Starting XI Pemain Pemain Premier League Bergaji Tinggi tapi Minim Kontribusi: Ada 4 Bintang Manchester City

Berikut susunan 11 pemain Premier League yang dianggap menerima gaji tidak sebanding dengan performanya pada musim 2026/2027

Bola.com, Jakarta - Pemain-pemain Liga Inggris dikenal sebagai atlet dengan bayaran tertinggi di dunia. Namun, sejumlah bintang dari Arsenal, Chelsea, hingga Manchester City dinilai menerima gaji yang terlalu besar dibanding kontribusi yang mereka berikan di atas lapangan.

Kombinasi antara kebutuhan mendesak klub untuk meraih hasil instan dan melimpahnya dana yang dimiliki membuat beberapa tim rela menggelontorkan bayaran fantastis kepada pemain yang belum mampu membuktikan kualitasnya.

Berdasarkan penilaian tersebut, berikut susunan 11 pemain Premier League yang dianggap menerima gaji tidak sebanding dengan performanya pada musim 2026/2027.

Tim ini disusun menggunakan formasi 4-3-3 dan diisi pemain dari lima klub berbeda.    

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Kiper: Giorgi Mamardashvili (Rp2,04 Miliar Per Pekan)

Posisi penjaga gawang dalam daftar ini sempat menjadi perdebatan. Salah satu kandidatnya adalah kiper Fulham, Bernd Leno, yang diketahui menerima gaji sebesar 130 ribu poundsterling (Rp3,12 miliar) per pekan.

Namun, Leno akhirnya tidak dimasukkan. Alasannya, kiper asal Jerman tersebut masih dianggap layak menerima bayaran itu karena selalu menjadi pilihan utama Fulham dan tampil konsisten membantu klub bertahan di papan tengah Premier League.

Sebaliknya, Giorgi Mamardashvili lebih pantas mengisi posisi ini. Kiper Timnas Georgia itu lebih banyak menghabiskan waktunya di bangku cadangan Liverpool karena kalah bersaing dengan Alisson Becker. Kesempatan bermain biasanya baru datang ketika Alisson mengalami cedera, yang hampir selalu terjadi dalam satu periode setiap musim.

Mamardashvili memang memiliki potensi besar. Namun, pada musim debutnya di Anfield, ia belum mampu menunjukkan performa yang benar-benar meyakinkan. Dengan gaji mencapai 85 ribu poundsterling per pekan, kontribusinya dinilai belum sepadan.

 

Bek Kanan: Ben White (Rp3,6 Miliar Per Pekan)

Sulit dipercaya, tetapi tahun 2022 kini sudah berlalu empat tahun. Saat itu, memberikan gaji 150 ribu poundsterling (Rp3,5 miliar) per pekan kepada Ben White masih terasa masuk akal.

Pada masa tersebut, White tampil luar biasa setelah diubah posisinya menjadi bek kanan dan menjadi salah satu pemain kunci ketika Arsenal mulai bersaing dalam perebutan gelar Premier League di bawah asuhan Mikel Arteta.

Namun, situasinya kini berubah. Empat tahun berselang, White tak lagi menjadi pilihan utama. Bek berusia 28 tahun itu lebih sering berperan sebagai pemain pelapis karena Arteta memiliki beberapa opsi lain yang mampu menjalankan peran serupa di lini belakang.

Dengan kondisi tersebut, besarnya gaji yang diterima White kini mulai dipertanyakan karena dinilai tidak lagi sebanding dengan kontribusinya di dalam tim.

Ben White masih terikat kontrak dengan Arsenal hingga 2028. Namun, pada musim lalu ia hanya tampil dalam 12 pertandingan Premier League.

Dengan jumlah penampilan yang minim tersebut, sulit rasanya mengatakan bahwa gaji 150 ribu poundsterling per pekan yang diterimanya benar-benar sepadan dengan kontribusi yang ia berikan untuk The Gunners.

