Kehadiran Dua Perusahaan China Bakal Dongkrak Harga Kelapa di Tingkat Petani

Dua perusahaan China masuk Indonesia, harga kelapa di tingkat petani bakal naik.

Bola.com, Jakarta - Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara, menyatakan bahwa masuknya dua investor dari China ke sektor hilirisasi kelapa di Indonesia merupakan respons terhadap rendahnya harga yang selama ini diterima para petani.

Menurut Rosan, kelapa Indonesia selama ini diekspor ke China dalam bentuk mentah sehingga biaya logistik yang tinggi menekan harga jual dan membuat margin keuntungan petani kian tipis.

"Awalnya, waktu kami melakukan pendekatan ke mereka karena kelapa kita itu selama ini diekspor ke China. Saat dihitung biaya logistik, harga yang diterima petani rendah dan kurang menguntungkan. Nah, itu yang kami yakinkan," ujar Rosan, ditemui usai menghadiri PLN CEO Forum di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26-11-2025).

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Pengolahan di Dalam Negeri

Untuk mengatasi masalah ini, Danantara mendorong investor China agar proses pengolahan kelapa dilakukan langsung di Indonesia.

Dengan fasilitas pengolahan di dalam negeri, biaya logistik ekspor bisa dihapuskan sehingga nilai tambah tetap berada di tangan Indonesia.

"Dengan mereka mau berinvestasi di sini, harga jual kelapa petani bisa meningkat karena tidak ada biaya logistik yang keluar negeri. Ini juga menyerap produksi dalam negeri," lanjut Rosan.

Ia menekankan bahwa strategi ini bukan sekadar menarik investor, tetapi memastikan manfaat nyata sampai ke petani. Hilirisasi diharapkan menciptakan struktur harga yang lebih sehat sekaligus menjamin penyerapan kelapa yang lebih stabil.

Serap 10.000 Tenaga Kerja

Satu di antara proyek hilirisasi yang sedang berjalan memiliki kebutuhan bahan baku mencapai 500 juta butir kelapa per tahun.

Proyek ini ditargetkan rampung pada akhir tahun sehingga bisa mulai beroperasi penuh dan berkontribusi pada rantai pasok industri dalam negeri.

Pada tahap awal, proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 5.000 tenaga kerja. Seiring peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan produk turunan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan diproyeksikan naik menjadi 10.000 orang tahun berikutnya.

"Kelapanya per tahun itu 500 juta butir untuk satu proyek yang sudah berjalan, dan Insyaallah selesai tahun ini. Untuk tahun pertama, penyerapan tenaga kerja sekitar 5.000 orang. Tahun berikutnya, sampai 10.000 orang," ungkap Rosan.

 

Sumber: merdeka.com

Video Populer

Foto Populer