Bedah Statistik Kekuatan dan Kelemahan Semen Padang di PJS

oleh Ashiddiq Adha diperbarui 14 Jan 2016, 13:15 WIB
Labbola membedah performa Semen Padang di Piala Jenderal Sudirman (Labbola).

Bola.com, Jakarta - Piala Jenderal Sudirman (PJS) 2015 sudah memasuki semifinal. Semen Padang yang sempat terseok-seok di babak penyisihan tampil apik di 8 besar dan berhasil jadi juara grup. Labbola menganalisis faktor-faktor sukses serta kekurangan Semen Padang hingga babak semifinal leg pertama.

Taktik bertahan yang berjalan sukses

Advertisement

Salah satu faktor yang mampu mengantarkan Semen Padang hingga semifinal adalah strategi bertahan yang diterapkan Nilmaizar. Pola yang diterapkan Nil adalah 4-4-2 atau 4-4-1-1 sepanjang turnamen. Dengan menempatkan 4 bek sejajar, sehingga kerja utama seorang fullback dalam strategi ini difokuskan untuk bertahan.

Semen Padang bukan tim yang gemar dominan menguasai bola. Kabau Sirah cenderung membiarkan lawannya menguasai bola di lini tengah. Bahkan sejauh ini, Semen Padang rata-rata hanya menguasai bola dengan persentase 43%.

Setelah lawan dibiarkan menguasai bola dan hendak memasuki sepertiga akhir pertahanan, barulah bek serta dua gelandang bertahan Semen Padang melakukan tekanan.

Dari 181 tekel sukses yang dilakukan tim Semen Padang, 138 tekel di antaranya dilakukan bek serta gelandang bertahan Semen Padang. Selain itu, salah satu faktor kunci kokohnya pertahanan Semen Padang adalah Mahamadou Alhadji.

Pemain yang masuk menggantikan peran Goran Gancev ini merupakan tipe bek yang disenangi Nilmaizar. Alhadji terbilang pas untuk skema yang diterapkan Nil. Bahkan, pemain asal Mali ini mencatatkan 34 kali intersep, yang menjadikannya dengan jumlah intersep tebanyak di PJS sejauh ini.

Keberadaan sayap cepat bantu maksimalkan taktik serangan balik

Jika sudah bertahan terlalu dalam, salah satu cara yang paling ampuh untuk mencetak gol adalah melalui serangan balik. Sejauh ini, Semen Padang melakukan itu dengan baik, khususnya di babak 8 besar.

Dari 10 gol yang diciptakan Semen Padang, terhitung lima di antaranya dimulai dari serangan balik. Pemain cepat seperti Hendra Adi Bayauw, Nur Iskandar, dan Irsyad Maulana menjadi aktor dalam suksesnya serangan balik tersebut.

Nil beruntung memiliki sayap seperti Irsyad Maulana dan Hendra Bayauw memudahkan skema itu terjadi. Cara bermain sederhana diterapkan Nil. Ketika sukses memenangkan bola di daerah pertahanan sendiri, bola biasanya dikirimkan menuju kedua pemain sayap ini. Irsyad sejauh ini sudah mencatatkan 2 gol dan uniknya kedua gol tersebut dicetaknya dari luar kotak penalti.

Sedangkan kecepatan Bayauw benar-benar dimanfaatkan Nil untuk mengacak-acak pertahanan lawan. Tercatat, pemain asal Tulehu tersebut sudah 10 kali sukses melewati lawan, dan mencatatkan 10 umpan silang sukses. Meski berposisi sebagai sayap, Bayauw kerap dijadikan sebagai tumpuan penyerangan. Bayauw bahkan menjadi pemain Semen Padang paling sering menciptakan peluang, yaitu 15 kali.

Efektif dalam memanfaatkan bola mati

Salah satu faktor kesuksesan Semen Padang mencetak gol dalam turnamen PJS kali ini adalah efektif dalam memanfaatkan situasi bola mati. Tercatat, 5 dari 10 gol Semen Padang bermula dari kondisi bola mati. Bahkan di babak 8 besar, 5 dari 6 gol Semen Padang dicatatkan lewat set piece.

Jika dirinci, dari 15 gol set piece tersebut, 2 kali lewat sepak pojok, 2 kali lewat penalti dan 1 kali lewat tendangan bebas. Tidak jarang situasi bola mati itu tercipta saat Semen Padang melakukan serangan balik.

Labbola menganalisis penampilan Hendra Bayauw bersama Semen Padang di Piala Jenderal Sudirman. (Labbola)

Lengah pada menit akhir

Salah satu masalah yang perlu dibenahi oleh Semen Padang adalah terkait konsentrasi pada menit akhir, terutama setelah water break babak kedua. Tercatat 6 dari 7 gol yang bersarang di gawang Jandia Eka Putra terjadi setelah water break babak kedua.

Pada pertandingan melawan Mitra Kukar, PS TNI, dan Persija, hal ini tidak begitu berpengaruh karena saat itu kondisi Kabau Sirah yang dibilang sudah aman. Namun, masalah tersebut terasa memilukan saat Semen Padang bersua Persipura dan Pusamania Borneo FC.

Pada pertandingan tersebut, gol penalti Ian Louis Kabes merenggut tiga poin Kabau Sirah. Serta 2 gol Srdjan Lopicic membuat Semen Padang harus pulang dengan kekalahan 0-2 pada pertandingan semifinal leg pertama.

Lini depan tumpul

Salah satu kelemahan yang masih belum mengalami perbaikan sedari babak penyisihan adalah lini depan Semen Padang. Meski duet James Koko Lomell dan Nur Iskandar sejauh ini sudah mencatatkan 4 gol, 2 gol di antaranya diciptakan dari tendangan penalti.Duet ini sebenarnya mampu menciptakan banyak peluang. Hanya, penyelesaian akhir masih menjadi masalah.

Nur Iskandar sejauh ini sudah menciptakan 14 tembakan ke gawang, bahkan Nur menjadi pemain paling sering melakukannya di PJS sejauh ini. Namun, baru 1 gol tercipta dari kakinya.

Setelah dikalahkan oleh Borneo FC di leg pertama semifinal, mau tidak mau, Nil harus bermain menyerang penuh demi mengejar defisit gol. Nil perlu berani menginstruksikan pemainnya menguasai bola sedini mungkin, memanfaatkan segala kondisi bola mati yang ada, serta mengasah penyelesaian akhir para penyerang.

Serta yang terpenting, pemain Semen Padang harus berkonsentrasi penuh hingga pertandingan benar-benar berakhir bila ingin lolos ke final dan memenangkan turnamen ini.