Bek Tengah: Wesley Fofana (Rp4,8 Miliar Per Pekan)

Potensi besar Wesley Fofana sebenarnya tak pernah diragukan. Namun, sejak didatangkan Chelsea dari Leicester City pada 2022, karier bek asal Prancis itu terus diganggu masalah cedera sehingga kontribusinya jauh dari harapan.

Fofana menjadi salah satu pemain dengan bayaran tertinggi di Stamford Bridge berkat gaji mencapai 200 ribu poundsterling (Rp4,8 miliar) per pekan. Nilai tersebut merupakan hasil kontrak yang diteken sebelum pemilik baru Chelsea, Clearlake Capital, mulai menerapkan sistem kontrak berbasis performa.

Musim lalu, Fofana tampil dalam 25 pertandingan Premier League, jumlah yang lebih baik dibanding musim-musim sebelumnya. Meski demikian, performanya di atas lapangan dinilai masih belum memenuhi ekspektasi.

Kini, bek berusia 25 tahun itu dituntut menunjukkan peningkatan signifikan di bawah arahan pelatih anyar Chelsea, Xabi Alonso, agar mampu membuktikan dirinya layak menerima bayaran besar tersebut.    

Bek Tengah: Tosin Adarabioyo (Rp2,88 Miliar Per Pekan)

Seperti halnya Giorgi Mamardashvili, Tosin Adarabioyo sebenarnya bukan bek tengah dengan gaji tertinggi di Premier League.

Namun, bayaran sebesar 120 ribu poundsterling (Rp2,88 miliar) per pekan untuk pemain yang penampilannya dinilai biasa-biasa saja dianggap menjadi salah satu contoh kebijakan gaji Chelsea yang kurang ideal.

Bek berusia 28 tahun itu memang mampu menjadi pelapis yang cukup andal. Meski begitu, kontribusinya dinilai belum cukup istimewa untuk membenarkan besarnya gaji yang diterimanya.

Menariknya, Tosin juga dikenal sebagai pemain termuda yang dijuluki "unc" (singkatan dari uncle atau "om") oleh rekan-rekan setimnya. Julukan itu kemungkinan akan berpindah jika Chelsea benar-benar mendatangkan dua pemain senior, Jordan Henderson dan Danny Welbeck, pada bursa transfer musim panas ini.

 

Bek Kiri: Luke Shaw (Rp3,6 Miliar Per Pekan)

Luke Shaw masih menjadi salah satu pemain dengan gaji tertinggi di Manchester United. Namun, selama 12 tahun membela Setan Merah, kariernya tak pernah lepas dari masalah cedera.

Meski kondisi kebugarannya mulai membaik pada musim lalu dan ia tampil lebih sering, bayaran 150 ribu poundsterling (Rp3,6 miliar) per pekan tetap dianggap belum sebanding jika melihat riwayat cederanya yang panjang.

Bahkan, Manchester United dikabarkan ingin menawarkan kontrak baru kepada bek berusia 31 tahun tersebut dengan nilai gaji yang lebih rendah sebagai bagian dari penyesuaian struktur pengeluaran klub.

 

Gelandang Tengah: Kalvin Phillips (Rp3,6 Miliar per Pekan)

Kepindahan Kalvin Phillips ke Manchester City pada 2022 bisa dibilang menjadi salah satu transfer paling mengecewakan dalam beberapa musim terakhir.

Sejak bergabung dengan The Citizens, Phillips hanya dua kali menjadi starter di Premier League. Padahal, selama periode tersebut ia diperkirakan telah mengantongi gaji sekitar 25 juta poundsterling.

Ironisnya, gelandang Timnas Inggris itu masih memiliki kontrak bersama Manchester City hingga musim panas 2028.

Dengan minimnya kontribusi di lapangan dibanding besarnya gaji yang diterima, kontrak Phillips dinilai sebagai salah satu keputusan finansial terburuk yang pernah dibuat Manchester City.    

