Mike Tyson Sebut Floyd Mayweather Petinju Terbaik dalam 100 Tahun Terakhir, Muhammad Ali Tersisih?

Mike Tyson pernah menyebut Floyd Mayweather sebagai petinju terbaik dalam 100 tahun terakhir.

Bola.com, Jakarta - Mike Tyson dikenal sebagai satu di antara petinju kelas berat paling menakutkan dalam sejarah tinju.

Namun, ketika membahas siapa petinju terbaik dalam 100 tahun terakhir, Tyson justru memberikan pujian tinggi kepada Floyd Mayweather Jr., bukan Muhammad Ali yang selama ini menjadi inspirasinya.

Pernyataan tersebut disampaikan Tyson dalam podcast 'Hotboxin' with Mike Tyson pada 2020, ketika membahas pertarungan tinju antara Mayweather dan mantan juara UFC, Conor McGregor, yang berlangsung pada 2017.

Tyson menyoroti kemampuan McGregor bertahan hingga 10 ronde menghadapi Mayweather, meski McGregor belum memiliki pengalaman bertanding tinju profesional sebelum duel tersebut.

"Dia belum pernah benar-benar menjalani pertandingan tinju sebelumnya, bukan? Dia mampu bertahan selama 10 ronde melawan petinju terbaik dalam 100 tahun terakhir. Dia juga berhasil mendaratkan pukulan. Lihat apa yang dilakukannya," ujar Tyson, dikutip dari Give Me Sport.

Pujian itu menegaskan tingginya penilaian Tyson terhadap Mayweather, yang dikenal memiliki pertahanan solid, kecepatan, dan kemampuan membaca pergerakan lawan.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Pensiun dengan Rekor Sempurna

Mayweather memiliki catatan profesional yang menjadi satu di antara alasan namanya kerap masuk perdebatan mengenai petinju terbaik sepanjang masa.

Ia mengakhiri karier profesionalnya dengan rekor 50 kemenangan tanpa kekalahan.

Petinju berjuluk Money tersebut juga tercatat sebagai juara dunia di lima kelas berbeda.

Sepanjang kariernya, ia meraih 11 gelar juara dunia dan mencatat 26 kemenangan beruntun dalam pertarungan perebutan gelar dunia.

Salah satu pertarungan paling terkenal dalam kariernya adalah duel melawan Manny Pacquiao pada 2015. Pertandingan tersebut menjadi salah satu laga tinju dengan jumlah pembelian siaran berbayar tertinggi sepanjang sejarah.

Dua tahun kemudian, Mayweather menghadapi McGregor dalam pertarungan lintas cabang olahraga yang menyedot perhatian dunia.

Mayweather menang melalui technical knockout pada ronde ke-10, memperpanjang rekor tak terkalahkannya menjadi 50 kemenangan.

Meski begitu, status sebagai petinju terbaik sepanjang masa tetap menjadi perdebatan.

Rekor sempurna Mayweather menjadi satu di antara argumen pendukung, tetapi pencapaian dan pengaruh petinju dari era berbeda juga kerap dijadikan tolok ukur.

Muhammad Ali Tetap Menjadi Idola Mike Tyson

Pujian Tyson kepada Mayweather tidak berarti ia melupakan Muhammad Ali. Ali merupakan sosok yang menginspirasinya untuk menekuni tinju sejak kecil.

Kekaguman Tyson terhadap Ali bahkan mendorongnya bertekad membalas kekalahan sang idola dari Larry Holmes pada 1980.

Tyson kemudian mengalahkan Holmes melalui knockout pada ronde keempat dalam pertarungan mereka pada 1988.

Ali dikenal bukan hanya karena prestasinya di atas ring, tetapi juga pengaruhnya terhadap perkembangan tinju dan budaya populer.

Ia tiga kali menjadi juara dunia kelas berat dan terlibat dalam sejumlah pertarungan legendaris, termasuk melawan Joe Frazier dan George Foreman.

Menariknya, dalam wawancara yang lebih baru bersama Piers Morgan pada Oktober 2026, Tyson secara eksplisit menyebut Ali sebagai petinju terbaik.

Ia menggambarkan Ali sebagai sosok yang mampu menghadapi lawan-lawan paling berbahaya.

Dengan demikian, pernyataan Tyson mengenai Mayweather dan Ali perlu dilihat berdasarkan konteks wawancara masing-masing.

Pujian kepada Mayweather pada 2020 menyoroti statusnya sebagai petinju terbaik dalam satu abad, sedangkan pernyataan terbarunya menegaskan kekaguman Tyson terhadap Ali.

Mike Tyson Juga Ingin Menghadapi Floyd Mayweather

Hubungan Tyson dan Mayweather kembali menjadi perhatian setelah keduanya dikaitkan dengan rencana pertarungan ekshibisi pada 2026.

Namun, duel tersebut belum terlaksana setelah Tyson mengalami patah tulang tangan kanan saat menjalani latihan.

Dalam wawancara dengan Piers Morgan, Tyson kembali menyatakan keinginannya untuk menghadapi Mayweather. Ia bahkan mengaku masih menjalani latihan lari cepat sebagai bagian dari persiapannya.

Tyson menutup karier tinju profesionalnya dengan 50 kemenangan, tujuh kekalahan, dan dua hasil no contest, dengan 44 kemenangan melalui knockout.

Ia juga masih memegang rekor sebagai juara dunia kelas berat termuda setelah merebut gelar WBC pada usia 20 tahun pada 1986.

Sementara itu, Mayweather tetap menjadi salah satu nama terbesar dalam sejarah tinju berkat rekor tak terkalahkan dan pencapaiannya di lima kelas berbeda.

Perbedaan era, gaya bertarung, serta prestasi membuat perdebatan mengenai siapa yang terbaik akan terus berlanjut.

 

Sumber: Give Me Sport

Video Populer

Foto Populer