Tugiyo, PSIS 1987, dan Visi Bermain yang Tak Habis Termakan Usia

oleh Wiwig Prayugi diperbarui 16 Nov 2015, 11:30 WIB
Pemain legenda PSIS Semarang di Liga Indonesia 1998/1999, Tugiyo, kini melatih SSB di Salatiga. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Bola.com, Semarang - Legenda PSIS Semarang meramaikan acara silaturahmi dan laga uji coba melawan SIWO PWI Jateng, Minggu (16/11/2015) di Stadion Citarum, Semarang. Pemain PSIS lintas generasi menjadi satu tim bernama PSIS All Star melawan jurnalis olahraga Jawa Tengah.

Eks pemain PSIS yang hadir, mulai dari generasi emas 1987, seperti Ahmad Muhariah, Sudaryanto, dan Budi Wahyono. Tak ketinggalan suksesor mereka, Tugiyo dan pemain dari angkatan 2000-an, Idrus Gunawan, Sutrisno, serta Restu Kartiko. 

Laga berakhir dengan kemenangan PSIS All Star 5-4. Dua striker beda generasi, Tugiyo dan Budi Wahyono masing-masing mencetak dua gol. Satu gol lagi dicetak kapten PSIS 1987, Sudaryanto.

Meski menang dengan selisih gol tipis, pemain PSIS All Star dengan tampilan perut gendut dan rambut beruban mampu membuat wartawan yang jauh lebih muda kewalahan. Babak kedua, terpaksa 11 pemain dari tim wartawan diganti akibat kelelahan. 

Uji coba atau sekadar mencari keringat memang kerap dilakukan oleh mantan pemain Tim Mahesa Jenar. Tapi, jarang ada momen yang mempertemukan pemain dari generasi berbeda. Biasanya, mereka yang berkumpul rutin adalah pemain satu angkatan.

Sebagai contoh, pemain era Liga Indonesia 2004 ke atas seperti M. Ridwan, Agus Murod, dan Modestus Setiawan sering berkumpul untuk main bulu tangkis dan memancing.

Advertisement

Angkatan 1987 yang kini berusia 54-56 tahun mayoritas bekerja di BUMN, BUMD, dan bank. Setiap tiga bulan sekali mereka bermain futsal. PSIS 1987 telah kehilangan tiga personel, yakni Ribut Waidi yang meninggal pada Juni 2012, bek Rochadi berpulang pada Januari 2013, dan manajer tim Ismangoen Notosaputro wafat pada Mei 2015.

“Minimal dua atau tiga bulan sekali kami kumpul. Bila masing-masing sibuk, kami hanya bertemu kalau ada acara atau uji coba,” kata Sudaryanto.

Usia Sudaryanto dkk. tak lagi bersahabat untuk duel fisik. Tapi, visi bermain, kontrol bola, dan akurasi umpan para legenda masih teruji. Era 1987, di mana PSIS jadi juara Perserikatan merupakan masa kejayaan sempurna sepak bola Semarang. Cara bermain mereka diingat oleh pecinta sepak bola Kota Atlas hingga kini.

“Kami bermain dengan umpan pendek, cepat, dan mengandalkan gelandang yang punya daya jelajah tinggi dan kecepatan pemain sayap seperti mendiang Ribut. Walaupun main di lapangan becek, tidak ada efeknya karena fisik kami unggul. Kami malah selalu menang,” ungkap Ahmad Muhariah, playmaker PSIS Semarang 1987 yang kini melatih PSCS Cilacap.

Pelatih mereka, Sartono Anwar, terkenal galak. Bila terlambat latihan lima menit, pemain dihukum mengelilingi Stadion Citarum 10 kali. Belum lagi bila ada yang ketahuan merokok, hukuman akan bertambah berat. Tak heran bila mereka jago memainkan bola pendek satu dua dengan cepat dan piawai menaklukkan lapangan berkubang. 

Mantan pemain PSIS Semarang dalam laga uji coba melawan SIWO PWI Jateng di Stadion Citarum Semarang, Minggu (15/11/2015) (Istimewa)

Bagi Semarang, PSIS 1987 fenomenal. Setelah melangkah ke babak 6 besar Perserikatan, PSIS yang memiliki materi biasa dibanding kontestan lain mampu melesat hingga final dan juara. Persib Bandung yang diperkuat Robby Darwis dan Adjat Sudrajat kalah 0-1 pada babak 6 besar. Begitu pula Marzuki Nyak Mad, Azhari Rangkuty, dan Patar Tambunan yang membela Persija juga kalah 1-3.

Akhirnya, partai puncak Perserikatan 1986-1987 mempertemukan PSIS dengan musuh bebuyutan mereka, Persebaya Surabaya. Kala itu, Persebaya lebih dijagokan karena memiliki materi lebih bagus, seperti Mustaqim dan I Gusti Putu Yasa. PSIS menang lewat gol tunggal Syaiful Amri.

PSIS 1987 menjadi jargon tersendiri bagi pecinta sepak bola Semarang, untuk menggambarkan sebuah tim sepak bola lokal yang ideal. Pada masa itu merupakan penampilan terbaik PSIS sepanjang berkiprah di kompetisi Perserikatan. Tiga dekade sebelumnya, tepatnya pada tahun 1959, PSIS juara Kejurnas PSSI. Dua pemain pada era itu mewarnai skuat timnas Indonesia pada Olimpiade Melbourne 1956, yakni Kholil Danoe Atmodjo dan Jasrin Yusron.

Tongkat estafet kejayaan PSIS dituntaskan dengan baik oleh generasi 1990-an, Tugiyo dkk. Lagi-lagi, PSIS yang kala itu dilatih Edy Paryono mengalahkan Persebaya 1-0 pada final Liga Indonesia 1998-1999. Gol tunggal Tugiyo pada perpanjangan waktu membuatnya jadi legenda. Ia masih dikenang meski karier pemain berjulukan Maradona dari Purwodadi ini singkat. Tugiyo pensiun dini pada 2005 akibat cedera lutut.

“Sekarang saya aktif melatih SSB di Salatiga. Sebenarnya sangat jarang dapat kesempatan berkumpul dengan para senior di PSIS. Acara silaturahmi harus terus dilakukan supaya generasi lama PSIS tidak hilang,” kata Tugiyo.

Para legenda sepakat, kejayaan PSIS Semarang wajib diulang oleh generasi berikutnya. Satu pesan penting dari mereka untuk para penerus adalah: bermainlah dengan hati dan kebanggaan.