Sukses


Jangan Khawatir, Kunyit dan Temu Lawak Aman Dikonsumsi saat Pandemi Virus Corona

Bola.com, Jakarta - Sejak virus Corona masuk ke Indonesia, warga disuguhi informasi bahwa ramuan tradisional empon-empon, seperti temu lawak, kunyit, jahe, serai, dan kayu manis, efektif untuk menangkal virus yang sudah menginfeksi lebih dari 200 ribu warga dunia itu.

Namun, belakangan ini ada hal berbeda, yang ramai diperbincangkan publik di media sosial. Publik justru diajak untuk menghindari mengonsumsi empon-empon, khususnya ramuan herbal (jamu) temu lawak dan kunyit.

Menurut imbauan tersebut, mengonsumsi jamu temu lawak dan kunyit justru menjadikan tubuh rentan terpapar virus Corona.

"Masyarakat jadi takut mengonsumsi jamu empon-empon yang mengandung temu lawak dan kunyit, maupun suplemen herbal berisi senyawa aktif curcumin," ujar Inggrid Tania, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), lewat keterangan resmi yang diterima Liputan6.com, Kamis (19/3/2020).

Inggrid lantas membeberkan poin-poin penting terkait informasi tersebut. Ia menjelaskan, berbagai penelitian, terutama penelitian in-vitro dan praklinis, di dunia menunjukkan bahwa curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur, dan antioksidan.

"Salah satu manfaat curcumin yang terungkap melalui berbagai penelitian dan uji klinis adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh atau berperan sebagai imunomodulator," lanjutnya.

Penelitian terakhir terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit corona COVID-19 menunjukkan reseptor virus tersebut adalah enzim bernama ACE2 yang terdapat pada sel inang, yakni sel manusia, terutama sel alveolus dalam paru.

Namun, pintu masuk virus SARS-CoV-2 tidak hanya bergantung pada ikatan protein spike virus dengan reseptor pada sel inang (ACE2), tetapi juga priming protein spike oleh protease sel inang.

Secara fungsional, ada dua bentuk ACE2, yakni fixed, menempel pada permukaan sel, dan soluble, bentuk bebas dalam darah.

ACE2 bentuk soluble diproyeksikan jadi satu di antara kandidat antivirus SARS-CoV-2 melalui mekanisme interseptor kompetitif yang mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 2 halaman

Terbukti Aman dan Bermanfaat

 

Penelitian bio-informatika yang dipublikasikan Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebutkan curcumin merupakan satu di antara kandidat antivirus SARS-CoV-2.

"Diharapkan Curcumin (kandungan di temulawak dan kunyit) mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble, yang dapat menghambat terjadinya ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed pada permukaan sel inang," tutur Inggrid.

Inggrid menambahkan, kepustakaan jurnal acuan pesan yang beredar di berbagai media sosial dengan Xue-Fen Pang sebagai peneliti utama, berisi penelitian yang sebatas menyimpulkan curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel miokardium hewan tikus.

"Sebagai catatan khusus, peneliti utama tersebut pernah memiliki riwayat retracted article atau ditariknya publikasi artikel dari jurnal atas dasar diragukan integritas dari hasil penelitian," katanya.

Berdasarkan penelitian yang sudah dijabarkan tersbeut, ia mengatakan penarikan kesimpulan kandungan tersebut pada tubuh manusia terlalu dini sehingga larangan konsumsi jamu temu lawak dan kunyit, serta suplemen curcumin dengan alasan menimbulkan kerentanan terhadap COVID-19, tidak rasional karena belum ada satu pun penelitian yang mengkonfirmasi dampak buruk temu lawak, kunyit, maupun curcumin terhadap COVID-19.

Inggrid mengatakan, jamu yang mengandung temu lawak dan kunyit sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad dan terbukti aman, serta bermanfaat terhadap kesehatan.

"Di antaranya memelihara kesehatan, kebugaran atau vitalitas, bahkan menjaga kesehatan liver dan pencernaan," ujarnya.

 

Disadur dari: Liputan6.com (Penulis: Asnida Riani, Editor: Dinny Mutiah. Published: 19/3/2020)

 

Video Populer

Foto Populer