Ruben Amorim Diramal Langsung Kembali ke Liga Inggris usai Dipecat MU

Dipecat MU, Ruben Amorim disebut berpeluang tangani klub Premier League lain.

Bola.com, Jakarta - Setelah pemecatannya dari Manchester United, Ruben Amorim disebut-sebut berpeluang kembali ke panggung Premier League dalam waktu yang tidak terlalu lama, bahkan lewat jalur yang cukup mengejutkan.

Pelatih asal Portugal itu kehilangan pekerjaannya di Old Trafford pekan lalu, menyusul rentetan hasil yang tak meyakinkan di lapangan serta konflik internal dengan Direktur Sepak Bola MU, Jason Wilcox.

Padahal, sebelum hijrah ke Inggris, Amorim datang dengan reputasi tinggi setelah mengantar Sporting CP meraih dua gelar Liga Portugal.

Namun, kiprah Amorim di MU jauh dari harapan. Dalam 14 bulan masa jabatannya, Setan Merah terpuruk hingga finis di peringkat ke-15 Premier League musim lalu dan kembali tampil inkonsisten pada musim berjalan.

Usai diberhentikan, Amorim pulang ke Portugal. Meski demikian, mantan bek Timnas Inggris, Sol Campbell, menilai pintu Premier League belum tertutup bagi pelatih berusia 40 tahun itu. Bahkan, Campbell meyakini Amorim bisa segera kembali ke Inggris untuk menangani klub besar lainnya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 5 halaman

Manajer Ideal

Menurut Campbell, Amorim adalah sosok "manajer ideal" untuk menggantikan Thomas Frank di Tottenham Hotspur, yang sedang berada di bawah tekanan besar. Ia bahkan menyebut peluang komunikasi di antara kedua pihak sudah terbuka.

Tottenham saat ini sedang berjuang keluar dari krisis. Spurs hanya mampu memenangi satu dari enam laga liga terakhir dan terperosok ke posisi ke-14 klasemen. Kegagalan di Piala FA, setelah disingkirkan Aston Villa di putaran ketiga, kian memperburuk suasana di London Utara.

"Ruben Amorim," jawab Campbell, lugas, ketika ditanya Sky Bet siapa figur yang pantas menggantikan Frank jika Tottenham mengambil langkah ekstrem.

"Mereka pasti melihatnya. Mungkin saja mereka sudah berbicara dengannya sekarang, itu tidak akan mengejutkan saya. Saya rasa dia tidak akan kembali ke Portugal," ujar Campbell.

"Tottenham akan berbicara dengannya untuk melihat apakah ada peluang. Akan ada pembicaraan di balik layar."

3 dari 5 halaman

Tuntutan Tinggi

Campbell tetap memberi kredit kepada Thomas Frank, tetapi menekankan bahwa tantangan di Tottenham jauh berbeda dibanding saat sang pelatih masih di Brentford.

"Thomas Frank adalah manajer top, tetapi ini bukan Brentford lagi, ini level yang berbeda. Tottenham adalah klub besar dengan tuntutan tinggi," kata Campbell.

"Mereka menginginkan kesuksesan dan kemajuan berkelanjutan. Jadi, saya tidak akan terkejut jika mereka berbicara dengan manajer lain," tambahnya.

Ia menambahkan bahwa performa di lapangan bisa mengubah segalanya.

"Terkadang Anda tidak harus menang, tapi jika tampil bagus dan menunjukkan arah yang benar, itu bisa membantu. Namun, sampai Anda mulai menang secara konsisten, pembicaraan dengan manajer lain akan terus ada," ulasnya.

4 dari 5 halaman

Amorim Naif

Campbell juga menyoroti tekanan besar yang kini dihadapi Frank. Menurutnya, pelatih asal Denmark itu sedang menghadapi jenis tekanan yang mungkin belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Tekanan selalu ada di level tertinggi, tapi di Tottenham, tekanannya datang dari segala arah," ujarnya.

"Anda harus mampu mengelolanya, dengan pemain, manajemen, dan fans. Anda harus menjadi banyak hal sekaligus: negarawan, petarung, pelatih dengan sepak bola atraktif, dan tetap cerdas mengelola situasi," ungkap eks bek Tottenham periode 1992-2001 ini.

Kendati mendorong Amorim untuk kembali ke Premier League, Campbell tak menutup mata terhadap kegagalan sang pelatih di MU. Ia bahkan menilai Amorim bertindak naif selama menangani klub sebesar MU.

"Betapa naifnya Ruben Amorim… kecuali Anda menang secara reguler, Anda tidak akan punya kendali," kata Campbell.

"Era di mana manajer bisa mengontrol segalanya seperti Sir Alex Ferguson atau Arsene Wenger, sudah berlalu. Dia seharusnya tahu itu," katanya lagi.

5 dari 5 halaman

Tentang Kemenangan

Campbell menilai Amorim gagal memahami besarnya skala MU.

"Dia tidak menyadari betapa raksasanya Manchester United. Ini klub ikonik, salah satu yang terbesar di dunia. Bagaimana mungkin Anda mengontrol semuanya? Itu tidak masuk akal," tuturnya.

"Hal pertama yang harus Anda pahami adalah orang-orangnya, para penggemarnya, sejarahnya. Anda tidak bisa begitu saja membawa cara kerja dari tempat lain," lanjut Campbell.

"Dan pada saat yang sama, Anda harus menang. Manchester United adalah tentang kemenangan. Anda tidak bisa berkata atau bersikap seperti itu, itu naif karena ini bukan Portugal. Ini Inggris, dan ini salah satu klub terbesar di dunia," kata pria berusia 51 tahun tersebut.

 

Sumber: Metro

Video Populer

Foto Populer