Sukses


Makna Mendalam Logo Atalanta: Sang Dewi yang Enggan Berikan Keperawanannya

Bola.com, Jakarta - Selama lebih dari 110 tahun sejarah klub Liga Italia, Atalanta Bergamasca Calcio telah berulang kali berganti logo. Namun, sosok wanita berambut panjang masih tetap menjadi figur utama. Dia adalah La Dea, sang Dewi yang dikisahkan enggan memberikan keperawanannya kepada pria, kecuali ada yang sanggup mengalahkannya dalam lomba lari.

Meski sepak bola identik dengan maskulinitas, Atalanta adalah perwujudan feminimitas. Diceritakan, Atalanta adalah seorang pemburu dan pelari yang masih perawan. Ia merupakan satu di antara Dewi petarung berdasarkan mitologi Yunani.

Klub sepak bola Atalanta berdiri di Bergamo, Italia, pada 1907. Semuanya bermula pada awal abad ke-20 di Bergamo, di Liceo Classico Paolo Sarpi, sebuah sekolah yang kental dengan studi mengenai Yunani Kuno, Latin, ilmu pengetahuan, filisofi, dan juga sejarah.

Dalam sesi diskusi yang mengambil tempat di ruang olahraga, beberapa murid dari Swiss berkumpul, membahas ide gila mereka menciptakan sebuah klub olahraga di Bergamo. Kabarnya, saat itu belum ada klub olahraga di kota tersebut. Hingga tercetuslah ide mendirikan klub bernama Atalanta, yang terinspirasi dari seorang Dewi dari mitologi Yunani.

Atalanta, Dewi yang Ogah Cinta-cintaan

Atalanta adalah karakter atletis yang kuat dari mitologi Yunani yang telah mengambil sumpah keperawanan. Ia menantang kepada semua laki-laki (dan centaur, manusia setengah kuda) di dunia, barang siapa yang bisa mengalahkannya dalam perlombaan lari, maka berhak atas keperawanannya.

Taruhannya cukup gila. Kalau ada yang mengalahkan Atalanta, maka boleh mempersuntingnya. Tapi kalau kalah, mereka akan dibunuh. Atalanta memang dikisahkan tidak peduli soal percintaan. Sejak bayi ia sudah tinggal di hutan karena ayahnya kecewa lantaran anak yang lahir bukan laki-laki.

Agar tidak terlalu menyimpang dari topik Atalanta sebagai sebuah klub sepak bola, singkat cerita, Melanion atau Hippomenes, cucu dari Poseidon berhasil mengalahkan Atalanta dengan trik. Ia meminta bantuan Dewi Cinta, Aphrodite untuk mengganggu Atalanta dengan melemparkan tiga apel emas sehingga konsentrasinya terganggu. Keduanya pun lalu menikah, sesuai janji Atalanta.

Nah, berlanjut ke pembahasan berikutnya, murid-murid asal Swiss pencetus klub Atalanta tadi awalnya memutuskan untuk menerapkan warna hitam dan putih sebagai warna klub, termasuk pada logo. Namun, setelah merger dengan Bergamasca yang memiliki warna kebesaran biru dan putih, pada 1924, Atalanta pun mengubah jersey klub menjadi hitam dan biru hingga sekarang.

 

2 dari 5 halaman

Perubahan Logo Klub Atalanta dari Waktu ke Waktu

Adapun perubahan logo baru terjadi pada 1963. Saat itu Atalanta sudah bermain di Serie A. Mereka juga cukup disegani di Italia dan peremajaan logo pun didengungkan petinggi klub.

Pada perubahan pertama, ditampilkan siluet yang melambangkan perwujudan Atalanta. Sang Dewi terlihat berlari, dengan garis biru dan hitam di sebelahnya. Ya, pada pergantian logo ini, Atalanta mengaplikasikan warna biru dari di logo yang sebelumnya hitam dan putih.

Sayang, performa Atalanta justru naik turun. Mereka dianggap sebagai tim yoyo karena sering bolak-balik ke Serie B, bahkan pernah turun ke Serie C1 pada 1981. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 1984, mereka berhasil kembali ke Serie A dengan logo baru yang diusungnya.

