Perenang Inggris Raya Merasa Dicurangi Perenang Rusia

oleh Aditya Wicaksono diperbarui 12 Agu 2016, 20:20 WIB
Perenang Rusia, Yulia Efimova, pernah tersangkut kasus doping dua kali sebelum tampil di Olimpiade Rio 2016. (AFP/Gabriel Bouys)

Bola.com, Rio de Janeiro - Atlet renang Inggris Raya yang berlaga di nomor 200 meter gaya dada Olimpiade Rio 2016, Chloe Tutton, mengeluarkan kritik tajam kepada atlet Rusia, Yulia Efimova. Pada pertandingan final yang dilaksanakan pada Kamis (11/8/2016) waktu setempat, Efimova meraih medali perak sementara Tutton harus puas menempati urutan keempat.

Advertisement

Menurut Tutton, Efimova seharusnya tidak bisa ambil bagian terkait kasus pemakaian doping yang pernah menimpanya. Meskipun begitu, ia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena ofisial Olimpiade mengizinkan Efimova untuk tampil di Rio de Janeiro.

"Saya lebih suka jika Olimpiade kali benar-benar bersih dari doping. Namun saya tidak bisa menentukan siapa saja yang boleh tampil. Saya tidak senang dengan hasil tersebut, tapi itulah realitanya," ungkap atlet berusia 20 tahun tersebut.

Keikutsertaan Efimova pada Olimpiade 2016 terbilang kontroversial karena ia sudah tersangkut masalah doping sebanyak dua kali. Kali pertama adalah pada tahun 2013 di mana ia dihukum selama 16 bulan dan yang kedua adalah pada awal tahun 2016 saat ia terbukti menggunakan meldonium.

Federasi Renang Internasional telah mengangkat hukuman Yefimova setelah mendapat rekomendasi dari World Anti-Doping Agency (WADA). Atlet Rusia tersebut tidak tinggal diam dan mengeluarkan pendapatnya setelah mendengar kritik Tutton terhadap dirinya.

"The Court of Arbitration for Sport (CAS) telah menerima banding saya. Jika ada yang keberatan dengan hasil ini, mereka bisa menanyakan langsung kepada CAS. Saya tidak menggunakan doping. Pada kasus kedua itu murni bukan kesalahan saya. Saya rasa semua orang pantas mendapat kesempatan kedua," jelas Efimova.

Pada nomor 200 meter gaya dada individu wanita, medali emas diraih oleh perenang Jepang, Rie Kaneto, diikuti oleh Efimova di peringkat kedua dan Shi Jinglin asal Tiongkok di peringkat ketiga.

Sumber: BBC