6 Alasan Paling Konyol Pesepak Bola Mogok Bermain: Yaya Toure Ribut Gara-Gara Kue, Ronaldo Ngambek

6 Alasan Paling Konyol Pesepak Bola Mogok Bermain: Ada Ronaldo hingga Yaya Tourecr

Bola.com, Jakarta - Sepak bola bukan hanya soal taktik, gol, dan kemenangan. Di balik persaingan sengit di lapangan, terkadang muncul drama dari para pemain yang membuat geleng-geleng kepala.

Sejumlah pemain bintang pernah menolak bermain atau melakukan aksi mogok karena merasa tidak dihargai, kecewa dengan klub, hingga terlibat perselisihan dengan pelatih.

Namun, beberapa alasan di antaranya terbilang sangat sepele. Bahkan, ada yang terdengar seperti drama di luar lapangan ketimbang persoalan profesional seorang pesepak bola.

Berikut enam alasan paling konyol yang pernah membuat pemain menolak bermain atau bersitegang dengan klub dan tim nasional.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Yaya Toure

Yaya Toure menempati posisi teratas dalam daftar ini karena drama yang melibatkan dirinya terbilang sangat unik. Kisah tersebut terjadi pada 2014 ketika gelandang asal Pantai Gading itu masih memperkuat Manchester City. Toure baru saja membantu The Citizens menjuarai Premier League dengan mencetak 20 gol dan sembilan assist.

Beberapa hari setelah musim berakhir, muncul drama mengenai perayaan ulang tahunnya. Agen Toure, Dimitri Seluk, mengkritik Manchester City karena dinilai tidak memberikan perhatian yang cukup kepada kliennya. Seluk bahkan membandingkan perlakuan terhadap Toure dengan Roberto Carlos saat masih memperkuat Anzhi yang disebut pernah mendapatkan hadiah mobil Bugatti ketika berulang tahun.

Toure kemudian ikut memperkeruh suasana melalui media sosial dengan menyatakan bahwa pernyataan sang agen memang benar. Ia disebut kecewa karena hanya berharap mendapatkan ucapan selamat dan sebuah kue dari klub. Drama tersebut kemudian dikenal sebagai "cake-gate" dan menjadi salah satu kisah paling absurd dalam sepak bola modern.

Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo juga pernah menjadi sorotan karena keputusan untuk tidak bermain yang dikaitkan dengan kondisi skuad klubnya di Arab Saudi. Pemain asal Portugal tersebut dikabarkan kecewa dengan kualitas pemain yang tersedia dan berharap klub mendatangkan lebih banyak pemain bintang agar mampu bersaing di level tertinggi.

Padahal, Ronaldo merupakan salah satu pesepak bola dengan bayaran tertinggi di dunia dan memiliki sejumlah pemain top sebagai rekan setim. Nama-nama seperti Joao Felix, Sadio Mane, Kingsley Coman, Marcelo Brozovic, hingga Inigo Martinez pernah berada di lingkungan klubnya. Namun, Ronaldo tetap disebut tidak puas dengan situasi skuad dan memilih tidak tampil dalam beberapa pertandingan.

Drama Ronaldo juga disebut berlanjut ke level tim nasional. Ia dikabarkan enggan memperkuat Portugal ketika Jorge Jesus menjadi pelatih. Jika kabar tersebut benar, keputusan itu kembali membuat Ronaldo menjadi pusat perhatian dan menambah panjang daftar kontroversi dalam kariernya.

3. Carlos Tevez

Carlos Tevez pernah terlibat dalam salah satu drama paling terkenal ketika memperkuat Manchester City. Peristiwa tersebut terjadi saat The Citizens menghadapi Bayern Munchen di Liga Champions 2011-2012. Tevez disebut menolak melakukan pemanasan untuk kembali masuk ke lapangan setelah sebelumnya sudah melakukan pemanasan selama sekitar 20 hingga 25 menit.