Tulisan Atalanta dihilangkan, figur Dewi Atalanta diambil kepalanya saja, lalu crest-nya berbentuk bulat sempurna. Warna biru, hitam, dan putih masih dipakai, plus tambahan aksen berwarna kuning yang entah apa maknanya.

Pada 1993, Atalanta kembali mengubah logonya. Warna kuning dihilangkan, crest-nya juga diubah menjadi lonjong seperti telur. Tulisan Atalanta dan 1907 diletakkan di atas dan di bawah logo. Logo itu pun bertahan hingga sekarang.

3 dari 5 halaman

Atalanta, Cinderella di Pentas Liga Champions

Saat Liga Champions 2019-2020 memasuki matchday ketiga, mungkin banyak yang mengira kalau perjuangan Atalanta sudah selesai, persis seperti Cinderella yang harus segera pulang sebelum tengah malam tiba.

Bagaimana tidak, tiga kekalahan beruntun didapat oleh anak asuh Gian Piero Gasperini. Dua hasil telak juga didapat, yakni 0-4 di markas Dinamo Zagreb, dan 1-5 di Etihad Stadium, kandang Manchester City.

Pada kesempatan bermain di depan puluhan ribu pendukungnya pun, Atalanta tak bisa berbuat banyak. Setelah sempat unggul lebih dulu lewat gol Duvan Zapata, Shakhtar Donetsk mampu membalas dua kali, masing-masing melalui Moraes menit 41' dan Manor Solomon pada menit 90'+4.

Satu-satunya hal yang membanggakan dari kekalahan 1-2 atas Shakhtar yakni gol Zapata tercatat di buku rekor klub sebagai pencetak gol pertama Atalanta di Liga Champions. Ya, Liga Champions 2019-2020 merupakan kali pertama buat Atalanta mentas di kompetisi tertinggi Benua Biru.

Atalanta datang ke megahnya arena Liga Champions bak Cinderella yang tak bergelimang harta dan serba kekurangan. Jauh sebelum memastikan diri lolos ke babak grup, mereka sebetulnya terancam batal ikut serta karena laporan keuangan yang nyaris menyentuh garis minus.

Finansial Atalanta tengah jeblok saat itu dan harapan publik Bergamo yang berjumlah tak lebih dari 150.000 orang untuk menyaksikan tim kebanggaannya berlaga di kompetisi Eropa nyaris sirna. Efisiensi bujet pun dilakukan. Manajemen klub menghadiahi pemain-pemain terbaiknya dengan kontrak baru dan minim belanja pemain. Hal itu sudah dilakukannya sejak awal musim 2018-2019, seakan yakin betul suatu saat Atalanta akan berkompetisi di Liga Champions.

Berdasarkan keterangan The Guardian, total gaji pemain Atalanta tidak menembus 10 besar di Italia. Itu artinya, para pemain tidak digaji besar karena keuangan Atalanta tidak semewah klub-klub lain di Liga Champions.

Mungkin pada musim 2018-2019 Atalanta hanya mematok Liga Europa. Sebab, buat tim sekelas Atalanta, finis di peringkat ketiga bukan perkara mudah. Tanpa mengesampingkan kekuatan mereka, harus ada tim-tim kuat yang performanya menurun agar Papu Gomez dkk. bisa merangsek ke zona Liga Champions.

Singkat cerita, Atalanta berhasil mendapatkan tiket Liga Champions. Setelah tumbang pada tiga laga perdana, Kota Bergamo sibuk mempersiapkan kehadiran tamu besar, yakni Manchester City. Suporter seakan tidak peduli bahwa pada leg pertama, Atalanta digasak 1-5 di Etihad Stadium.

"Atalanta harus mencoba mendikte permainan seperti yang biasa Atalanta lakukan di Serie A," kata Papu Gomez.

"Mari sama-sama kita sepakati dulu bahwa City adalah tim yang kualitasnya jauh di atas kita, mungkin mereka yang terbaik di Eropa," katanya lagi kontradiktif dengan ucapan pertamanya.

