F1 GP Belanda: Hello Second-Half of The Season, Goodbye Zandvoort!

Hiruk-pikuk Formula 1 bergulir kembali akhir pekan ini di Zandvoort.

Bola.com, Jakarta - Setelah jeda mandatori paruh musim selama empat minggu, hiruk-pikuk Formula 1 (F1) bergulir kembali akhir pekan ini di Zandvoort, Belanda, 21-23 Agustus. There are 11 races down, 12 more to go!

Apakah akan ada lagi rangkaian podium berbeda, seperti yang terjadi di setiap lomba sepanjang 2026? Apakah Kimi Antonelli akan memperlebar jarak di puncak klasemen sekaligus memvalidasi kedigdayaan Mercedes tahun ini?

Ataukah sang pesaing terdekat, Lewis Hamilton, yang bakal merebut poin maksimum? Bagaimana dengan local hero Max Verstappen, yang baru saja memperpanjang kontrak di Red Bull hingga 2030? Akankah ia menjadi juara di depan puluhan ribu Orange Army sekaligus menjadi pembalap terakhir yang menggaet titel di Zandvoort?

Tentunya kita harus menunggu hingga Minggu (23/8) sore waktu setempat untuk jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas. Satu hal yang pasti, banyak pembalap yang bakal merasa kehilangan dengan lenyapnya Dutch Grand Prix alias GP Belanda di kalendar F1 mulai tahun depan.

Zandvoort adalah salah satu dari segilintir sirkuit klasik di Eropa. Bukan yang tertua tentunya—gelar itu milik Circuit de Spa-Francorchamps (Belgia) yang dibuka pada 12 Agustus 1921 dan menggelar lomba Kejuaraan Dunia F1 sejak 1950, tapi Zandvoort termasuk yang beroperasi sejak pasca Perang Dunia II.

Dibuka pada 1948, hampir bersamaan dengan Sirkuit Silverstone di Inggris, Zandvoort (yang dalam Bahasa Belanda artinya “di depan pasir” karena memang berlokasi di pesisir pantai) pertama kali mementaskan ajang F1 pada 1952. Jawara perdana waktu itu adalah Alberto Ascari yang mengendarai Ferrari.

Keunikan Zandvoort adalah sirkuit ini tidak terasa seperti race-track modern F1, tapi lebih seperti track yang dibangun di sela-sela sand dunes alias bukit-bukit pasir.

Dengan panjang 4,249 km dan 14 tikungan, Zandvoort memiliki karakter sempit, bergelombang, dan sangat laju di beberapa sudut. Para pembalap tanpa henti menghadapi tanjakan, turunan, dan tikungan, gantinya melaju di lintasan lurus panjang dan datar. Tak heran, sirkuit ini dijuluki “rollercoaster”.

Fitur utamanya adalah “banking” (lintasan miring). Contoh: tikungan 3 dan 14 dibuat dengan kemiringan yang lumayan curam—sekitar 18-19 derajat. Tingkat kemiringan ini tergolong sangat curam untuk standar F1 dan ini memungkinkan pembalap tancap gas sembari memilih jalur berbeda saat melintasi tikungan.

Verstappen sendiri pernah berkomentar bahwa kemiringan lintasan dengan tikungan laju plus area runoff yang terbatas membuat sirkuit ini punya tantangan tersendiri.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Penyebab Zandvoort Disukai Pembalap

Kebanyakan pembalap suka Zandvoort karena sirkuit ini benar-benar menguji hal-hal yang memang mereka harapkan dari sirkuit F1: komitmen, ritme, dan akurasi.

Ada rangkaian tikungan di mana satu tikungan langsung berimbas pada tikungan berikutnya, yang artinya satu kesalahan kecil bisa membuat pembalap kehilangan waktu hingga beberapa persepuluh detik.

Nah, karena pembatas dan area kerikil cukup dekat, pembalap tidak bisa begitu saja melewatkan apex (titik puncak tikungan) dan terhindar dari area runoff. Jadi, presisi, akurasi dan koordinasi—kapan ngerem, kapan banting setir dan kapan tancap gas harus betul-betul pas. Sebastian Vettel adalah salah satu dari banyak pembalap yang memuji karakter klasik tersebut. “It’s super fun,” kata Oscar Piastri, juara tahun lalu.