Kiper Manchester City saat itu, Joe Hart, kemudian mengungkap kembali kejadian tersebut. Tevez dikabarkan mengatakan bahwa dirinya sudah "panas" dan tidak merasa perlu kembali melakukan pemanasan. Namun, sang striker membantah sengaja menolak bermain dan menyebut terdapat persoalan penerjemahan dalam insiden tersebut.

Terlepas dari versi yang berbeda, drama tersebut tetap membuat Tevez mendapatkan hukuman dan menjalani masa pengasingan dari skuad. Ironisnya, sang striker kemudian menghabiskan beberapa bulan di Argentina dan bahkan terlihat menikmati aktivitas golf.

4. William Gallas

William Gallas pernah melakukan aksi yang cukup ekstrem demi meninggalkan Chelsea. Menolak bermain untuk memaksa klub melepas pemain sebenarnya bukan hal baru dalam sepak bola, tetapi Gallas membuat situasinya menjadi jauh lebih serius. Chelsea pernah mengungkap bahwa Gallas menolak bermain ketika klub sedang mengalami krisis di lini belakang.

Saat itu, Chelsea hanya memiliki beberapa pilihan di posisi bek dan John Terry juga diragukan tampil karena cedera. Yang membuat kasus tersebut mengejutkan adalah ancaman Gallas jika dipaksa bermain. Bek asal Prancis tersebut disebut mengancam bisa mencetak gol bunuh diri, mendapatkan kartu merah, atau melakukan kesalahan dengan sengaja.

Chelsea akhirnya mengambil tindakan tegas terhadap Gallas. Kasus tersebut menjadi salah satu contoh ekstrem bagaimana perselisihan antara pemain dan klub dapat berkembang menjadi drama yang sulit dipercaya, bahkan melibatkan ancaman untuk merusak pertandingan dari dalam lapangan.

5. Hatem Ben Arfa

Hatem Ben Arfa dikenal sebagai pemain berbakat yang memiliki perjalanan karier penuh drama. Pada musim 2014-2015, pemain asal Prancis itu menjalani masa peminjaman di Hull City. Namun, petualangannya di Inggris berlangsung singkat karena ia hanya mencatatkan sembilan penampilan.

Salah satu momen paling terkenal terjadi ketika Hull City kalah 0-3 dari Manchester United. Ben Arfa tampil mengecewakan dan kemudian ditarik keluar setelah baru bermain sekitar 35 menit. Setelah pertandingan tersebut, ia kembali ke Prancis dan tidak lagi bermain untuk Hull City.

Manajer Hull City saat itu, Steve Bruce, kemudian mengonfirmasi bahwa Ben Arfa tidak akan kembali memperkuat klub. Meski begitu, karier sang pemain kemudian kembali bersinar di Ligue 1 bersama Nice sebelum mendapatkan kesempatan bermain untuk Paris Saint-Germain.

6. Fernando Redondo

Fernando Redondo melengkapi daftar ini dengan kisah yang sebenarnya cukup unik. Redondo pernah menjadi bagian dari Timnas Argentina pada Piala Dunia 1990, tetapi memilih tidak tampil karena merasa hanya akan menjadi pemain pelapis. Ia kemudian lebih memilih fokus pada kuliahnya di bidang hukum.

Drama yang lebih terkenal terjadi beberapa tahun kemudian. Redondo tidak masuk skuad Argentina untuk Piala Dunia 1998 setelah terlibat perselisihan dengan pelatih Daniel Passarella. Salah satu persoalan yang mencuat adalah rambut panjang sang gelandang. Passarella disebut meminta Redondo memangkas rambutnya, tetapi sang pemain menolak.

Redondo menganggap rambut merupakan bagian dari kepribadiannya dan menegaskan bahwa dirinya lebih dari sekadar seorang pesepak bola. Diego Maradona bahkan turut membela sang gelandang dalam konflik tersebut. Pada akhirnya, Redondo harus melewatkan Piala Dunia 1998 dan hanya memiliki pengalaman tampil di Piala Dunia 1994.

 

Sumber: Planet Football

 

Video Populer

Foto Populer