Profil Klub Torabika SC 2016: PS TNI

oleh Ronald Seger Prabowo diperbarui 12 Apr 2016, 08:00 WIB
Profil klub Indonesia Soccer Championship 2016, PS TNI. (Bola.com/Rudi Riana)

Bola.com, Jakarta - Berikut bola.com menyajikan profil PS TNI, sebagai salah satu kontestan baru kompetisi kasta elite Torabika Soccer Championship 2016.

Muda, cepat, bertenaga. Itulah yang bisa digambarkan dari tim PS TNI. Keputusan mengakuisisi secara penuh Persiram Raja Ampat senilai Rp 17 miliar beberapa waktu lalu digadang-gadang jadi warna baru di kerasnya pertarungan kompetisi papan atas Indonesian Soccer Championship (ISC) 2016.

PS TNI awalnya bukan siapa-siapa sebelum mendekati PSMS Medan untuk mengarungi Piala Jenderal Sudirman, tahun lalu. Sempat dianggap remeh karena satu-satunya tim amatir di ajang itu, PS TNI perlahan menunjukkan jati diri.

Tim PS TNI Saat bertanding pada laga Piala Jenderal Sudirman di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (12/12/2015). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Fondasi kuat dari PSMS Medan selaku juara Piala Kemerdekaan plus pemain dari anggota TNI aktif yang memiliki disiplin tinggi dan stamina prima jadi bekal utama. Itu saja? Tidak. PS TNI juga memboyong eks skuat Timnas U-23 yang bertatus prajurit.

Sebut saja Manahati Lestusen, Wawan Febriyanto, Abduh Lestaluhu, dan Ahmad Nufiandani yang membela Tim Merah Putih pada SEA Games 2014. Tidak hanya itu, mereka juga diperkuat dua eks pemain Timnas U-19, yakni Ravi Murdianto dan M. Dimas Drajad. Keduanya memang memperkuat PS TNI karena baru saja resmi menjadi prajurit TNI.

Advertisement

Belum lagi adanya personel senior macam sang kapten Legimin Raharjo membuat tim yang saat ini bermarkas di Mako Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat jadi skuat yang layak diperhitungkan.

PS TNI memang tidak mendapat gelar apapun di turnamen Piala Jenderal Sudirman maupun Torabika Bhayangkara Cup. Namun, performa mereka sudah mengundang decak kagum dari penikmat sepak bola maupun tim rival.

Saat terjun di Piala Jenderal Sudirman, PS TNI mampu jadi juara Grup C pada fase penyisihan. Torehan itu tentu membanggakan mengingat mereka mengalahkan tim bertabur bintang seperti Pusamania Borneo FC, Surabaya United maupun juara ISL 2014, Persib Bandung. Meski demikian, langkah PS TNI terhenti di fase delapan besar oleh Semen Padang, Mitra Kukar, dan Persija Jakarta.

Aksi mereka berlanjut ke Torabika Bhayangkara Cup. PS TNI memang tidak lolos ke babak selanjutnya. Namun, setidaknya mereka kembali mengecundangi Pusamania Borneo FC, 3-1, di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.

Kini mereka tak sabar ingin menunjukkan kiprah di pentas teringgi sepak bola Tanah Air. Stamina prima, kecepatan oke, semangat juang tinggi plus skill individu pemain jadi senjata utama.

Meski tanpa menggunakan pemain asing, PS TNI bertekad menembus papan atas. Layak ditunggu, bagaimana kiprah tim yang memiliki ciri khas dengan selebrasi gol seperti sedang melakukan apel tersebut.

Data Klub

Berdiri: 2015

Pelatih:  Eduard Tjong

Stadion:  *

Daftar Pemain

Kiper:  Dhika Bayangkara, Ravi Murdianto, Guntur Pranata

Belakang: Wiganda Pradika, Abduh Lestaluhu, Hardiantono, Manahati Lestusen, Hendri Aprilianto, Choirul Hidayat, Syaiful Ramadan, Asep Budi

Tengah: Legimin Raharjo, Asrul Risahondua, Wawan Febrianto, Suhandi, Wanda Syahputra, Kiki Istianto, Tri Hardiansyah, Haidar Ali Lestaluhu, Ahmad Nufiandani

Depan: M. Dimas Drajad, Tambun Naibaho, Erwin Ramdani, M Guntur Triaji, Aldino Herdianto

*) Belum ditentukan

2 dari 3 halaman

Bintang

BINTANG: MANAHATI LESTUSEN

Siapa yang tidak kenal sosok Manahati Lestusen. Pemain yang lahir di Liang, Ambon, Maluku, 17 Desember 1993 itu dianggap sebagai salah satu gelandang bertahan masa depan Indonesia.

