Barisan 5 Penyerang Haus Gol Persija dari Masa ke Masa

oleh Gerry Anugrah Putra diperbarui 10 Jun 2016, 08:00 WIB
Barisan 5 Penyerang Haus Gol Persija dari Masa ke Masa . (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Klub Persija Jakarta pengoleksi gelar juara terbanyak kompetisi kasta elite (9 Perserikatan, 1 Liga Indonesia) dikenal sebagai tim yang membesarkan pemain-pemain andal. Macan Kemayoran tidak pernah kekurangan stok pemain berkualitas dari masa ke masa. Ambil contoh di posisi penyerang.

Sejak era Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ) hingga era milenium, Persija  selalu memiliki barisan penyerang berkualitas dan haus gol. Sebut saja Tjoa Wim Pie, Hassan, Boengboeng, Soetjipto Soentoro, Abidin, hingga yang terakhir Bambang Pamungkas.

Advertisement

Mayoritas di antara mereka tak hanya ngetop di tim ibu kota tapi juga di level Timnas Indonesia. Sumbangsih prestasi predator amat besar, baik bagi Persija saat mengarungi kompetisi kasta elite Galatama dan Liga Indonesia (kini bernama Torabika Soccer Championship 2016 presented by IM3 Ooredoo) atau saat membela Tim Merah-Putih. 

Bola.com mencoba menyajikan profil sejumlah penyerang haus gol Persija Jakarta dari era lawas hingga kekinian. Anda yang akan memutuskan siapa yang terhebat di antara mereka.

Soetjipto Soentoro

Figur Soetjipto Soentoro masuk barisan legenda besar di Persija. Pemain asli Gandaria, Jakarta Selatan ini memulai karier sepak bolanya dari klub IPPI Kebayoran Baru. Di usia muda, ia sudah dilirik oleh klub internal Persija, PS Setia.

Saat berlaga kompetisi internal Persija, kiprah Soetjipto Soentoro langsung bersinar di musim perdanannya. Tanpa perlu menunggu waktu lama, pemain yang mempunyai julukan Gareng itu pun langsung masuk ke skuat senior Persija asuhan Wuwungan.

Soetjipto Soentoro

 

Langkah Soetjipto ini terbilang hebat. Saat rekan-rekanya memulai karier dari Persija U-18 sebelum promosi ke tim senior, pemain yang terkenal dengan tendangan gledeknya itu langsung bergabung masuk skuat senior yang kala itu masih diisi oleh Wim Pie, Tan Liong Houw, Paidjo dan Bob Hippy.

Kemampuan hebat gareng akhirnya kembali dilirik oleh suksesor Wuwugan di Persija, yakni Liem Soen Joe alias drg Endang Witarsa. Oleh Dokter (sapaan akrab Liem Soen Joe), Soetjipto pun langsung dijadikan andalan dalam skema ofensif Persija 2-3-5.

Puncaknya tahun 1964, yakni Soetjipto menjadi kapten dan andalan Persija mencetak gol. Posisinya sebagai penyerang lubang, yang bergerak bebas di antara gelandang dan penyerang membuat bebas berkreasi di lapangan.

Hasilnya, Persija menjadi tim juara tanpa terkalahkan di perhelatan kompetisi Perserikatan. Tak hanya juara, Soetijpto pun menjadi top scorer dengan torehan 16 gol. Di usia yang baru menginjak 23 tahun, Soetjipto merasakan lengkapnya gelar sebagai kapten tim juara dan pencetak gol terbanyak di Indonesia.

Soetjipto pensiun dari Persija tahun 1971. Pada tahun terakhirnya itu, ia gagal mempersembahkan gelar juara bagi Persija. Si Merah-Poetih dari Jakarta itu harus mengakui kedigdayaan PSMS Medan.

Nama julukan Soetjipto, Gareng, kini dijadikan sebutan di tribune Stadion Utama Gelora Bung Karno oleh pendukung Persija. Nama Gareng Area yang berada di Sektor 6 Stadion GUBK merupakan simbol penghormatan suporter Persija Jakarta kepada pemain legendaris mereka.

2 dari 5 halaman

Risdianto

Risdiato merupakan bomber tajam Persija yang mengadu nasib di ibu kota tahun 1971. Pemain asal Pasuruan, Jawa Timur itu menjelma menjadi penyerang legendaris Macan Kemayoran pada era emas 1970an.

Pemain yang akrab dengan nomor punggung 9 itu bersinar bersama klub interal Persija, UMS, sampai pada akhirnya lolos seleksi tim utama Persija pada 1971.

Risdianto

Nama Risdianto juga tercatat dalam sejarah Persija sebagai pemain yang mengantarkan gelar juara Perserikatan di tahun 1973. Sebuah sontekannya usai meneruskan tendangan Andi Lala, membuat Persija menang 1-0 atas Persebaya Surabaya pada laga penentuan gelar.