Bukan hanya pas lomba, sesi kualifikasi juga bisa mengasyikkan dan memuaskan sang pembalap jika ritme-nya memang ketemu. Lap ideal kira-kira seperti ini: belok, banting setir, kompresi, tikungan miring, rangkaian tikungan cepat lainnya, ulangi lagi (tak bisa rileks sedikitpun).

Sepertinya cuma satu hal yang membuat Zandvoort kurang afdol, terlebih di mata fans, yakni overtaking. Track di sini sangat sempit dan cuma sedikit zona heavy braking dimana dua mobil bisa melaju berdampingan dengan leluasa. Satu-satunya lokasi yang gampang untuk menyalip adalah Tikungan 1 (alias Tarzan Turn), setelah main track yang lurus.

Di tempat lain, well, agak sulit. Jadi, aksi salip-menyalip biasanya tak akan terlalu sering, kalah dibandingkan sirkuit-sirkuit macam Bahrain, Spa (Belgia), ataupun Interlagos (Brazil).

Jangan heran kalau, sejak Zandvoort kembali ke kalendar F1 pada 2021, para pemenangnya adalah mereka yang start dari deretan depan.

Berakhir Tahun Ini

Formula 1 tidak serta-merta mendepak Zandvoort hanya karena mereka tidak menyukai sirkuit tersebut. Promotor Grand Prix Belanda memutuskan untuk tidak melanjutkan penyelenggaraan setelah tahun 2026.

F1 dan Zandvoort sebenarnya telah sepakat untuk memperpanjang kontrak selama satu musim terakhir, menjadikan tahun 2026 sebagai ajang perpisahan.

Masalah utamanya lebih banyak berkaitan dengan faktor ekonomi. Berbeda dengan beberapa Grand Prix baru yang didukung oleh pemerintah atau investasi negara dalam jumlah besar semisal Bahrain atau Azerbaijan, GP Belanda beroperasi dengan landasan kepentingan komersial.

Menyelenggarakan balapan F1 memakan biaya yang sangat besar, dan promotor menanggung risiko finansial yang signifikan jika penjualan tiket atau pendapatan lainnya menurun.

Fenomena popularitas Verstappen turut membuat Zandvoort sangat digemari setelah kembali ke kalender balap pada tahun 2021—yang setiap tahunnya selalu dipenuhi lautan warna oranye.

Namun komitmen terhadap biaya penyelenggaraan F1 jangka panjang yang kian membengkak adalah persoalan yang berbeda. Daripada mengambil risiko kerugian di masa mendatang, panpel memilih untuk mengakhiri kerja sama selagi ajang ini masih sukses.

Jadi, GP Belanda 2026 yang berlangsung akhir pekan dijadwalkan menjadi balapan F1 terakhir di Zandvoort untuk masa mendatang. Reuters menyebutnya sebagai penampilan terakhir sirkuit tersebut dalam kejuaraan untuk waktu yang akan datang.

So, akhir pekan ini sangat istimewa bagi Max: ia juara 3x sejak balapan tersebut kembali digelar di Zandvoort, dan 2026 praktis menjadi Grand Prix Belanda terakhir baginya di kandang sendiri.

 

Red Bull vs Mercedes

Ada satu hal lagi yang membuat akhir pekan ini sangat menarik, terutama jika dikaitkan dengan situasi power unit Red Bull vs Mercedes untuk tahun 2026: Zandvoort bisa saja menyembunyikan beberapa kelemahan terbesar Red Bull.

Jika dikomparasi dengan Spa, misalnya, Zandvoort tidak memiliki lintasan lurus panjang ala Kemmel yang memungkinkan Mercedes memanfaatkan penyaluran tenaga listrik (electrical deployment) dengan durasi lama.

Jika Anda penggemar Max Verstappen, saya kira dia bisa saja lebih kompetitif melawan Kimi di sini dibandingkan saat di Spa.

Karakteristik lintasan ini menuntut keseimbangan kecepatan tinggi, kepercayaan diri, dan presisi—aspek-aspek yang menjadi kekuatan luar biasa Verstappen. Tapi, ini kan cuma teori dan prediksi.

Anything can happen, jadi kita nikmati saja Zandvoort untuk terakhir kali!

Barry B. Manembu

Mantan Wartawan Olahraga, kini bermukim di AS

Trilogi Sepak Bola Putri
Trilogi Sepak Bola Putri
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer