Sukses


Kisah Joao Bosco Cabral dan Miro Baldo Bento, Duo Timor Leste yang Pernah Membius Pentas Liga Indonesia

Bola.com, Makassar - Liga Indonesia pernah diwarnai aksi dua pemain asal Timor Leste, Joao Bosco Cabral dan Miro Baldo Bento. Keduanya sama-sama mengawali kiprahnya di klub Galatama, Arseto Solo, pada 1992.

Setelah klub milik Sigit Harjojudanto itu membubarkan diri pada 1998, baik Joao Bosco Cabral dan Miro Baldo Bento pun bertualang ke sejumlah klub Liga Indonesia.

Di Arseto, Bosco dan Bento yang sama-sama kelahiran tahun 1975 ini mengasah kemampuannya bersama sederet pelatih ternama Indonesia, seperti Harry Tjong dan Sartono Anwar. Bersama Arseto, mereka pun sempat mengecap atmosfer kompetisi Galatama dan Kejuaran Antarklub Asean.

Setelah keluar dari Arseto, Bosco yang berposisi bek tengah mengawali peruntungannya di Persikota Tangerang. Setelah dari klub Kota Tangerang itu, stoper yang dikenal dengan ciri khas rambut gondrong ini berturut-turut membela PSPS Pekanbaru, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya dan terakhir Bali Devata.

Sementara itu, Bento memilih melanjutan karier di PSM Makassar. Dari klub kebanggaaan Kota Daeng itu, Bento kemudian membela Perseden Denpasar, Persekaba Badung, Persijap Jepara, Persmin Minahasa, Persiba Balikpapan, Persela Lamongan, PSBL Langsa, PSIS Semarang dan FC Porto Taibesi (Timor Leste).

Tak hanya bermain di beberapa klub Liga Indonesia, Bosco dan Bento sempat dipanggil memperkuat tim nasional Indonesia. Tapi, ketika Timor Leste menjadi negara berdaulat pada 20 Mei 2002, keduanya pun memilih berpaspor tanah kelahirannya itu.

 

2 dari 4 halaman

Pensiun sebagai Pemandu Wisata

Bosco menjadi bagian dari sukses Persikota menembus semifinal Liga Indonesia 1999-2000. Karakter keras dan pantang menyerah ala Bosco mewarnai perjalanan Persikota musim itu.

Tergabung di Wilayah Barat, Persikota yang ditangani Sutan Harhara lolos ke 8 Besar yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno. Di babak ini, Persikota bertenger di peringkat pertama Grup B. Sayang di semifinal, langkah tim berjuluk 'Bayi Ajaib' ini dihentikan PKT Bontang lewat adu penalti dengan skor 3-4.

Dua musim berikutnya, kiprah Persikota terbilang datar. Meski begitu, pamor Bosco tak luntur. Selepas dari Persikota, ia direkrut tim kaya saat itu, PSPS Pekanbaru.

Dua musim bersama PSPS, Bosco mendapatkan era popularitasnya bersama Persija Jakarta yang menawarinya bergabung jelang musim 2006. Bersama tim Macan Kemayoran, raihan tertinggi Bosco adalah semifinal Liga Indonesia 2007.

Di musim itu, langkah Persija dihentikan Sriwijaya FC yang kemudian menjadi juara setelah mengalahkan PSMS Medan di partai puncak. Setelah pensiun sebagai pemain, Bosco menjadi pemandu wisata di Bali.

 

3 dari 4 halaman

Cicipi Liga Champions Asia

Berbeda dengan Bosco, prestasi Bento lebih mengilap. Bersama PSM, eks timnas Indonesia di Piala Tiger 1998 ini meraih berbagai gelar. Baik level nasional maupun internasional.

Selain juara Liga Indonesia 1999-2000, Bento membawa PSM meraih trofi juara Piala Ho Chi Minch City di Vietnam 2001. Pada tahun yang sama, Bento bersama PSM menembus perempat final Liga Champions Asia dan runner-up Liga Indonesia 2000-2001.

Setahun berikutnya, Bento kembali meloloskan PSM ke semifinal Liga Indonesia 2002.

PSM memang adalah klub terbaik buat Bento. Karena selepas dari PSM, prestasinya terbilang stagnan. Sebelum pensiun sebagai pemain, Bento memperkuat klub tanah kelahirannya, FC Porto Taibesi.

Berbeda dengan Bosco yang meninggalkan sepakbola, Bento menghabiskan waktunya dengan membina pemain muda di Timor Leste. Ia malah sempat menjadi asisten pelatih timnas Timor Leste.

4 dari 4 halaman

Video

Video Populer

Foto Populer