Tahun 1975, Risdianto kembali memperkuat Persija usai bermain untuk klub Hong Kong, Mackinnos FC. Gelar juara ia torehkan kembali bagi Macan Kemayoran. Sayang di musim terakhir bersama Persija di tahun 1977, pemain yang juga pernah memperkuat Warna Agung itu tak mampu mempersembahka gelar bagi Persija.

Tahun 1977, penampilan Risdianto yang menggila di babak 8 Besar akhirnya bisa diredam oleh Tim Bajul Ijo pada duel penentuan gelar juara. Macan Kemayoran takluk 3-4 dari Persebaya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

3 dari 5 halaman

Andi Lala

Nama Andi Lala adalah jaminan mutu Persija untuk meraih gelar juara. Pemain asal Makassar itu adalah bomber legendaris yang dimiliki Persija. Bukan dari torehan gol yang digelontorkan ke gawang lawan, namun juga dari torehan tiga gelar juara yang sudah dipersembahkan bagi publik Jakarta.

Pada tahun 1973, Andi Lala berjasa mengirimkan umpan kepada Risdianto yang diteruskan menjadi gol ke gawang Persebaya Surabaya. Selanjutnya di 1975, Andi Lala pernah menggila dengan empat golnya ke gawang Persipal Palu. Di laga itu Persija menang 5-1 atas Persipal, dan Andi Lala menciptakan rekor dengan mencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan di musim itu.

Andi Lala

Puncaknya di tahun 1979. Tepat di menit ke-64, Andi Lala menceploskan gol spektakuler dengan sundulan kepalanya. Gol tunggalnya membuat Persija merebut gelar kesembilannya di Indonesia. Gelar terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia saat itu.

Penghargaan terhadap Andi Lala ditunjukan oleh pendukung Persija masa kini. Dalam suatu pertandingan di tahun 2014, pendukung Persija serentak memberikan tepuk tangan pada menit ke-64. Tepuk tangan itu sebagai penghargaan atas gol tunggal Andi Lala tahun 1979.

4 dari 5 halaman

Adityo Darmadi

Penyerang asal Solo ini menjadi pujaan pendukung Persija Jakarta di era 1980-an. Adityo Darmadi datang ke Persija pada tahun 1985. Saat itu Persija dalam keadaan kritis dan nyaris degradasi dari kasta utama. Ia jadi juru selamat lewat gol-golnya pada fase play-off promosi-degradasi yang digelar di Cirebon.

Adityo Darmadi juga menjadi momok bagi Persib Bandung. Pemain yang identik dengan nomor punggung 8 ini merupakan pemain yang tidak disenangi bobotoh Maung Bandung. Pasalnya, Adityo punya tradisi membobol gawang Persib di Bandung.

Adityo Darmadi

Tahun 1985, kepalan tangan Adityo di atas langit Bandung menandakan kemenangan Persija atas Tim Pangeran Biru. Persib tak mampu membalas kekalahannya di Bandung pada tahun 1986. Lagi-lagi Adityo Darmadi membobol gawang Persib yang kala itu dikawal Sobur.

Tak hanya momok menakutkan bagi Persib, klub-klub di Indonesia pun mengakui bagaimana kemampuan mencetak gol Adityo. Tapi sayangnya, meski bersama Persija kerap menampilkan permainan yang cantik, Adityo tak pernah menyumbangkan gelar juara bagi Persija.

5 dari 5 halaman

Bambang Pamungkas

Bepe bergabung ke Persija pada tahun 1999, setelah lulus dari Diklat Salatiga. Di musim pertamanya, BP menggila dengan menggelontorkan banyak gol untuk Persija. Total di musim 1999 dan 2000, Cah Getas mengemas 24 gol.

Tampil bagus bersama Persija di pertengahan tahun 2000, Bepe mencoba peruntungannya di klub Belanda, EHC Norad. Ia bertualang ke Negeri Kincir Angin selama setengah tahun.

Keunggulan Bambang sebagai penyerang adalah ia amat kuat dalam duel bola-bola udara. Selain itu, ia punya kedua kaki yang sama bagus untuk melakukan shooting. Pengguna nomor punggung 20 pemain yang cerdas dalam penempatan posisi.

Bambang Pamungkas menunjukkan skill-nya saat latihan bersama Persija Jakarta di Lapangan Villa 2000, Pamulang, Tangerang Selatan, Senin (25/4/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bambang Pamungkas tampil on-fire di musim 2001. Ia bermain seperti titisan Soetjipto Soentoro, striker legendaris Persija yang amat haus gol.

Selain membawa Persija juara dengan mengalahkan PSM Makassar 3-2 dalam laga puncak yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Bepe juga menjadi Pemain Terbaik kompetisi. Patut dicatat pada musim sebelumnya ia jadi Top Scorer dengan torehan 24 gol.

Sayangnya sinar kebintangan Bambang Pamungkas tak menular ke Timnas Indonesia. Jadi pelanggan tetap lini depan Tim Merah-Putih selama 12 tahun, sayangnya ia tak mempersembahkan prestasi apa-apa.