Bola.com, Jakarta - Manchester United akan memperingati sebuah momen penting pada akhir pekan ini. Tepat 40 tahun lalu, Setan Merah mengambil keputusan tepat dengan menunjuk Sir Alex Ferguson sebagai manajer pada November 1986.
Namun, sejak Ferguson pensiun, MU justru dikenal sebagai klub yang kerap keliru dalam memilih pelatih.
ESPN dalam artikelnya belum lama ini, mengulas hal tersebut.
Sejumlah nama besar seperti Jurgen Klopp, Mauricio Pochettino, dan Thomas Tuchel sempat berbicara dengan petinggi MU. Namun, berbagai alasan membuat ketiganya memilih menangani klub lain.
Kini, Michael Carrick kembali menghadapi situasi sulit. Hasil buruk terus menghampiri Setan Merah, yang hanya berada satu posisi di atas zona degradasi Liga Inggris.
Setan Merah juga baru meraih satu kemenangan di liga sepanjang musim ini.
Peringatan kedatangan Ferguson ke Old Trafford pada November 1986, yang jatuh pada Jumat, berpotensi bertepatan dengan keputusan MU untuk kembali mencari manajer baru.
Sumber ESPN menyebut Carrick kemungkinan masih akan memimpin MU saat menghadapi AS Roma dalam pertandingan Liga Champions pada Rabu dini hari WIB dan Aston Villa di Liga Inggris pada Minggu.
Namun, posisinya belum sepenuhnya aman setelah timnya melewati sembilan pertandingan tanpa kemenangan.
Pelatih berusia 45 tahun itu kini berada di ujung tanduk. Dengan jeda internasional yang berlangsung setelah laga kontra Aston Villa, sulit membayangkan mantan manajer Middlesbrough itu masih mendampingi MU saat bertandang ke markas Liverpool pada 22 November.
Pertanyaannya, apakah MU bisa dipercaya untuk memecat Carrick dan menunjuk pengganti yang mampu menghadirkan keteraturan, stabilitas, serta hasil positif bagi klub yang selama ini dikenal penuh kekacauan?
Sejak Ferguson pensiun pada 2013 setelah mempersembahkan 28 trofi utama selama 27,5 tahun menangani MU, klub telah menunjuk tujuh manajer permanen. Tidak satu pun mampu menjuarai Liga Inggris atau Liga Champions.
ESPN berbicara dengan sejumlah orang yang pernah bekerja di MU pada era setelah Ferguson dan terlibat dalam proses perekrutan manajer. Mereka menilai ketujuh penunjukan itu memiliki kelemahan, terutama dalam proses pengambilan keputusan di Old Trafford.
Cek klasemen terbaru Premier League 2026/2027 di sini.
Moyes Bukan Pilihan Utama
Ketika MU menunjuk David Moyes sebagai pengganti Ferguson, muncul anggapan manajer Everton itu merupakan pilihan langsung Ferguson. Kenyataannya, Moyes berada di urutan ketujuh dalam daftar kandidat.
Intervensi Ferguson kala itu disebut sebagai langkah mendesak untuk menemukan sosok yang memiliki pengalaman di Liga Inggris dan bisa segera mengambil alih tim.
Sumber ESPN mengungkapkan MU sempat mendekati Klopp, Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, Diego Simeone, dan Laurent Blanc sebelum akhirnya memilih Moyes.
"Mourinho, Ancelotti, Guardiola, dan Blanc sudah lebih dahulu menyepakati pekerjaan lain. Sementara itu, Klopp dan Simeone tidak tertarik menerima tawaran MU," tulis ESPN dalam ulasannya.
Moyes kemudian dipecat setelah hanya 10 bulan menjalani kontrak berdurasi enam tahun.
MU lalu menunjuk pelatih Timnas Belanda, Louis van Gaal, meski mantan pelatih Ajax Amsterdam dan Barcelona itu sudah tiga tahun tidak menangani klub.
Sebelum memilih Van Gaal, Wakil Ketua Eksekutif MU, Ed Woodward, kembali mendapat penolakan dari Simeone.
Woodward juga gagal merekrut Klopp, yang tidak terkesan dengan pendekatannya saat menggambarkan MU sebagai "Disneyland versi dewasa".
Mourinho Dipilih, meski Pochettino Lebih Diinginkan
Ketika Van Gaal dipecat pada Mei 2016, MU menunjuk Mourinho. Pelatih asal Portugal itu mempersembahkan dua trofi utama, membawa MU finis sebagai runner-up Liga Inggris, serta mencatatkan persentase kemenangan 58 persen.
"Namun, menurut sejumlah sumber, Mourinho direkrut, meski para petinggi klub telah mendesak dua ketua bersama MU, Joel dan Avram Glazer, untuk memilih Pochettino," tulis ESPN.
Pochettino saat itu sedang membangun Tottenham Hotspur menjadi tim yang mampu bersaing dalam perebutan gelar Liga Inggris dan mencapai final Liga Champions.
Pelatih yang kelak menangani Timnas Amerika Serikat itu juga akan gagal mendapatkan pekerjaan di MU dalam dua kesempatan berikutnya.
Sumber ESPN menyebut perekrutan Mourinho didorong oleh keinginan keluarga Glazer untuk menandingi Manchester City yang berhasil mendapatkan Guardiola pada musim panas yang sama.
