Bio Paulin, Rudi Maswi, dan Menpora RI

oleh Aning Jati diperbarui 13 Jun 2016, 09:00 WIB
Bek Persipura, Bio Paulin, buka-bukaan mengenai sejumlah hal personal dengan bola.com. (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jayapura - Gol yang dilesakkan Bio Paulin kala Persipura Jayapura mengalahkan Perseru Serui 1-0 di Stadion Mandala, Jayapura (28/5/2016), tidak sekadar mengantar tim Mutiara Hitam meraih kemenangan pertama di kandang dalam Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 Presented by IM3 Ooredoo.

Lebih dari itu, gol itu cukup istimewa karena lahir dari kaki Bio, yang baru kembali ke lapangan pasca absen selama tiga pekan.

Bek tangguh Persipura itu harus menepi di tiga pertandingan TSC karena cedera pada bagian telapak kakinya. Seolah sudah gerah hanya jadi penonton, Bio langsung panas dengan menceploskan sebiji gol, yang juga jadi gol pertamanya di TSC 2016.

Motivasi Bio Paulin dalam setiap pertandingan yang dilakoni Persipura memang tinggi. Baginya, Persipura tidak sekadar tim di mana ia mencari nafkah. Bagi pemain naturalisasi asal Kamerun itu, Persipura merupakan keluarganya di Indonesia.

Advertisement

Hampir 10 tahun lamanya ia mengenakan kostum hitam-merah kebanggaan tim Mutiara Hitam. Waktu yang tidak singkat untuk ukuran pesepak bola profesional yang berkarier di Indonesia.

Berbagai kejadian, baik suka dan duka, senang dan susah, dirasakannya selama itu. Pelatih dan rekan pemain datang dan pergi, silih berganti. Berbagai prestasi juga sudah diraihnya.

Sejak bergabung dengan Persipura pada 2007, Bio sudah mengoleksi tiga juara ISL, tiga kali runner-up ISL, satu juara Inter Island Cup, satu gelar Community Sheild, dua kali runner-up Piala Indonesia, hingga membawa lolos hingga semifinal Piala AFC.

Bisa dibilang, pemain yang punya penampilan garang ini merupakan salah satu bek kenyang pengalaman di jagat sepak bola Indonesia. Puluhan dan mungkin ratusan striker sudah pernah merasakan ketatnya pengawalan Bio kala berduel di lapangan.

Bio juga sudah hafal benar dengan gaya bermain penyerang lawan berkat pengalamannya bertahun-bertahun berbaju merah-hitam. Kendati dianggap sebagai bek tangguh, ada satu striker yang bisa membuatnya jeri bila harus berhadapan.

Bio Paulin, awet bersama Persipura Jayapura. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

"Banyak striker yang susah (dijaga), tetapi kalau diminta pilih satu, saya jawab: Alberto Goncalves," tuturnya perihal siapa striker yang diseganinya.

Bio punya alasan mengapa jeri dengan penyerang Brasil yang kini jadi ujung tombak Sriwijaya FC itu. "Kami pernah satu tim, berlatih bersama tiap hari, dan merebut gelar gelar juara bersama. Saya tahu kemampuannya, gaya mainnya, dan justru itu yang membuatnya jadi sulit dikawal," bebernya.

Tidak seperti Beto, sapaan Goncalves, yang tak lagi bersama Persipura sejak 2012, Bio betah bersama klub kebanggaan warga Jayapura dan Papua itu.

Bio memang sempat memperkuat PS Polri kala Torabika Bhayangkara Cup 2016 berputar. Namun, itu hanya sesaat dan ketika TSC 2016 dipastikan bergulir, ia kembali ke tim Mutiara Hitam.

"Banyak hal yang membuat saya betah di sini (Persipura). Rekan setim dan manajemen tim membuat saya merasa seperti menemukan keluarga di Indonesia. Saya merasa seperti di kampung asal," bebernya.

Selain itu, Bio mengungkapkan selama memperkuat Persipura, ia memiliki banyak waktu untuk mempelajari serta mempraktikkan agama yang dianutnya lebih dalam lagi. "Saya bisa fokus berdoa dan beribadah di sela-sela kegiatan di dalam dan luar lapangan," ucapnya.

Di Jayapura, yang warganya mayoritas penganut kristiani, memang memberi kesempatan itu pada Bio. Bahkan, Persipura juga terlihat religius dengan selalu menggelar ibadah di malam sebelum pertandingan. Tradisi yang hingga kini masih berjalan dan diikuti seluruh pemain, tim pelatih hingga ofisial tim.

