Kolom: Jerman Out dari Piala Dunia 2026, Ketika Harga Pasar Berlutut di Hadapan Keberanian

Paraguay membuat kejutan besar di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Tim elite dunia Jerman mereka perdayai!

Bola.com, Jakarta - Barangkali hanya Piala Dunia yang masih berani mengajukan pertanyaan yang mulai dilupakan oleh zaman.

Apakah manusia masih dapat mengalahkan angka?

Di luar stadion, dunia telah terbiasa menilai hampir segala sesuatu dengan hitungan. Harga saham. Nilai perusahaan. Produk domestik bruto. Nilai pasar pemain. Bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan, pertandingan ini pun telah lebih dahulu diputuskan oleh angka.

Di satu sisi berdiri Jerman.

Peringkat kesepuluh FIFA. Empat kali juara dunia. Nilai skuad hampir €947 juta. Jamal Musiala, Florian Wirtz, Joshua Kimmich, Kai Havertz, Antonio Rüdiger—nama-nama yang lahir dari ekosistem sepak bola paling maju di Eropa, ditempa oleh Bundesliga, Premier League, dan kompetisi elite lainnya.

Di sisi lain berdiri Paraguay.

Peringkat ke-41 FIFA. Nilai skuad sekitar €153 juta. Sebagian besar pemainnya tumbuh di Brasil, Argentina, dan liga domestik Paraguay. Dunia mengenal mereka jauh lebih sedikit. Pasar memberi harga yang jauh lebih rendah kepada mereka.

Di layar stadion, angka-angka itu berganti dengan tenang.

Peringkat FIFA.

Nilai skuad.

Harga pemain.

Seolah pertandingan telah selesai bahkan sebelum dimulai.

Tetapi sejarah manusia berkali-kali menunjukkan bahwa angka memiliki satu kelemahan.

Ia mampu menghitung kekuatan.

Ia tidak pernah berhasil menghitung keberanian.

Perjalanan menuju babak gugur telah memperlihatkan perbedaan keduanya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Bukan Favorit

Jerman melangkah sebagai juara grup. Mereka menghancurkan Curaçao, bangkit mengalahkan Pantai Gading, lalu secara mengejutkan dikalahkan Ekuador. Mereka tetap lolos sebagai pemuncak grup, tetapi menyisakan satu pertanyaan yang diam-diam mulai tumbuh.

Apakah Jerman benar-benar sudah kembali menjadi Jerman?

Paraguay justru memulai turnamen dengan luka. Kekalahan telak pada pertandingan pertama membuat banyak orang menulis akhir cerita mereka lebih cepat daripada mereka sendiri.

Namun, bangsa-bangsa tertentu memang mempunyai hubungan yang berbeda dengan penderitaan.

Mereka tidak menganggap luka sebagai alasan untuk berhenti.

Mereka menganggapnya sebagai alasan untuk bertahan sedikit lebih lama.

Paraguay menang pada pertandingan berikutnya.

Lalu bertahan habis-habisan pada pertandingan terakhir fase grup.

Empat poin mengantarkan mereka ke babak gugur.

Bukan sebagai favorit.

 

Angka Penguasaan Bola Terus Naik

Tetapi sebagai tim yang telah belajar hidup ketika tidak ada lagi yang mempercayainya.

Peluit pertama berbunyi.

Jerman segera mengambil alih pertandingan.

Musiala bergerak di antara garis.

Wirtz mengubah ruang sempit menjadi peluang.

Kimmich mengatur irama permainan seperti seorang dirigen yang tidak pernah kehilangan ketenangan.

Angka penguasaan bola terus naik.

Enam puluh persen.

Tujuh puluh persen.

Hampir delapan puluh persen.

Namun papan skor tidak ikut berubah.

Paraguay membiarkan Jerman menguasai bola.

Mereka hanya tidak membiarkan Jerman menguasai harapan mereka.

Setiap tekel disambut tepukan di bahu.

Setiap sapuan bola dirayakan seperti sebuah gol.

Memahami Apa yang Terjadi

Di bangku cadangan Paraguay, seorang staf pelatih terus berdiri. Ia tidak berteriak. Tangannya hanya menggenggam botol minum yang bahkan tidak pernah ia buka.

Kadang-kadang ketegangan membuat manusia lupa bahwa ia sedang haus.

Kemudian datang bola itu.

Tidak lahir dari rangkaian operan yang akan diputar berulang-ulang dalam video analisis.

Tidak lahir dari kecerdasan taktik yang rumit.

Sepak bola sering kali justru memilih kesederhanaan untuk mengubah sejarah.

Umpan melayang ke kotak penalti.

Julio Enciso melompat.

Sundulannya menembus gawang Jerman.

Paraguay unggul.

Tidak ada sorak yang langsung pecah.

Stadion justru terlambat beberapa detik untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

Seorang anak kecil yang mengenakan syal Jerman perlahan menurunkan benderanya.

Ia menoleh kepada ayahnya.

Ayahnya tidak berkata apa-apa.

Mereka sama-sama memandang papan skor.

Kadang-kadang, diam adalah bahasa pertama yang digunakan manusia ketika kenyataan datang terlalu cepat.

 

Pengepungan

Babak kedua berubah menjadi pengepungan.

Gelombang demi gelombang datang menuju pertahanan Paraguay.

