Di Balik Tradisi Bertukar Jersey, Ada Kisah yang Sudah Berusia Hampir Seabad

Mengapa pesepak bola sering bertukar jersey? Ternyata ini alasannya.

Bola.com, Jakarta - Ada satu tradisi yang sangat melekat dan paling dikenal dalam sepak bola, yakni pertukaran jersey setelah pertandingan. Sudah tak terhitung lagi jumlahnya saat momen-momen pemain bertukar jersey.

Setelah peluit akhir dibunyikan, pemandangan pemain dari tim lawan melepas dan menukar kaus mereka dengan lawan, sebagai gestur penghormatan dan apresiasi, merupakan hal yang lumrah.

Tradisi ini menciptakan momen sportivitas yang tak terlupakan, dan terkadang menghasilkan gambar-gambar ikonik.

Satu di antara contoh terkenal terjadi setelah kemenangan Prancis atas Maroko di semifinal Piala Dunia 2022, ketika Kylian Mbappe merayakan kemenangan dengan mengenakan jersey rekan setimnya di Paris Saint-Germain ketika itu, yang juga merupakan bintang Maroko, Achraf Hakimi.

Berlanjut di Piala Dunia 2026 saat ini. Kiper Tanjung Verde, Vozinha, juga bertukar kaus dengan superstar Argentina, Lionel Messi, di lorong pemain setelah kemenangan dramatis 3–2 Argentina.

Vozinha kemudian mengatakan momen itu akan selalu tersimpan di hatinya selamanya.

Namun, sebenarnya dari mana asal-usul tradisi bertukar jersey dan mengapa para pemain melakukannya? Mari kita simak.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Tanda Penghormatan dan untuk Koleksi

Pertukaran jersey adalah satu di antara tradisi sepak bola yang paling sederhana, tetapi bermakna. Para pemain saling bertukar kaus sebagai tanda penghormatan, kekaguman, dan apresiasi setelah berbagi lapangan pertandingan.

Praktik ini tidak hanya dilakukan oleh para bintang besar saja. Pemain bertukar jersey untuk mengenang pertandingan istimewa, performa gemilang, atau laga sengit yang menumbuhkan rasa saling menghormati.

Akan tetapi, pertukaran yang melibatkan bintang-bintang besar dunia, tentu yang biasanya paling menyita perhatian.

Bagi banyak pemain, menerima kaus dari satu di antara ikon terbesar sepak bola merupakan momen yang sangat berarti dalam karier mereka.

Itulah sebabnya, pemain seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Erling Haaland kerap didatangi lawan yang berharap bisa mendapatkan kenang-kenangan dari sosok yang mereka kagumi.

Seiring berjalannya waktu, mengoleksi kaus juga telah menjadi semacam seni tersendiri di kalangan pemain. Mantan bek Barcelona, Gerard Pique, misalnya yang telah mengumpulkan koleksi mengesankan yang mencakup jersey dari para legenda, seperti Messi, Andrea Pirlo, dan David Beckham.

Messi juga seorang kolektor jersey. ia memiliki koleksi sangat besar di rumahnya, dengan kaus-kaus yang dipajang di dinding dan disimpan dalam lemari kaca.

Koleksinya mencakup jersey dari nama-nama besar seperti Yaya Toure dan Raul, hingga pemain yang kurang dikenal seperti Youssef El-Arabi dan Oscar Ustari.

Paulo Dybala termasuk pemain yang sangat menggemari kegiatan mengoleksi jersey. Penyerang asal Argentina itu memiliki koleksi jersey dari para bintang seperti mendiang Diogo Jota dan Ronaldinho, dan koleksinya bertambah banyak.

Sejarah Pertukaran Jersey dalam Sepak Bola

Tradisi bertukar jersey telah menjadi bagian dari budaya sepak bola selama hampir satu abad. Menurut FIFA, pertukaran jersey pertama yang tercatat terjadi pada 1931 setelah Prancis secara mengejutkan mengalahkan Inggris dengan skor 5–2.

Usai pertandingan, para pemain Prancis meminta jersey lawan mereka dari Inggris sebagai kenang-kenangan atas kemenangan bersejarah tersebut, dan pihak Inggris menyetujui pertukaran itu.

Praktik ini kemudian merambah ke panggung terbesar sepak bola dari zaman ke zaman berikutnya, dengan pertukaran jersey pertama di Piala Dunia terjadi pada turnamen tahun 1954 di Swiss.

Sejak saat itu, hal yang bermula sebagai gestur sederhana antarlawan telah berkembang menjadi satu di antara tradisi paling ikonik dalam olahraga ini.

Hingga sekarang tradisi ini terus berlanjut, dan beberapa di antaranya telah menjadi bagian dari legenda sepak bola.

Mungkin contoh paling ikonik terjadi pada Piala Dunia Meksiko 1970, dengan "aktor" Pele dan Bobby Moore.

