Profil Persib: Ambisi dan Popularitas Tim Bertabur Bintang

oleh Erwin SnazWiwig Prayugi diperbarui 06 Apr 2017, 07:15 WIB
Persib Bandung, tim bertabur bintang pada Liga 1 2017. (Bola.com/Dody Iryawan)

 

Bola.com, Bandung - Persib Bandung membuat kejutan menjelang Liga 1 2017 bergulir. Dua pemain bintang mereka datangkan, yakni Michael Essien dan Carlton Cole. Duo eks Chelsea ini bakal membuat Persib jadi tim bertabur bintang pada Liga 1. Selain Essien dan Cole, Persib juga mendaratkan mantan gelandang Arema FC, Raphael Maitimo. 

Sudah jelas dengan modal yang mentereng tersebut, Persib membidik gelar juara. Skuat Maung Bandung hampir sempurna. Selain dihuni pemain bintang dan beberapa pemain muda yang tampil apik, kekompakan pemain lama menjadi kekuatan tersendiri bagi skuat arahan Djadjang Nurdjaman. 

Advertisement

Persib menjadi klub Indonesia yang memiliki sejarah panjang di sepak bola Indonesia, dari era Perserikatan, ISL, hingga kompetisi bertajuk Liga 1 yang akan dimulai musim ini. Tujuh gelar mereka raih sejak tampil pada Perserikatan tahun 1931.

Tak hanya itu, dukungan yang melimpah membuat Persib menjadi tim yang meraih popularitas tinggi, baik di jejaring sosial maupun media. Tak hanya media lokal, Persib juga mewarnai pemberitaan media asing, terutama setelah merekrut Essien dan Cole.

Daftar Pemain Persib Bandung (Bola.com/Adreanus Titus)

Namun, memiliki sederet pemain bintang dan dukungan yang besar tak menjadi jaminan bagi Persib untuk meraih gelar juara. Sejak era ISL, Persib dikenal sebagai tim yang sangat royal dalam berbelanja pemain. 

Namun, pencapaian mereka pada era kompetisi ISL tidak terlalu istimewa. Maung Bandung baru meraih juara ISL pada 2014, atau 20 tahun setelah mereka meraih trofi Liga Indonesia pertama pada 1994-1995.

Pada musim ini, dengan target juara, pelatih Djadjang Nurdjaman juga memiliki banyak pilihan pemain, khususnya di lini tengah, mulai Hariono, Raphael Maitimo, Dedi Kusnandar, Kim Jeffrey Kurniawan, Michael Essien, Atep, hingga pemain muda Gian Zola dan Ahmad Subagja Baashit.

Dua striker maut pun ada di Persib. Sergio van Dijk, top scorer Persib pada ISL 2013 (21 gol) akan berduet dengan Carlton Cole yang mengoleksi 55 gol saat berkostum West Ham, tentu akan menjadi ancaman bagi tim lawan.

Deretan belakang pun tak kalah mentereng. Vladimir Vujovic, Achmad Jufriyanto, Supardi, Wildansyah, Tony Sucipto, tentu akan menjadi barisan yang sulit ditembus lawan. Poin tambahan buat Vlado adalah pemain yang sering memecahkan kebuntuan saat lini depan mandul.

"Kami menggelontorkan dana besar karena kami ingin Persib juara. Musim ini persiapan pun sangat baik dan beberapa pemain baru berhasil kami rekrut, yaitu Michael Essien dan Carlton Cole," kata Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat, Glenn Sugita.

Persib Bandung juga memiliki pemain muda bertalenta. Dua di antara lima pemain masuk skuat Timnas Indonesia U-22, yakni Febri Hariyadi dan Gian Zola. 

Dengan materi cemerlang, patut dinanti akankah Persib Bandung mulus meraih juara Liga 1 2017?

Data tim:

Julukan: Maung Bandung, Pangeran Biru
Berdiri: 14 Maret 1933
Markas: Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Stadion Si Jalak Harupat
Presiden/Direktur: Glenn Sugita
Pelatih: Djadjang Nurjaman
Suporter: Viking Persib Club, Bomber

2 dari 3 halaman

Tangan Dingin dan Beban Kang Djanur

Djadjang Nurdjaman memiliki modal apik untuk membawa Persib Bandung meraih juara Liga 1 musim ini. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Djadjang Nurdjaman bisa disebut sebagai pria berlabel Persib yang paling sukses. Saat masih menjadi pemain, ia membawa Persib juara Kompetisi Perserikatan 1986, 1989-1990, dan 1993-1994. Ia pun merasakan gelar juara ketika menjadi asisten pelatih Indra M. Thohir di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995, hingga dipercaya sampai tahun 1996.

Pada tahun 2006, ia kembali mendapat kepercayaan sebagai asisten pelatih untuk mendampingi Arcan Iurie. Namun, semasa mendampingi pelatih asal Moldova itu, tidak meraih gelar juara.

