Uston Nawawi Ceritakan Lagi Awal Kariernya: Berkat Sang Ayah, Sempat Jadi Libero, Berguru ke Italia sampai Gabung Persebaya

Di Persebaya Surabaya, tak banyak pemain seloyal Uston Nawawi. Berawal dari seorang Bonek, ia tak hanya bagian penting dari skuad utama, tapi juga menyempurnakan pengabdiannya sebagai pelatih tim berjuluk Bajul Ijo.

Bola.com, Jakarta - Di Persebaya Surabaya, tak banyak pemain seloyal Uston Nawawi. Berawal dari seorang Bonek, ia tak hanya bagian penting dari skuad utama, tapi juga menyempurnakan pengabdiannya sebagai pelatih tim berjuluk Bajul Ijo.

Di masa jayanya, Uston Nawawi memperkuat Persebaya tiga periode: 1995–2003, 2004–2008, dan 2012–2013. Selama kariernya yang panjang berliku itu, legenda yang kini berusia 47 tahun sukses menggondol tiga gelar Liga Indonesia, yakni 1996–1997, 2004, serta 2006.

Paripurna sebagai pemain, Uston Nawawi tak lantas berlalu begitu saja melupakan tim yang telah melambungkan namanya di langit blantika sepak bola nasional.

Ia melanjutkan pengabdiannya sebagai pelatih Persebaya, dari level U-20 dan kemudian naik pangkat ke tim senior. Di tim nasional, kelahiran Sidoarjo, 6 September 1978, juga berkibar.

Posisinya sebagai aktor di lini tengah nyaris tak tergantikan, dari 1997 hingga 2004. Medali perak SEA Games 1997, peringkat ketiga Piala AFF 1998, medali perunggu SEA Games 1999, juara Piala Kemerdekaan 2000, dan runner up Piala AFF 2000 merupakan segepok prestasi yang pernah dipahat Uston Nanawi di bawah panji-panji luhung Merah Putih.

Tak hanya Persebaya, tim-tim beken macam PSPS Pekanbaru, Persisam Samarida, Persidafon Dafonsoro, dan Deltras Sidoarjo juga pernah memakai jasanya.

 

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Berkat Sosok Sang Ayah

Dedikasinya yang luar biasa membuat Bonek, pendukung setia Green Force, sangat menghormati Uston Nawawi lintas generasi.

Tanda tangannya masih diburu dan tak sedikit Bonek yang meminta foto bareng setiap kali Uston Nawawi menyambangi Stadion Gelora Bung Tomo atau di mana pun ia menyaksikan Persebaya berlaga.

Sukses yang diraih Uston Nawawi tak jatuh begitu saja dari langit. Kerja keras, doa yang tak henti, serta tekad baja selama bertahun-tahun merupakan kunci keberhasilan.

Lewat kanal YouTube Antara TV Indonesia, Uston Nawawi mengatakan ayah adalah sosok penting di balik kecintaannya terhadap sepak bola.

"Tentunya yang ngenalin bapak. Bapak saya itu wasit. Wasit lokal. Jadi, saya sering ikut bapak ke mana-mana. Dan tim favorit saya kebetulan juga Persebaya," kata Uston Nawawi.

"Saya asli Sidoarjo. Cuma latihannya sepak bolanya di Surabaya. Kalau zaman dulu belum banyak akademi sepak bola. Di Persebaya itu ada klub satelit, ada 30 klub dulu. Sekarang kan ada 20 klub," imbuhnya.

 

 

 

Bermain Sepak Bola Sejak SD Kelas 4

Menurut Uston Nawawi, ia mulai memainkan sepak bola saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kelas empat.

"Pertama kali saya mulai latihan bola itu kelas 4 SD di Sidoarjo. SSB-nya namanya Warna Agung di Jenggolo. Enggak kayak serangan lapangannya. Dulu masih banyak pohon. Kalau sekarang lapangannya sudah bagus," ujar Uston Nawawi.

"Habis dari Warna Agung ke Dolog Surabaya dan ikut klub internal namanya Mitra Untag. Kenapa harus ke Surabaya? Karena memang, Surabaya kan salah satu barometer sepak bola Jawa Timur dan Indonesia," tambahnya. 

Uston Nawawi punya alasan kuat mengapa harus mengembangkan karier ke Kota Pahlawan. "Kalau kita mau berkembang dan terus berproses jadi pemain profesional, ya harus ke Surabaya. Soalnya di Sidoarjo belum ada muaranya waktu itu," tukasnya.

 

 

Berawal dari Libero

Sebelum dikenal sebagai salah satu gelandang serang terbaik Indonesia, jebolan Baretti mengaku kalau awalnya ia adalah seorang libero.

"Mungkin banyak yang enggak menyangka, posisi awal saya itu justru libero. Dulu kan sering pakai formasi yang umum, 3-5-2. Saya mainnya di libero. Terus akhirnya, begitu ke Surabaya, saya jadi gelandang," tandas Uston Nawawi.

"Cuma yang mengarahkan waktu itu ayahnya Lucky Wahyu (pemain Bekasi City). Saya diarahkan untuk jadi gelandang serang. Kalau sekarang hampir sama kayak Marcelino Ferdinan. Cuma Marselino lebih top karena dia bermain di luar negeri. Kalau saya kan belum sempat," tutur Uston Nawawi seraya tertawa.

Talentanya yang memesona di usia muda membawa Uston Nanawi berguru sepak bola modern di Italia selama dua tahun, 1995-1997.

"Itu pertamanya ada tim Popnas, Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Ada pemandu bakatnya salah satunya Om Danurwindo. Waktu itu saya termasuk masuk tim scouting-nya. Ada tiga. Saya, Charis Yulianto, dan Agung Prasetyo," kenang Uston Nawawi.

"Ketika ikut seleksi, akhirnya yang masuk saya sama Charis. Tapi waktu itu saya nyusul. Karena tim yang duluan kan sudah berangkat. Sudah proyek yang kedua itu".

"Pertama Primavera, terus habis itu Baretti. Primavera sudah selesai, kita baru ada di sana. Jadi saya menyusul. Waktu itu saya di Persebaya junior. Itu kalau enggak salah tahun 1995. Saya umur 18-an waktu itu," lanjutnya. 

 

 

 

Cerita Lolos Seleksi Persebaya

Pulang dari Negeri Spaghetti, Persebaya menggelar seleksi untuk skuad senior. Uston Nawawi ikut bertarung dan lolos.

"Setelah pulang ke Indonesia, ada seleksi di Persebaya tahun 1997. Waktu itu kan pemain Persebaya top-top banget. Ada Jackson F Tiago, almarhum Bejo Sugiantoro, dan Carlos De Mello," ujarnya.

Sukses membawa Persebaya juara tahun 1997 berdampak positif bagi karier Uston Nawawi. Di momen itulah ia untuk kali pertama dipanggil ke timnas dan sejarah kemudian mencatat sejak saat itu Uston Nawawi jadi bagian yang terpisahkan dari Timnas Indonesia selama sekian purnama.

"Saya dipanggil ke timnas ketika bisa mengantarkan Persebaya juara. Kita juara dulu. Alhamdulillah penampilan saya bagus, terus dipanggil seleksi timnas," pungkas Uston Nawawi.

 

 

Yuk Lihat Peta Persaingan

Video Populer

Foto Populer