Bola.com, Jakarta - Kimi Antonelli kini menjadi salah satu nama besar di dunia Formula 1 (F1). Pada usia 20 tahun, pembalap Mercedes itu sukses mencetak sejarah sebagai juara dunia termuda sepanjang masa.
Namun, kesuksesan tersebut bukan datang secara instan. Bakat Antonelli sudah terlihat sejak kecil, bahkan ketika sang ayah, Marco Antonelli, pertama kali menyadari kemampuan istimewa putranya saat berusia 10 tahun.
Kala itu, Marco mengajak Kimi mencoba mengendarai Lamborghini miliknya di Sirkuit Adria, Italia. Keduanya berada dalam satu mobil dengan pembagian kendali. Marco mengatur pedal gas dan rem, sementara Kimi mengendalikan kemudi serta perpindahan gigi.
Marco terkesan melihat kemampuan putranya mengendalikan mobil, terutama ketika menghadapi gejala oversteer dalam kecepatan tinggi.
"Saat melihat videonya, saya melihat anak berusia 10 tahun duduk di pangkuan saya, mengendalikan oversteer dengan sempurna. Saya langsung berpikir mungkin dia memiliki sesuatu yang istimewa," kenang Marco, seperti dikutip dari BBC, Senin (2/11/2026).
Lahir dan Besar di Lingkungan Balap
Kimi memang sudah akrab dengan dunia balap sejak bayi. Sang ayah menyebut putranya sudah berada di garasi sejak berusia 15 hari, terbiasa mendengar deru mesin dan mencium aroma knalpot.
Ketertarikannya semakin terlihat ketika berusia sekitar tiga tahun. Marco membawa pulang simulator balap dan Kimi selalu ingin mencobanya setiap malam.
Bahkan, suatu ketika Marco sempat tertidur saat menemani putranya bermain hingga terjadi kecelakaan dalam simulasi.
"Dad, Dad, jangan tidur. Saya harus mengemudi," kata Kimi saat itu.
Meski melihat bakat besar sang anak, Marco awalnya tidak ingin Kimi menjadi pembalap profesional. Dia pernah mengalami kegagalan dalam karier balapnya sendiri dan khawatir putranya menghadapi nasib serupa.
Kimi mulai mengendarai gokart pada usia lima tahun. Kemampuannya membaca racing line, menentukan titik pengereman, dan mengendalikan kendaraan langsung mencuri perhatian.
Dilirik Mercedes sejak Usia 11 Tahun
Bakat Antonelli mulai terdengar di kalangan motorsport ketika berusia 11 tahun. Mercedes kemudian mengirimkan Gwen Lagrue, pencari bakat akademi pembalap mereka, untuk memantau langsung kemampuannya di Italia.
Antonelli akhirnya bergabung dengan Mercedes Junior Team. Keputusan tersebut membuat Marco tidak lagi terlalu terbebani persoalan biaya dan bisa lebih fokus mendukung perkembangan putranya.
Juara dunia F1 empat kali, Max Verstappen, juga sudah melihat potensi Antonelli sejak masih berkompetisi di gokart.
Pada usia 15 tahun, Antonelli mulai naik ke balap mobil. Dia kemudian mendominasi berbagai kejuaraan Formula 4 pada 2022 dan Formula Regional Eropa pada 2023.
Perkembangannya membuat bos Mercedes, Toto Wolff, mulai mempersiapkannya sebagai calon pembalap utama tim pada masa depan.
Gantikan Lewis Hamilton
Kesempatan besar datang ketika Lewis Hamilton memutuskan meninggalkan Mercedes untuk bergabung dengan Ferrari mulai 2025.
Wolff langsung menghubungi Marco dan menyampaikan rencana untuk mempromosikan Antonelli ke Formula 1.
Meski sempat mempertanyakan kesiapan putranya, Marco akhirnya mendukung keputusan tersebut.
Mercedes kemudian menyiapkan program tes intensif menggunakan mobil F1 generasi sebelumnya untuk membantu Antonelli beradaptasi sebelum menjalani debut pada 2025.
Namun, perjalanan awalnya tidak sepenuhnya mulus. Antonelli sempat mengalami kecelakaan saat menjalani sesi latihan bebas GP Italia 2024 di Monza.
Musim debutnya juga diwarnai sejumlah kesalahan dan performa yang belum konsisten. Perubahan pada suspensi belakang Mercedes bahkan sempat memengaruhi kepercayaan dirinya.
Wolff mengakui sempat ada keraguan dari sejumlah pihak terhadap perkembangan Antonelli. Namun, Mercedes tetap memberikan kepercayaan kepadanya.
Bangkit dan Langsung Menjadi Juara Dunia
Perubahan besar mulai terlihat setelah Antonelli meninggalkan Eropa pada akhir musim sebelumnya. Dia semakin percaya diri dan mampu menunjukkan performa yang jauh lebih konsisten.
Pada musim keduanya, Antonelli langsung tampil luar biasa. Dia mengoleksi enam pole position dan enam kemenangan dalam 11 balapan pertama, sekaligus membangun keunggulan 50 poin di klasemen.
Persaingan semakin ketat ketika McLaren dan Red Bull mulai memberikan tekanan kepada Mercedes pada paruh kedua musim. Namun, Antonelli tetap konsisten bersaing di barisan depan.
Salah satu penampilan terbaiknya terjadi pada GP Italia. Meski harus memulai balapan dari posisi ke-19 akibat penalti mesin, dia mampu bangkit dan meraih kemenangan setelah melewati George Russell pada lap-lap terakhir.
Kemenangan tersebut sekaligus menjadi pembuktian bahwa Antonelli telah mengatasi kenangan buruknya di Monza.
Kini, semua kerja keras itu terbayar lunas. Antonelli resmi menjadi juara dunia F1 termuda sepanjang sejarah setelah mengunci gelar di GP Meksiko 2026.
Sang ayah menyebut mentalitas kuat menjadi salah satu faktor utama keberhasilan putranya. Antonelli juga mengaku banyak belajar mengendalikan emosi, termasuk dari legenda tenis Roger Federer.
Dalam pertemuan di Wimbledon, Federer menyarankan Antonelli untuk fokus pada satu balapan dalam satu waktu dan mengendalikan hal-hal yang berada dalam jangkauannya.
Nasihat tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi Antonelli dalam perjalanan menuju puncak Formula 1.
Sumber: BBC