Surat PSSI Keluar, Mahir Radja Langsung Jajal Kompetisi Spanyol

oleh Ario Yosia diperbarui 21 Sep 2016, 07:30 WIB
Dallen Ramadan dan Mahir Radja Djamaoeddin Indonesia, sudah mulai menjalani latihan bersama klub Castellon U-19. (Bola.com/Dok. Pribadi)

Bola.com, Valencia - Tak lama lagi pesepak bola belia asal Indonesia, Mahir Radja Djamaoeddinbakal berlaga di kompetisi junior Liga Spanyol Deportivo Castellon SAD U-19. Pemain didikan Akademi Villa 2000 tersebut kini sudah mulai berlatih dengan klub barunya. Ia tinggal menunggu surat dari PSSI untuk mempermulus langkah mencicipi persaingan kompetisi junior Negeri Matador.

Surat International Transfer Certificate (ITC) dari PSSI menjadi syarat wajib yang harus dikantungi Mahir, untuk memastikan proses transfernya dengan Castellon legal. 

Advertisement

"Saat ini saya sedang menunggu surat konfirmasi dari PSSI yang menyatakan saya tidak terdaftar di klub profesional manapun di Indonesia. Insya Allah saya mendapat kabar dari Tanah Air prosesnya tidak akan lama lagi," ungkap Mahir saat dikontak Bola.com pada Selasa (20/9/2016) malam.

Bersama pesepak bola asal Indonesia lainnya, Dallen Ramadhan, yang juga dikontrak oleh Castellon, lima tahun lalu Mahir berangkat ke Spanyol bersama tujuh pemain asal Jakarta Football Academy (Muhammad Rafif, Ferul Monang, Syahrian Abimanyu, Hanif Faturahman, Hanif Abdurrauf, Samuel Christianson, dan Nicolas Pambudi).

JFA punya program kerja sama dengan sebuah akademi sepak bola privat di Spanyol, yang memungkinkan pesepak bola muda asal Indonesia berlatih dan menjalani sejumlah laga uji coba di negara penganut sistem monarki tersebut.

Kala itu, ke-9 pemain asal Indonesia tersebut berhasil membawa tim yang mereka perkuat menjadi juara turnamen usia dini wilayah Valencia untuk kategori usia U-16. Mereka ditawari untuk tinggal di Spanyol menjalani latihan di akademi sepak bola miliki agen berlisensi FIFA, Vicente Floro. 

Agen yang notabene putra mantan pelatih Real Madrid, Benito Floro tersebut yang membantu proses negosiasi antara Mahir serta Dallen dengan pihak Castellon. "Begitu tim pelatih Castellon U-19 tertarik melihat kemampuan kami, maka selanjutnya Benito Floro yang maju bernegosiasi," cerita Mahir.

Uniknya Mahir secara mandiri tanpa didampingi sang ayah, Demis Djamaoeddin, mengurus sendiri proses trial dan penadatanganan kontrak.

"Sejak awal ia berniat berlatih di Spanyol saya tidak pernah ikut campur. Mahir secara mandiri berjuang mewujudkan cita-citanya. Soal dia mendapat kesempatan tes di Castellon, ia tidak meminta tolong kepada saya untuk membantu. Kami hanya terlibat diskusi, saya memberi masukan tapi menyerahkan sepenuhnya keputusan padanya," cerita Demis yang beberapa tahun terakhir tercatat sebagai pengurus Badan Tim Nasional itu.

Sembari menunggu proses legalitas transfernya beres, lantas apa yang dilakukan Mahir? "Saya sudah mulai berlatih rutin dengan klub, untuk proses adaptasi. Di luar itu saya tetap menjalani latihan di akademi privat. Saya ingin benar-benar siap saat nantinya dapat kesempatan bermain dari klub," ungkap gelandang kelahiran 23 Mei 1998 tersebut.

Mahir Radja Djamaoeddin tak mau muluk-muluk memasang target di Castellon U-19.