Pertukaran Memorable

Setelah Brasil mengalahkan juara bertahan Inggris dengan skor 1–0 dalam laga fase grup yang legendaris di Guadalajara, kedua kapten tim berbagi momen saling mengagumi saat peluit akhir dibunyikan.

Keduanya berpelukan di lingkaran tengah lapangan sebelum bertukar jersey, menciptakan momen tak terlupakan yang melambangkan rasa hormat, kelas, dan sportivitas yang menjadi inti dari permainan ini.

Pertukaran jersey yang memorable lainnya terjadi pada Piala Dunia 1986 setelah kemenangan tak terlupakan Argentina atas Inggris dengan skor 2–1.

Laga tersebut menjadi saksi Diego Maradona mencetak dua gol paling terkenal dalam sejarah Piala Dunia, gol kontroversial "Tangan Tuhan" dan gol memukau yang dijuluki "Gol Abad Ini" (Goal of the Century).

Setelah peluit akhir, gelandang Inggris, Steve Hodge, bertukar jersey dengan Maradona. Jersey tersebut kemudian menjadi satu di antara memorabilia sepak bola paling berharga yang pernah ada, terjual dengan rekor harga 9,3 juta dolar AS dalam sebuah lelang pada 2022.

Apakah Pemain Diizinkan Bertukar Jersey?

Mengingat betapa eratnya tradisi ini menyatu dengan budaya sepak bola, tentu akan mengejutkan jika pertukaran jersey mendapat larangan.

Kenyataannya, para pemain bebas bertukar jersey setelah pertandingan, meski ada beberapa prosedur di balik layar yang membantu mengatur proses tersebut.

Pemain biasanya diberikan beberapa jersey untuk setiap pertandingan, satu untuk dikenakan saat laga berlangsung dan satu lagi sebagai cadangan jika jersey tersebut rusak atau sangat kotor.

Jika mereka memilih untuk menukar jersey setelah pertandingan, mereka umumnya diperbolehkan menyimpan jersey tersebut, baik untuk ditukarkan dengan lawan, diberikan kepada keluarga dan teman, maupun disumbangkan.

Namun, jersey pengganti tidak selalu gratis. Pemain sering kali harus menanggung sendiri biaya untuk jersey tambahan yang mereka butuhkan. Sebuah praktik yang diterapkan oleh banyak klub di liga-liga papan atas dunia.

Menurut The New York Times, manajer perlengkapan tim di Premier League sebagai contohnya, memiliki grup WhatsApp khusus untuk mengoordinasikan permintaan antarklub sebelum pertandingan sehingga tim dapat bersiap jika terjadi pertukaran jersey.

Adakah Pemain yang Pernah Menolak Bertukar Jersey?

Kendati pertukaran jersey adalah tradisi yang umum diterima dalam sepak bola, hal itu tidak selalu terjadi. Adakalanya pemain menolak permintaan tersebut, baik karena alasan pribadi, situasi pertandingan, atau sekadar karena mereka memang tidak ingin melakukannya.

Sebagai contoh, Cristiano Ronaldo pernah menolak permintaan tukar jersey saat ia masih bermain untuk Juventus.

Setelah pertandingan melawan Atalanta, bek asal Jerman, Robin Gosens, menghampiri megabintang asal Portugal itu dengan harapan bisa mendapatkan kausnya.

"Setelah peluit akhir berbunyi, saya menghampirinya, tetapi Ronaldo menolak," tulis Gosens dalam otobiografinya, Dreams Are Worthwhile.

"Saya bertanya: 'Cristiano, bolehkah saya meminta jerseymu?' Dia bahkan tidak menatap saya, dia hanya berkata: 'Tidak!'"

"Saya merasa sangat malu. Anda tahu momen ketika sesuatu yang memalukan terjadi dan Anda melihat sekeliling untuk memastikan apakah ada orang yang menyadarinya? Itulah yang saya rasakan dan saya berusaha menyembunyikannya," kata Gosens.

Untungnya bagi Gosens, cerita ini berakhir manis. Rekan setimnya di Atalanta, Hans Hateboer, kemudian membeli jersey Ronaldo dan memberikannya sebagai kejutan di ruang ganti.

Sementara itu, satu di antara insiden paling terkenal terkait pertukaran jersey terjadi pada Piala Dunia 1966.

Setelah Inggris mengalahkan Argentina pada perempat final, pelatih Inggris, Sir Alf Ramsey, berlari ke lapangan untuk menghentikan George Cohen bertukar jersey dengan pemain Argentina.

Ramsey bahkan mengambil kembali jersey yang sudah diterima Cohen dari Silvio Marzolini. Setelah insiden tersebut, para pemain Argentina memilih tidak lagi melakukan pertukaran jersey seusai pertandingan.

 

Sumber: Sport Illustrated

Video Populer

Foto Populer