Agum Gumelar: Turnamen Elite Menyakiti Klub-klub Kecil

oleh Tengku Sufiyanto diperbarui 12 Jan 2016, 09:30 WIB
Ketua Tim Ad Hoc, Agum Gumelar prihatin dengan kondisi sepak bola Indonesia tanpa kompetisi. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Jakarta - Ketua Tim Ad Hoc, Agum Gumelar berharap kompetisi di Indonesia bisa berjalan kembali. Pasalnya, saat kompetisi kosong, turnamen yang digelar hanya diikuti oleh klub-klub papan atas dari ISL, tanpa mengikutsertakan klub-klub yang berlaga di Divisi Utama dan Liga Nusantara di Indonesia.

Memang, pada tahun 2015 ada turnamen Piala Kemerdekaan yang melibatkan klub Divisi Utama. Namun, turnamen itu tidak dinikmati oleh seluruh klub Divisi Utama di Indonesia. Lalu ada Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman. Dua turnamen itu mayoritas diikuti klub ISL.

"Turnamen sejatinya sangat bagus mengisi kekosongan kompetisi. Tapi, turnamen hanya melibatkan tim-tim elite saja. Sementara, klub di Indonesia itu ratusan dan butuh aktivitas," ungkap Agum usai memimpin rapat Tim Ad Hoc di kediamannya, Jakarta, Senin (11/1/2016) malam.

Advertisement

Sejak kompetisi-kompetisi di Indonesia terhenti akibat konflik berkepanjangan PSSI dan Menpora pada Maret 2015, banyak klub menganggur. Beberapa klub Divisi Utama masih terlibat di turnamen lokal, seperti Persis Solo, PSMS Medan, hingga PSGC Ciamis dan Martapura FC yang jadi peserta Piala Presiden.

Akan tetapi, masih ada puluhan klub Divisi Utama dan ratusan klub Liga Nusantara memilih vakum ketimbang membuang biaya tanpa ada kompetisi yang jelas. Meski ada kompetisi lokal, baik tarkam maupun level Piala Gubernur, turnamen itu hanya berkala dan hadiah juga tidak maksimal.

Selanjutnya, Piala Jenderal Sudirman bahkan tidak melibatkan klub-klub Divisi Utama dan Liga Nusantara. Turnamen yang diselenggarakan untuk memperingati HUT TNI ke-70 tersebut ke-14 pesertannya berasal dari ISL, dan satu tim berasal dari klub amatir, PS TNI.

"Sangat disesalkan yang diundang hanya Persija Jakarta, Arema Cronus, Persib Bandung, dan klub ISL lainnya. Saya mengerti itu semua karena daya jual turnamen. Tapi, bagaimana pun banyak klub di Indonesia yang jumlahnya ratusan ingin kembali beraktivitas mengikuti kompetisi yang resmi," ujar Agum.

Selain Agum, APPI (Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Indonesia) juga menyesalkan mengapa penyelenggara turnamen fokus pada klub elite, sementara ada ribuan pemain sepak bola dari Divisi Utama dan Liga Nusantara kehilangan pekerjaan akibat kompetisi vakum. Bahkan, APPI juga mengancam akan melakukan mogok di turnamen-turnamen yang akan digelar berikutnya.