"Bisa dapat banyak kesempatan bermain saya sudah senang. Buat saya bisa bergabung dengan mereka merupakan sesuatu yang amat berharga bagi karier saya. Perjalanan masih panjang, banyak tantangan yang akan saya hadapi. Saya mencoba menjalaninya dengan semangat dan kerja keras," ucap pemain yang sempat ikut program pelatnas jangka panjang Timnas Indonesia U-19 era Fachry Husaini pada tahun 2015 itu. 

2 dari 2 halaman

Korbankan Piala AFF U-19

Mahir Radja Djamaoeddin, masih menunggu ITC dari PSSI sebelum akhirnya bisa memperkuat Castellon U-19. (Bola.com/Dok. Pribadi)

Sebelum meneken kontrak dengan Deportivo Castellon SAD U-19, nama Mahir Radja Djamaoeddin sejatinya masuk dalam daftar seleksi di Timnas Indonesia U-19 yang akan berlaga di Piala AFF 2016. Namun, sang pemain belia memilih menjalani trial di Spanyol. Siapa sangka keputusannya berbuah manis.

Ia secara resmi pada Rabu (7/9/2016) dikontrak Castellon untuk bermain di tim U-19 klub yang bermarkas di Kota Valencia. Keputusan Mahir sendiri menepikan kesempatan mengikuti seleksi Tim Merah-Putih bukan karena ia tidak nasionalis.

Agenda trial di Castellon berbarengan dengan pelatnas Timnas Indonesia U-19. Kesempatan menjalani tes di klub Divisi 4 Spanyol tersebut tidak datang setiap saat. Sang ayah, Demis Djamaoeddin, membebaskan anaknya untuk memilih.

"Saya hanya bilang ada konsekuensi yang ditanggung di setiap keputusan yang diambil. Kalau ikut seleksi Timnas Indonesia U-19, ia harus siap menunggu setahun lagi buat dapat kesempatan trial. Sebaliknya kalau memilih menjalani tes di Castellon ia otomatis memendam hasrat membela negara turun di Piala AFF," ujar Demis yang dikontak Bola.com pada Jumat (9/9/2016) malam.

"Saya membebaskan dia menetapkan pilihan. Setelah berfikir beberapa hari akhirnya ia memutuskan tetap di Spanyol," timpal Demis lagi.

"Rasanya berat harus mengorbankan timnas. Saya amat ingin jadi pemain Timnas Indonesia. Sudah menjadi cita-cita saya sejak kecil. Tapi kesempatan trial di klub Castellon datang di saat bersamaan. Saya memilih fokus menjalani tes, karena kesempatan untuk itu tidak selalu datang," ungkap Mahir Radja Djamaoeddin.

Karier junior Mahir Radja Djamaoeddin berawal di Akademi Villa 2000. Ia sempat masuk program pelatnas jangka panjang Timnas Indonesia U-19 besutan Fachry Husaini pada tahun 2015. Sayang, belum sempat mentas merasakan atmosfer turnamen internasional, konflik sepak bola nasional meledak.

Timnas Indonesia U-19 kemudian dibubarkan karena tak bisa berlaga di pentas internasional seiring jatuhnya sanksi FIFA imbas intervensi pemerintah RI.Sebelumnya pemain kelahiran 23 Mei 1998 itu sempat berkiprah juga di Timnas U-16 Piala AFF 2013. Keberhasilan sang gelandang mendapatkan kontrak terasa membahagiakan.

Castellon sendiri merupakan klub yang saat ini sedang berkompetisi di Divisi Tercera atau kompetisi kasta keempat di Spanyol. Klub yang diarsiteki Kiko Ramirez itu bermarkas di Nou Estadi Castalia yang berkapasitas 16 ribu penonton.

Klub yang berdiri tahun 1922 itu juga pernah diperkuat beberapa pemain berkualitas. Mulai dari Leonardo Ulloa, Emilio Nsue, Gaizka Mendieta, hingga mantan pelatih Spanyol, Vicente del Bosque.