Di luar dugaan, Atalanta mampu menahan imbang Manchester City 1-1. Hari bersejarah buat Atalanta. Ini merupakan poin pertama mereka di Liga Champions. Satu poin yang sangat berharga.

Tidak berlebihan menganggap satu poin atas City sebagai kemenangan. Pasalnya, Atalanta saat itu sedang labil menyusul hasil imbang kontra Napoli (2-2) dan kekalahan dari Cagliari (0-2). Bahkan, mereka kembali meraih hasil imbang melawan Sampdoria dan kekalahan menyakitkan 1-3 dari Juventus pada dua laga setelah momen bersejarah di Liga Champions.

 

4 dari 5 halaman

Malam Masih Panjang Buat Cinderella dari Bergamo

Satu poin yang didapat dari empat pertandingan Liga Champions, mayoritas orang mungkin menilai itu tak akan banyak membantu, bahkan untuk berada di peringkat ketiga klasemen akhir sekali pun. Tampaknya, Cinderella harus segera pulang. Malam Liga Champions tidak sepanjang yang Atalanta harapkan, awalnya.

Dibayang-bayangi kekalahan 0-4, Atalanta bertekad membalaskan dendam kepada Dinamo sekaligus meraih kemenangan pertama di Liga Champions. Harapan tersebut terwujud. Luis Muriel cs. sukses meraih kemenangan usai mengalahkan lawannya dengan skor 2-0, sementara City ditahan imbang Shakhtar 1-1 pada matchday kelima.

Sadisnya, kemenangan tersebut masih menempatkan Atalanta di dasar klasemen dengan empat poin. Shakhtar di peringkat kedua dengan enam poin, sementara Dinamo berada di tangga ketiga dengan lima poin. Kabar bagusnya, Atalanta masih punya peluang untuk lolos ke babak 16 besar.

Tibalah saatnya penentuan. Laga yang sulit buat Atalanta bermain di Ukraina. Laga yang sulit buat tim mana pun sebenarnya menghadapi Shakhtar Donetsk di Ukraina. Tetapi, Cinderella tahu dia nothing to lose pada laga kali ini. Ia harus mengerahkan yang terbaik tanpa peduli hasil pertandingan Dinamo Zagreb kontra Manchester City yang juga masih menentukan.

Kabar buruknya, Gasperini bermain tanpa dua bek andalannya, Rafael Toloi dan Simon Kjaer. Jose Luis Palomino kini berduet dengan bek veteran Andrea Masiello dan pemain pelapis Berat Djimisiti. Atalanta juga tanpa Josip Ilicic di lini tengah. Sepatu kaca yang Atalanta miliki pada malam itu hanyalah Luis Muriel, Papu Gomez, dan Mario Pasalic.

Kendati demikian, ketika mata penikmat Serie A tertuju pada perjalanan Juventus, Inter Milan, dan Napoli, Atalanta justru tampil luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, tim berjulukan Orobici itu mampu menyudahi pertandingan dengan skor telak 3-0. Pada pertandingan lain, City tanpa kesulitan berarti mengalahkan Dinamo dengan skor 4-1. Hari Rabu 11 Desember 2019 menjadi hari bersejarah buat Atalanta. Malam panjang mereka di Liga Champions masih berlanjut.

''Kami senang memberikan ini untuk kota Bergamo, untuk para penggemar dan untuk sepak bola Italia. Kami melakukannya dan menunjukkan bahwa gaya permainan kami dapat berhasil di Eropa,'' kata Gasperini.

''Kami senang bermain di Liga Champions. Kami pun berharap bisa membawa para penggemar kami ke kota yang indah untuk laga tandang,'' ujar pelatih berusia 61 tahun itu melanjutkan.

Kini, Atalanta, sang Dewi Rembulan dari Bergamo masih bertahan di Liga Champions. Valencia berhasil mereka kalahkan di babak knockout. Masihkah panjang malam mu, La Dea?

5 dari 5 halaman

Video

5 Klub Terboros di Bursa Transfer 20 Tahun Terakhir

Video Populer

Foto Populer