Bola.com, Sleman - Pelatih PSS Sleman, Pieter Huistra, menyoroti padatnya jadwal yang dijalani timnya pada musim ini. Banyak pertandingan yang berdekatan jadi tantangan tersendiri bagi Super Elang Jawa.
Situasi itu kembali dihadapi PSS Sleman dalam periode akhir Oktober hingga awal November 2026. Super Elang Jawa harus melakoni empat laga dalam rentang kurang dari dua pekan.
Dari empat partai itu, tiga di antaranya digelar di kandang sendiri. Namun, PSS sudah lebih dulu menelan kekalahan 1-2 dari Borneo FC (27/10/2026). Setelah itu, mereka bertandang ke markas Garudayaksa FC (1/11/2026).
Dua pertandingan berikutnya akan dimainkan di hadapan pendukung sendiri. PSS dijadwalkan menjamu PSGC Ciamis pada ajang League Cup 2026/2027, 4 November, dan kemudian bersua Bhayangkara FC dalam lanjutan BRI Super League pada 8 November.
"Sebenarnya ini merupakan tantangan bagi seluruh tim di Super League. Para pemain belum terbiasa bermain dengan jarak waktu yang begitu singkat antarlaga. Jumlah pertandingannya terlalu banyak," ujar Huistra.
"Tim-tim papan atas juga bermain di kompetisi AFC. Bagi semua tim di Super League musim ini tantangannya jauh lebih besar dibandingkan musim-musim sebelumnya," lanjutnya.
Menempuh Perjalanan Jauh
Huistra juga menyinggung faktor perjalanan yang harus ditempuh setiap tim ketika menjalani laga tandang. Menurutnya, kondisi geografis Indonesia membuat pemulihan pemain menjadi lebih rumit.
"Di Indonesia perjalanan menjadi salah satu beban tersendiri. Saya pernah bekerja di banyak liga, tetapi salah satu hal yang membuat kompetisi di Indonesia lebih berat adalah perjalanan antarkota," katanya.
"Untuk setiap pertandingan terkadang tim harus naik pesawat dan melanjutkan perjalanan dengan bus selama 6-7 jam. Hal itu menjadi beban bagi pemain dan memperlambat proses pemulihan setelah pertandingan," imbuh dia.
Huistra mengakui PSS sedikit diuntungkan karena sebagian besar laga dalam periode padat kali ini dimainkan di kandang. Meski demikian, keuntungan itu tidak sepenuhnya membikin pekerjaan tim pelatih jadi lebih ringan.
"Dengan jumlah pertandingan yang banyak kami harus memainkan empat laga dalam 13 hari. Bagi kami, keuntungan yang didapat adalah 3 dari 4 laga itu berlangsung di kandang. Itu menjadi hal positif," ujarnya.
Menjaga Kebugaran Jadi Kunci
Di tengah jadwal yang terus berjalan, Huistra menekankan pentingnya kedisiplinan pemain dalam menjaga kondisi tubuh. Waktu istirahat harus dimanfaatkan agar kebugaran tetap terjaga.
Menurutnya, tantangan musim ini bukan sekadar menyiapkan tim untuk satu pertandingan, melainkan bagaimana mempertahankan kondisi fisik sepanjang kompetisi.
"Pemain harus segera beristirahat dan memulihkan kondisi fisik mereka. Musim ini menjadi semacam perlombaan bagi setiap staf, klub, tim, dan masing-masing pemain untuk mencapai kondisi fisik sebaik mungkin serta mempertahankannya," pungkasnya.