Dua tahun kemudian, Pochettino menjadi kandidat utama untuk menggantikan Mourinho. Namun, keengganan MU terlibat dalam negosiasi kompensasi mahal dengan Tottenham, ditambah hasil luar biasa Ole Gunnar Solskjaer sebagai manajer interim, membuat klub memilih jalan yang lebih mudah.
MU akhirnya memberikan pekerjaan permanen kepada mantan pemainnya itu.
Pola perekrutan MU pun terlihat jelas: menyusun daftar kandidat, gagal mendapatkan pilihan utama, lalu menunjuk sosok lain.
Ten Hag Tak Mampu Ubah Keadaan
Proses perekrutan sedikit berubah ketika MU menunjuk Erik ten Hag pada musim panas 2022. Saat itu, Woodward sudah meninggalkan klub dan posisinya digantikan CEO Richard Arnold.
MU menunjuk Ralf Rangnick sebagai pelatih interim sembari menjalankan proses perekrutan yang disebut berlangsung secara menyeluruh.
Luis Enrique, yang saat itu menangani Timnas Spanyol, masuk daftar kandidat utama. Namun, pelatih itu tidak bersedia meninggalkan pekerjaannya sebelum Piala Dunia 2022.
Ten Hag dan Pochettino kemudian menjadi dua kandidat terakhir. Sumber ESPN menyebut persaingan keduanya berlangsung ketat.
Ten Hag, yang masih menangani Ajax Amsterdam, dianggap sebagai sosok dengan prospek cerah.
Sementara itu, Pochettino masih terikat kontrak dengan Paris Saint-Germain, meski diperkirakan akan meninggalkan klub pada musim panas. MU berpotensi mengeluarkan kompensasi hingga puluhan juta euro untuk merekrutnya.
Pochettino mendapat dukungan dari sejumlah petinggi MU. Namun, besarnya biaya kompensasi membuat klub akhirnya memilih Ten Hag.
Keputusan itu kembali berujung kegagalan. Meski mempersembahkan dua trofi utama, Ten Hag dipecat pada Oktober 2024, hanya empat bulan setelah menerima kontrak berdurasi dua tahun dari jajaran manajemen olahraga baru yang dipimpin investor minoritas Sir Jim Ratcliffe.
Amorim Lebih Parah
Pada akhir musim 2023/2024, Ten Hag sebenarnya nyaris kehilangan pekerjaannya. Ia bertahan setelah mendapat dukungan terbuka dari suporter di Wembley seusai MU mengalahkan Manchester City pada final Piala FA.
Saat itu, MU telah berbicara dengan sejumlah kandidat pengganti, termasuk Thomas Tuchel, Kieran McKenna, dan Roberto De Zerbi.
Tuchel, yang kemudian menjadi pelatih Timnas Inggris pada Oktober 2024, beberapa kali berbicara dengan petinggi MU.
Sumber ESPN menyebut Tuchel hampir mendapatkan tawaran pekerjaan sebelum klub memutuskan untuk tetap mempertahankan Ten Hag.
Ketika Ten Hag akhirnya dipecat pada Oktober 2024, MU menunjuk Ruben Amorim, pelatih Sporting CP yang juga dianggap sebagai sosok potensial, meski belum memiliki pengalaman di Liga Inggris.
Dan Ashworth, yang saat itu menjabat direktur olahraga, justru diberhentikan di tengah proses perekrutan. Sebelumnya, Ashworth sempat mengusulkan Eddie Howe, pelatih Newcastle United, sebagai kandidat.
Amorim kemudian membawa Setan Merah menjalani musim terburuk sepanjang sejarah mereka di Liga Inggris. Ia hanya mencatatkan persentase kemenangan 38 persen sebelum dipecat pada Januari dan digantikan Carrick.
Mantan gelandang MU itu kemudian mendapatkan kontrak pada musim panas setelah sukses membawa tim finis di posisi ketiga.
Terus Abaikan Tren Perekrutan Pelatih
Carrick menjadi contoh terbaru dari keputusan MU merekrut pelatih yang minim pengalaman dengan biaya relatif murah.
Sejak Mourinho, MU tidak pernah lagi menunjuk manajer dengan rekam jejak kuat di Liga Inggris. Solskjaer hanya memiliki pengalaman enam bulan menangani Cardiff City sebelum klub asal Wales itu terdegradasi.
MU juga dinilai mengabaikan tren yang telah dimanfaatkan klub-klub pesaing. Dalam satu dekade terakhir, pelatih berpengalaman dari Spanyol dan Jerman mendominasi Liga Inggris serta Liga Champions.
Guardiola bersama Manchester City dan Klopp bersama Liverpool berhasil menjuarai kedua kompetisi tersebut.
Luis Enrique bersama Paris Saint-Germain meraih gelar Liga Champions secara beruntun, sedangkan Tuchel bersama Chelsea dan Hansi Flick bersama Bayern Munchen juga pernah mengangkat trofi kompetisi elite Eropa itu.
Sementara itu, Mikel Arteta berhasil membawa Arsenal menjuarai Liga Inggris.
"Empat penunjukan terakhir MU justru melibatkan pelatih yang belum pernah memiliki pengalaman di Liga Inggris. Pola itu memperlihatkan kelemahan mendasar dalam strategi perekrutan klub," tulis ESPN.
Jika Carrick kembali kehilangan pekerjaannya, pertanyaan besar akan muncul: apakah MU akhirnya belajar dari kesalahan masa lalu atau justru kembali mengambil keputusan yang keliru?
Sumber: ESPN