Setelah itu ia mengembangkan karier kepelatihan di luar Persib, namun pada tahun 2012 manajemen Persib kembali mempercayakan dirinya untuk menukangi tim sebagai pelatih kepala pada ISL 2013 dan Indra Thohir sebagai Direktur Teknik, serta dibantu tiga mantan pemain Persib sebagai asisten pelatih yakni, Anwar Sanusi, Asep Soemantri, dan Sutiono Lamso sebagai asisten pelatih.

Pada 2014, Djadjang masih didaulat sebagai pelatih kepala, ia pun mengajak Herrie Setiawan, Asep Soemantri, dan Anwar Sanusi sebagai asisten pelatih. Tahun ini menjadi sejarah bagi pria yang biasa disapa Djanur ini lantaran membawa Persib juara ISL 2014 setelah tertidur cukup lama dari gelar juara.

Dengan polesan tangan dinginnya Persib pun kembali juara di turnamen Piala Presiden 2015. Pada tahun 2016, Djanur pun di sekolahkan ke Italia untuk menimba ilmu kepelatihan selama satu tahun. Manajemen mempercayakan kepada Dejan Antonic sebagai pelatih kepala.

Sayang, eks pelatih PBR itu mundur di tengah jalan sebagai pelatih. Tak lama kemudian Djanur kembali dipercaya manajemen menggantikan Dejan Antonic untuk meneruskan melakoni TSC 2016. Hasilnya cukup memuaskan karena sebagai penerus Dejan, peringkat Persib berada di posisi lima sesuai dengan yang ditargetkan.

Tahun 2017 tantangan semakin besar bagi Djanur dalam menghadapi kompetisi Liga 1 2017. Pasalnya, ia kembali ditargetkan manajemen untuk meraih juara. Terlebih, manajemen telah mendatangkan dua pemain dunia seperti Michael Essien (eks Chelsea) dan Carlton Cole (eks striker West Ham United).

"Sekarang semuanya ada di pundak saya. Tapi saya hadapi seperti biasa saja walaupun beban bertambah seiring datangnya pemain dunia karena tahu selama ini tekanan Persib begitu tinggi. Ini menjadi tantangan saya dan tim ke depan, terutama di Liga 1 nanti," ungkap Djanur.

3 dari 3 halaman

Essien, dari Biru London ke Biru Sunda

Michael Essien foto bersama fans saat saat peluncuran Jersey baru dan tim Persib Bandung di Stadion Siliwangi, Bandung, Minggu (2/4/2017. Peuncuran tim ini menandakan kesiapan Maung Bandung menghadapi Liga 1. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Banyak media internasional menyoroti keputusan Michael Essien membela Persib Bandung. Maklum, dengan karier cemerlang bersama Chelsea dan tiga kali berturut-turut masuk nominasi pemain terbaik dunia, tidak ada yang menyangka ia bakal berlabuh di Indonesia.

Bahkan ada media internasional yang menyebut Essien memperkuat tim antah berantah, karena negara Indonesia tidak terkenal di dunia sepak bola.

Michael Essien mungkin saja tak seistimewa ketika masih bersama Chelsea. Fisik menurun akibat faktor usia (34 tahu) tak bisa dihindari. Namun, bermain di Indonesia, Essien seharusnya akan menjadi bintang lapangan dalam setiap laga yang dilakoni Persib.

Akan tetapi, sederet masalah kemungkinan akan dihadapi pemain asal Ghana. Essien yang terbiasa disajikan lapangan berkelas, kini harus berjibaku dengan kualitas lapangan yang buruk. Dari 18 tim kontestan Liga 1, hanya beberapa yang memiliki kandang dengan kualitas rumput bagus.

Selain itu, Essien juga akan menghadapi pengalaman baru yang mendebarkan dan melelahkan, yakni perjalanan tandang dengan rute jauh dan transportasi belum ideal. Rute laga tandang terjauh yang akan ditempuh Persib adalah melawan Persipura di Jayapura dan Perseru Serui.

Dengan segala keterbatasan kompetisi sepak bola Indonesia, Michael Essien tetaplah megabintang yang akan membuat Persib selalu menjadi sorotan. Secara kualitas, Persib tentu akan sangat diwaspadai lawan. 

"Saya senang berada di sini (Persib) dan kondisi saya fit tidak ada masalah sehingga saya tak sabar lagi merasakan kompetisi Indonesia," kata Essien.

Michael Essien dikontrak Persib selama satu musim dengan opsi perpanjangan dan gaji sekitar Rp 9,4 miliar. Dengan angka tersebut, Michael Essien adalah pemain asing termahal di kompetisi kasta tertinggi Indonesia. 

 

Berita Terkait