2 dari 2 halaman

Rudi Maswi dan Menpora RI

Rudi Maswi dan Menpora RI

Secara spesifik Bio mengungkapkan salah satu yang membuatnya nyaman berada di Persipura adalah keberadaan Rudi Maswi. Rudi, yang menjabat sebagai manajer Persipura, sudah dianggap bek kelahiran 15 April 1984 itu bak ayah sendiri. Kedekatan keduanya melebihi hubungan manajer dengan pemain.

"Dia sudah seperti bapak saya. Dia menyayangi saya dan sebaliknya. Tapi, jangan menganggap hanya saya yang mendapat perlakuan ini karena seluruh pemain Persipura merasakan hal sama. Dia orang baik," ujar Bio mengomentari sosok Rudi Maswi.

Rudi, merupakan satu dari beberapa orang terdekat yang mendampingi saat pemain kelahiran Nanga Eboko, Kamerun, itu diambil sumpah setia menjadi WNI pada 23 Maret 2015 di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Papua, Jayapura.

Rudi memang jadi salah satu orang yang tidak hanya sekadar memberi dukungan, tetapi aktif terlibat dalam proses naturalisasi Bio hingga sah memiliki paspor hijau Indonesia.

Meski tidak bersedia mengungkapkan secara detail hal baik seperti apa yang sudah diterimanya dari sang manajer, keputusan Bio dan istri untuk menamai putra mereka dengan nama Rudi Maswi Paulin Pierre, bisa jadi gambaran betapa manajer yang juga pengusaha di Jayapura itu sangat berarti buat Bio.

Manajer Persipura, Rudi Maswi (kanan), jadi sosok penting dalam kehidupan Bio Paulin sejak tiba di Jayapura. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Ya, Bio dan sang istri yang asli Yapen, Papua, Chyntia Wondiwoi, sepakat menamai putra mereka dengan nama seperti manajer Persipura itu: Rudi Maswi. Sementara Paulin Pierre merupakan nama marga Bio.

"Orang seperti beliau layak mendapat sesuatu. Saya dan istri berpikir apa yang bisa kami berikan, yang bukan dalam bentuk materi. Bila uang, beliau sudah punya. Yang lain beliau juga sudah punya. Akhirnya caranya ya hanya lewat anak saya. Kami memberi nama Rudi Maswi pada putra kami. Saya hanya bisa menamai anak saya, agar kelak setelah tidak di Persipura pun, kami selalu ingat kebaikannya," ungkap Bio kepada bola.com.

Saat ini Rudi Maswi Paulin Pierre berusia tiga tahun. Di masa mendatang saat sudah besar, orangtuanya bisa menceritakan asal-usul namanya sekaligus jadi pengingat terhadap sosok yang banyak membantu sang ayah.

Bio, yang saat ini sudah menginjak usia 32 tahun, juga mulai memikirkan masa depan setelah tidak lagi jadi pemain alias gantung sepatu. Soal ini, pemain dengan tinggi 187 cm itu sudah memiliki sejumlah rencana. Namun, yang paling menarik adalah pernyataannya dalam suatu kesempatan yang menyebutnya ingin jadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI.

Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Bio tertawa lebar. Ia tidak menampik, namun ia juga menjelaskan bila hal itu tidak sepenuhnya benar.

"Saya punya banyak keinginan setelah tidak bermain lagi. Jadi Menpora hanya salah satunya. Saya juga ingin jadi guru, sopir taksi, pelatih. Semua pekerjaan itu baik bila untuk kepentingan yang baik," katanya sambil terbahak.

Bio Paulin menamai putranya dengan nama Rudi Maswi, sama dengan nama manajer Persipura saat ini. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Sejurus kemudian Bio menjadi serius. Ia menekankan keinginannya untuk berkarier sebagai pelatih bila sudah tidak lagi jadi pemain profesional. Meski belum tahu di mana ia akan berkiprah, ia akan merintis cita-citanya itu dengan mengambil kursus kepelatihan terlebih dulu.

"Bila ada tawaran, mengapa tidak? Saya orangnya gemar bercanda, tapi saya suka belajar. Bila ada kesempatan, saya ingin belajar, belajar, dan belajar," tegasnya.

Sampai saat itu tiba, Bio mengaku akan tetap fokus mempertahankan nama besar Persipura di pentas sepak bola Indonesia bahkan di level internasional. Yang terdekat tentu saja menjuarai Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 presented by IM3 Ooredoo. Kemudian, Bio juga berharap bisa mendapat panggilan Timnas Indonesia setelah sanksi FIFA dicabut yang membuat Tim Garuda menggeliat lagi.