Lalu Jerman menemukan gol penyeimbang.

Stadion meledak.

Yang mengenakan seragam putih berpelukan.

Yang mengenakan biru-merah-putih saling mengangguk pelan.

Tidak panik.

Mereka tahu pertandingan belum selesai.

Justru setelah kedudukan kembali imbang, pertandingan berubah menjadi lebih sunyi.

Tidak ada lagi permainan indah.

Yang tersisa hanya orang-orang yang berusaha membuat tubuhnya bertahan beberapa menit lagi.

Perpanjangan waktu adalah bagian pertandingan yang jarang dibicarakan.

Di sanalah sepak bola berubah menjadi pekerjaan.

Merayakan Kesempatan

Orlando Gill berdiri di depan gawang.

Kausnya basah.

Ia melepas sarung tangan kirinya.

Mengusap wajahnya.

Memakainya kembali.

Lalu memandang lapangan.

Tidak ada kamera yang mampu menangkap apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya.

Mungkin ia sedang mengingat latihan.

Mungkin keluarganya.

Mungkin tidak memikirkan apa pun.

Begitulah manusia ketika ketakutan mencapai puncaknya.

Sering kali pikirannya justru menjadi sangat sunyi.

Jerman kembali menjebol gawang Paraguay.

Para pemainnya berlari.

Bangku cadangan ikut berhamburan.

Lalu wasit mengangkat tangan.

VAR.

Tidak ada yang bergerak.

Puluhan ribu orang menunggu.

Gol dianulir.

Para pemain Paraguay saling memeluk seperti orang-orang yang baru saja diselamatkan dari sesuatu yang tidak terlihat.

Mereka tidak merayakan gol.

Mereka merayakan kesempatan.

 

Perjalanan Pendek ke Titik Putih

Dalam kehidupan, kesempatan kedua sering kali lebih berharga daripada keberhasilan pertama.

Kemudian tibalah adu penalti.

Barangkali inilah bagian paling jujur dari sepak bola.

Tidak ada lagi taktik.

Tidak ada lagi penguasaan bola.

Tidak ada lagi statistik.

Hanya seorang manusia.

Sebelas meter.

Dan seluruh beban sebuah bangsa.

Setiap penendang berjalan sendirian.

Di tengah riuh puluhan ribu orang, tidak ada tempat yang lebih sepi daripada perjalanan pendek menuju titik putih.

Mengajarkan Kerendahan Hati

Di bangku cadangan Paraguay, staf pelatih yang sejak awal terus menggenggam tas medis itu masih menggenggamnya.

Ia lupa meletakkannya.

Baru setelah tendangan terakhir bersarang di gawang Jerman, tas itu jatuh begitu saja ke rumput.

Ia tidak sadar.

Tangannya lebih dulu dipenuhi pelukan.

Paraguay menang.

Sebagian pemain berlari.

Sebagian menangis.

Sebagian hanya berdiri memandangi tribun.

Seolah-olah mereka sendiri belum percaya bahwa malam itu benar-benar milik mereka.

Sementara di sisi lain lapangan, para pemain Jerman tidak segera berjalan ke ruang ganti.

Mereka berdiri cukup lama.

Tidak ada yang bisa dipersalahkan.

Kadang-kadang, dalam olahraga maupun kehidupan, seseorang telah melakukan hampir semuanya dengan benar, tetapi tetap tidak memperoleh hasil yang diinginkan.

Begitulah kenyataan mengajarkan kerendahan hati.

 

Kepala Tegak

Bertahun-tahun dari sekarang, orang mungkin tidak lagi mengingat berapa persen penguasaan bola Jerman malam itu.

Mereka mungkin lupa nilai pasar Musiala, Wirtz, Enciso, atau Almirón.

Angka memang diciptakan untuk laporan.

Ingatan diciptakan untuk manusia.

Dan manusia hampir tidak pernah menyimpan angka paling lama di dalam hatinya.

Ia menyimpan keberanian.

Ia mengingat sebelas orang yang terus bertahan ketika dunia memperkirakan mereka akan runtuh.

Ia mengingat seorang penjaga gawang yang mengusap wajahnya sebelum menghadapi detik-detik paling menentukan dalam hidupnya.

Ia mengingat seorang anak kecil yang diam-diam menurunkan benderanya, lalu belajar bahwa menjadi pendukung bukan hanya tentang merayakan kemenangan, tetapi juga menerima kekalahan dengan kepala tegak.

Menghitung Nilai

Mungkin itulah sebabnya Piala Dunia selalu lebih besar daripada sepak bola.

Karena setiap empat tahun sekali, ia datang untuk mengoreksi kesombongan yang pelan-pelan tumbuh dalam peradaban modern.

Kita semakin pandai menghitung nilai.

Tetapi terlalu sering lupa menghormati keberanian.

Dan setiap kali itu terjadi, sepak bola selalu menemukan caranya sendiri untuk mengingatkan dunia.

Bahwa harga pasar hanya dapat menentukan berapa mahal seorang pemain.

Ia tidak pernah mampu menentukan seberapa besar hati seorang manusia.

 

Azis Subekti

*) Pemerhati dan penulis sepakbola, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, dan Anggota DPR RI Fraksi Gerindra

Video Populer

Foto Populer