Kendali Demokrat di Kongres AS Bisa Jadi Kabar Buruk bagi Gianni Infantino

Gelombang Biru di AS bisa jadi mimpi buruk Gianni Infantino.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 06 November 2026, 13:00 WIB
Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Bola.com, Jakarta - Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat berpotensi membuat Presiden FIFA, Gianni Infantino, harus menjelaskan kedekatannya dengan Presiden AS, Donald Trump.

Jika tidak, Infantino bisa menghadapi konsekuensi hukum.

Advertisement

Demokrat berhasil menguasai House of Representatives dan Senat dalam pemilu sela tersebut. Hasil ini menjadi pukulan besar bagi Trump dan gerakan MAGA yang dipimpinnya.

Situasi politik itu juga berpotensi membawa dampak serius bagi Infantino, yang sedang berada di bawah tekanan.

Juli lalu, anggota Demokrat di Komite Kehakiman House of Representatives mengumumkan penyelidikan terhadap hubungan dekat Infantino dengan Trump.

Mereka meminta Infantino menyerahkan sejumlah dokumen sekaligus hadir di hadapan komite.


Pernyataan Demokrat

(Kiri/Kanan) Presiden AS, Donald Trump, memperhatikan saat menerima Hadiah Perdamaian FIFA (FIFA Peace Award) dari Presiden FIFA, Gianni Infantino, selama pengundian Piala Dunia 2026 yang berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko, di Kennedy Center, Washington, DC, pada 5 Desember 2025. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Pada September, juru bicara Demokrat di komite tersebut menyebut kerja sama Infantino dan FIFA dalam penyelidikan itu masih "sangat tidak memadai"

"FIFA belum menyerahkan satu pun dokumen prioritas yang diminta komite, termasuk dokumen yang dapat menunjukkan berapa banyak uang yang diberikan FIFA kepada keluarga Trump, menjawab pertanyaan penting mengenai pemberian FIFA Peace Prize, atau menjelaskan bagaimana skema Kushner-Infantino untuk menjual Piala Dunia dirancang," ujar sang juru bicara.

Saat itu, Demokrat masih menjadi partai minoritas di komite tersebut sehingga tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan panggilan paksa atau subpoena. Namun, hasil pemilu sela telah mengubah situasi tersebut.

"Korupsi politik dan finansial yang mendorong pemerintahan Trump merupakan keadaan darurat sipil. Kongres memiliki tanggung jawab untuk menghadapi seluruh korupsi ini secara langsung, mengungkapnya dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menghentikannya secepat mungkin," ujar ranking member, Jamie Raskin, dalam sebuah pernyataan.


Infantino Terus Ditekan

Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyaksikan leg kedua final Piala AFF 2026 di Stadion My Dinh, Hanoi, Rabu (26/8/2026). (VFF)

Rabu lalu, Raskin memperluas penjelasannya dalam wawancara dengan CNN. Ia menyebut upaya tersebut juga akan menyasar orang-orang yang berada dalam lingkaran Trump.

Infantino terus mendapat tekanan untuk mundur menyusul rencananya memprivatisasi Piala Dunia.

Ia berniat menjual sebagian kecil kepemilikan kompetisi andalan FIFA itu kepada perusahaan ekuitas swasta dan Joshua Kushner, saudara Jared Kushner yang merupakan menantu Trump.

Konfederasi sepak bola Eropa, UEFA, berulang kali menyatakan Infantino telah melewati batas yang tidak dapat ditoleransi dan ingin menyingkirkannya dari jabatannya.

Namun, hingga kini UEFA masih kesulitan memperoleh dukungan yang cukup dari luar Eropa.

 

Sumber: Inside World Football

Berita Terkait