Jakarta - Masa depan Michael Carrick sebagai pelatih Manchester United kembali menjadi sorotan setelah rentetan hasil mengecewakan yang dialami Setan Merah. Meski mendapat dukungan dari manajemen, tekanan terhadap mantan kapten MU itu terus meningkat.

Kekalahan dari Bournemouth di Old Trafford semakin memperburuk situasi. Sebelumnya, Manchester United juga menelan kekalahan dari Como, Atletico Madrid, Brighton, Manchester City, dan Hull City. Mereka turut kehilangan poin setelah bermain imbang melawan Tottenham Hotspur, Leeds United, Fulham, dan Everton.

Advertisement

Carrick bahkan dikabarkan terancam kehilangan pekerjaannya jika gagal membawa Manchester United meraih kemenangan saat menghadapi Chelsea di Stamford Bridge pada akhir pekan ini.

Namun, pergantian pelatih dinilai belum tentu menjadi solusi. Seperti diulas Tribal Football, persoalan Manchester United sudah mengakar lebih dalam dan tidak semata-mata berkaitan dengan sosok yang berada di pinggir lapangan.

Berikut lima masalah besar yang harus dibenahi Manchester United.


1. Kebijakan Transfer yang Belum Tepat

Spanduk Glazers Out terlihat pada pertandingan antara Manchester United kontra Chelsea di ajang Liga Inggris 2022/2023 hari Jumat (26/05/2023) dini hari WIB. (OLI SCARFF / AFP)(OLI SCARFF / AFP)

Manchester United masih menghadapi persoalan dalam membangun skuad yang mampu bersaing secara konsisten. Kebijakan perekrutan pemain pada era kepemilikan keluarga Glazer hingga keterlibatan Sir Jim Ratcliffe dan INEOS dinilai belum memberikan hasil sesuai ekspektasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, MU telah berganti pelatih berkali-kali. Erik ten Hag, Ruben Amorim, dan Michael Carrick menjadi bagian dari rangkaian perubahan di kursi manajer. Ruud van Nistelrooy dan Darren Fletcher juga pernah menjalankan tugas sebagai pelatih interim.

Namun, pergantian tersebut belum mampu mengembalikan konsistensi Manchester United.

Masalahnya, setiap pelatih memiliki kebutuhan taktik dan karakter pemain yang berbeda. Jika perekrutan tidak didasarkan pada rencana jangka panjang klub, pergantian pelatih berpotensi kembali diikuti perombakan skuad.


2. Kepemimpinan di Ruang Ganti Dipertanyakan

Pelatih sementara Manchester United asal Inggris, Michael Carrick, berbicara dengan gelandang Manchester United asal Portugal bernomor punggung 08, Bruno Fernandes, selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, pada 17 Januari 2026. (Darren Staples/AFP)

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kepemimpinan di dalam skuad Manchester United.

Komentar sejumlah pemain, termasuk Lisandro Martinez dan Bruno Fernandes, turut menambah sorotan terhadap situasi internal tim. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai hubungan antara pemain, pelatih, dan arah yang ingin dibangun klub.

Pelatih memang memiliki tanggung jawab untuk menjaga disiplin serta memastikan semua pemain mengikuti rencana permainan. Namun, persoalan ruang ganti tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengganti sosok manajer.

MU membutuhkan kelompok pemain yang mampu menjaga standar profesionalisme, menerima evaluasi, dan bekerja bersama ketika tim menghadapi masa sulit.

Tanpa kepemimpinan yang kuat dari dalam skuad, pelatih mana pun akan kesulitan membangun konsistensi dalam jangka panjang.


3. Tidak Ada Arah Jangka Panjang yang Konsisten

Pelatih Manchester United, Michael Carrick (kedua dari kiri), bersama para pemainnya bereaksi setelah menelan kekalahan 0-2 dari Hull City dalam laga Liga Inggris 2026/2027 di MKM Stadium, Kingston upon Hull, Inggris, Sabtu (22/8/2026). (AFP/Paul Ellis)

Manchester United telah mencoba berbagai pendekatan melalui pergantian pelatih. Namun, perubahan tersebut justru memunculkan pertanyaan mengenai identitas permainan dan arah pembangunan tim.

Setiap pelatih datang dengan filosofi masing-masing. Ketika pergantian terjadi terlalu sering, proses membangun sistem permainan, mengembangkan pemain, dan menyusun skuad sesuai kebutuhan taktik harus kembali disesuaikan.

Mantan pelatih interim MU, Ralf Rangnick, pernah menegaskan pada 2022 bahwa klub membutuhkan perubahan mendasar, bukan sekadar perbaikan kecil.

Pernyataan tersebut kembali relevan ketika Manchester United masih kesulitan menemukan kestabilan beberapa tahun kemudian.


4. Dukungan Manajemen dan Investasi Masih Menjadi Sorotan

Persoalan Manchester United juga berkaitan dengan keputusan yang diambil di level manajemen dan pemilik klub.

Keterlibatan INEOS sempat memunculkan harapan bahwa Manchester United akan menjalani pembenahan menyeluruh. Namun, menurut analisis Tribal Football, perubahan yang diharapkan belum sepenuhnya menghasilkan perbaikan di tim utama.

Beban utang klub yang berkaitan dengan struktur kepemilikan juga menjadi salah satu faktor yang disorot dalam perdebatan mengenai kemampuan Manchester United melakukan investasi.

Dalam situasi seperti ini, pelatih harus bekerja dengan sumber daya yang tersedia sekaligus memenuhi tuntutan untuk segera meraih hasil positif.


5. Terlalu Sering Mengganti Pelatih

Pelatih Manchester United, Ruben Amorim memberikan tepuk tangan setelah timnya kalah dari West Ham United dalam laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 di Old Trafford, Manchester, Inggris, Minggu (11/05/2025) waktu setempat. (AFP/Oli Scarff)

Pergantian pelatih menjadi jalan yang kerap ditempuh Manchester United ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Namun, pendekatan tersebut belum mampu mengakhiri periode inkonsistensi klub.

Jika Carrick benar-benar diberhentikan setelah gagal meraih hasil positif melawan Chelsea, Manchester United berpotensi kembali memasuki siklus yang sama: menunjuk pelatih baru, menyusun ulang pendekatan permainan, lalu menghadapi tekanan ketika hasil belum membaik.

Tentu saja, pelatih tetap harus bertanggung jawab atas performa tim. Hasil pertandingan, pemilihan pemain, dan strategi permainan merupakan bagian penting dari evaluasi.

Namun, memecat pelatih tanpa membenahi persoalan mendasar berisiko hanya memindahkan masalah kepada sosok berikutnya.

Sumber: Tribal Football

Berita Terkait