Pemain yang akrab dengan nomor punggung 25 itu memiliki visi bertarung yang sangat baik di lini tengah. Bisa bermain di berbagai macam posisi mulai bek tengah, bek kiri, hingga gelandang bertahan jadi keunggulan Manahati.

Jauh sebelum jadi pemain hebat, bakat Manahati sudah tercium saat memperkuat tim Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Maluku. Berkat kemampuan mengolah bola, anak ketujuh dari delapan bersaudara tersebut lantas bergabung dengan program Sociedad Anonima Deportivo (SAD) Uruguay tahun 2010.

Manahati Lestusen pemain berbakat yang dimiliki Indonesia, pernah belajar dan bermain di Uruguay. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Lalu pada tahun 2012, ia dipinjamkan ke klub Penarol U-19. Pada tahun 2013, ia memulai karier seniornya di klub Vise Belgia.Lepas dari Benua Eropa, Manahati kembali ke Tanah Air dengan membela PersebayaSurabaya, Barito Putera, dan terakhir PS TNI.

Tidak hanya di level klub, kiprah pemain berusia 25 tahun itu juga terbukti kala membela tim Merah-Putih. Ia membawa Timnas U-23 melenggang ke babak final SEA Games 2013. Manahati juga berstatus kapten Timnas U-23 di SEA Games 2015 Singapura.

Sejak bergabung dengan PS TNI tahun lalu, Manahati selalu jadi pilihan utama di posisi gelandang bertahan, berduet dengan pemain senior, Legimin Raharjo, sebagai double-pivot.

Manahati Lestusen jelas jadi salah satu alasan atas kokohnya lini tengah PS TNI selama turnamen Piala Jenderal Sudirman dan Torabika Bhayangkara Cup 2016.

3 dari 3 halaman

Pelatih

PELATIH: EDUARD TJONG

Eduard Tjong tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan klub baru setelah dilepas Persiba Balikpapan seusai kegagalan di Piala Gubernur Kaltim lalu. Pelatih 44 tahun itu langsung mendapat tawaran membesut PS TNI di Indonesian Soccer Championship (ISC) 2016.

Saat Torabika Bhayangkara Cup 2016 berjalan, tawaran itu datang dan kesempatan tersebut tidak disia-siakan Edu, sapaan karib pelatih kelahiran 1 Januari 1972 tersebut.

Kiprah Edu di pentas sepak bola nasional sebagai pelatih tim profesional memang belum lama. Sebelumnya, Edu menangani Persis Solo di pentas kompetisi Divisi Utama musim 2008-2009. Usai meracik tim Laskar Sambernyawa, dia hijrah ke tim tetangga, Persiba Bantul, dan mampu membawa tim berjuluk Laskar Sultan Agung itu promosi ke pentas ISL.

Pelatih PS TNI, Eduard Tjong, ingin membawa timnya masuk enam besar ISC 2016. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Setelah itu, Edu berpindah-pindah klub mulai Persiram Raja Ampat maupun Persiba Balikpapan. Namun, musim 2014 bisa jadi tahun terbaik Eduard Tjong. Saat itu, dia berhasil membawa Persela Lamongan lolos ke babak delapan besar ISL.

Meski belum mendapat prestasi tinggi di kompetisi ISL, Edu sempat mencicipi manisnya gelar juara Kompetisi Galatama musim 1992. Edu yang saat aktif bermain sebagai gelandang, meraih juara bersama Arseto Solo.

Penunjukannya sebagai pelatih PS TNI bakal dimaksimalkan Eduard Tjong untuk mengukir tinta emas prestasi di sepak bola Indonesia. Edu bertekad membawa PS TNI menembus posisi enam besar ISC 2016.