Gonta-ganti Pelatih di Tengah Musim, Strategi yang Pernah Berbuah Trofi

Manchester United membaik usai ganti pelatih tengah musim. Carrick gagal menang 9 laga dan dilaporkan hanya punya dua pertandingan untuk membalik situasi.

Bola.com, Jakarta - Manchester United sudah merasakan efek positif dari pergantian pelatih di tengah musim. Rekam jejak itu membuka opsi bagi manajemen untuk menempuh langkah serupa pada 2026/2027.

Kursi Michael Carrick tengah panas setelah gagal menang pada sembilan pertandingan terakhir di seluruh kompetisi. Manajemen disebut masih menahan diri, namun waktu Carrick semakin habis dan dia dilaporkan hanya punya dua laga untuk memutar keadaan.

Sejak pandemi Covid-19, Setan Merah beberapa kali mengganti manajer di tengah kampanye menyusul hasil buruk. Jika memasukkan keputusan menunjuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai suksesor Jose Mourinho pada 2018/2019, catatan itu bertambah satu lagi.

Mayoritas perubahan tersebut berdampak pada kenaikan posisi di klasemen Liga Inggris, meski belum satu pun berbuah gelar.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Efek Pergantian Pelatih Manchester United di Tengah Musim

MU berada di urutan 6 ketika Mourinho ditendang pada Desember 2018. Solskjaer datang dan sempat membawa tim ke peringkat 4, sebelum akhirnya finis posisi 6 setelah statusnya berubah dari caretaker menjadi permanen pada Maret 2019.

Dua tahun berselang, Solskjaer dipecat ketika MU menempati peringkat 7. Ralf Rangnick ditunjuk dan mengangkat tim naik satu tingkat di akhir 2021/2022.

Pada 2024/2025, Erik ten Hag dilepas karena MU berada di posisi 14. Kehadiran suksesornya Ruben Amorim lalu membuat Setan Merah turut satu tingkat. Namun, pengaruhnya diakui karena MU mencapai final Liga Europa.

Musim lalu, Amorim dipecat saat MU menempati peringkat 6. Carrick masuk dan mengangkat Bruno Fernandes dan kawan-kawan lolos Liga Champions dengan finis posisi 3.

Pergantian Berbuah Trofi di Klub Lain

Sejarah mencatat sejumlah pelatih mencicipi kesuksesan besar ketika nakhoda anyar dan langsung mempersembahkan trofi. Zinedine Zidane melakukannya bagi Real Madrid pada 2015/2016. Dia memperbaiki disharmonisasi kamar ganti sepeninggal Rafael Benitez dan menjuarai Liga Champions.

Zidane mengikuti jejak Vicente del Bosque yang melakukannya setelah menggantikan John Toshack di paruh 1999/2000.

Dari Jerman, Hansi Flick menorehkan prestasi lebih spektakuler. Menggantikan Niko Kovac pada paruh 2019/2020, dia membawa Bayern Munchen menjadi treble winners dengan memenangkan Bundesliga, DFB Pokal, plus Liga Champions.

Sementara di Inggris, Chelsea dua kali menjadi juara Liga Champions berkat pelatih pengganti tengah musim. Adalah Roberto Di Matteo (2011/2012) dan Thomas Tuchel (2020/2021) yang melakukannya.

Video Populer

Foto Populer