Gelandang Tengah: Tijjani Reijnders (Rp5,52 Miliar Per Pekan)

Musim perdana Tijjani Reijnders bersama Manchester City belum berjalan sesuai ekspektasi. Sempat tampil menjanjikan saat debut melawan Wolverhampton Wanderers, performa gelandang Timnas Belanda itu kemudian cenderung biasa-biasa saja.

Reijnders bahkan disebut berpotensi meninggalkan Etihad Stadium lebih cepat dari perkiraan. Namun, ia masih memiliki peluang untuk memperjuangkan tempatnya di bawah arahan pelatih Enzo Maresca.

Terlepas dari itu, gaji sebesar 230 ribu poundsterling (Rp5,52 miliar) per pekan dinilai terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kontribusi yang telah diberikannya sejauh ini.

 

Gelandang Tengah: Conor Gallagher (Rp3,84 Miliar per Pekan)

Tottenham Hotspur merekrut Conor Gallagher dari Atletico Madrid pada bursa transfer Januari lalu. Besarnya gaji yang diterima sang gelandang dianggap mencerminkan upaya Spurs yang saat itu tengah berusaha keras memperbaiki performa tim.

Gallagher dikenal sebagai gelandang pekerja keras yang mampu menjaga keseimbangan permainan. Namun, kemampuannya dinilai lebih berada di level "solid" ketimbang "luar biasa".

Karena itu, bayaran sekitar 160 ribu poundsterling (Rp3,84 miliar) per pekan dianggap terlalu besar jika dibandingkan dengan kualitas dan pengaruh yang ia berikan di lapangan.

 

Sayap Kanan: Omar Marmoush (Rp7,08 Miliar Per Pekan)

Omar Marmoush saat ini merupakan pemain dengan gaji tertinggi ketujuh di Premier League. Padahal, pada musim lalu ia hanya delapan kali menjadi starter bersama Manchester City di liga.

Posisinya memang sulit tergeser karena harus bersaing dengan Erling Haaland dalam hierarki skuad. Namun, memberikan gaji hampir 300 ribu poundsterling (Rp7,08 miliar) per pekan kepada pemain yang lebih sering menghangatkan bangku cadangan dinilai sebagai keputusan yang berlebihan.

Padahal, Marmoush sempat menunjukkan kualitasnya ketika pertama kali bergabung pada Januari 2025. Sayangnya, situasinya kini berubah dan masa depannya disebut lebih mungkin berada di luar Etihad Stadium.

 

Sayap Kiri: Jack Grealish (Rp7,08 Miliar Per Pekan)

Jack Grealish merupakan salah satu sosok penting saat Manchester City meraih treble pada 2023. Namun, kondisi tersebut sudah jauh berubah.

Dengan gaji mencapai 300 ribu poundsterling (Rp7,08 miliar) per pekan, kontribusi Grealish dinilai tidak lagi sebanding. Meski memiliki kemampuan menggiring bola dan kreativitas yang masih di atas rata-rata, jumlah gol dan assist yang dihasilkan belum mampu membenarkan besarnya bayaran tersebut.

Musim lalu, sebagian besar gaji Grealish ditanggung Everton selama masa peminjamannya. Kini ia telah kembali ke Manchester City, tetapi masa depannya masih belum menemui kejelasan.

 

Penyerang: Gabriel Jesus (Rp6,36 Miliar per Pekan)

Secara teknik, Gabriel Jesus masih dianggap sebagai salah satu pemain paling berbakat di skuad Arsenal.

Namun, produktivitasnya dinilai belum sebanding dengan gaji yang diterima. Dalam tiga musim terakhir, striker asal Brasil itu hanya mampu mencetak 10 gol di Premier League, sementara ia mengantongi bayaran sekitar 265 ribu poundsterling per pekan.

Ditambah dengan riwayat cedera yang cukup sering menghambat penampilannya, Jesus dinilai menjadi salah satu pemain dengan gaji paling tidak sepadan di Premier League saat ini.

Sumber: Planet Football

Penulis: Arif Anggara Putra

Trilogi Sepak Bola Putri
Trilogi Sepak Bola Putri
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer