Mengenal Zoysia Matrella, Rumput Bersejarah Stadion Utama GBK

oleh Zulfirdaus Harahap diperbarui 11 Apr 2017, 13:45 WIB
Zoysia Matrella merupakan jenis rumput yang sudah mendampingi Stadion Utama Gelora Bung Karno sejak awal dibangun pada 1960.

Bola.com, Jakarta - Stadion Utama Gelora Bung Karno bersolek jelang perhelatan Asian Games 2018. Perubahan mencolok terlihat dari deretan kursi yang akan berganti menjadi lebih modern. Namun, ada satu yang tetap setia mendampingi SUGBK yakni si rumput Zoysia matrella.

Advertisement

Di dunia sepak bola, rumput Zoysia matrella dijadikan FIFA sebagai standardisasi rumput stadion sepak bola bertaraf internasional. FIFA sebagai induk tertinggi sepak bola dunia tentu bukan tanpa alasan menjadikan Zoysia martella sebagai ratunya rumput.

Sejumlah aspek pendukung membuat FIFA merekomendasikan rumput tersebut. Stadion-stadion terkemuka di dunia diketahui menggunakan rumput jenis ini.

Zoysia matrella atau yang lazim dikenal sebagai rumput Manila, berasal dari keluarga Poaceae. Jenis rumput ini tumbuh dan berkembang di wilayah Asia.

Dikutip dari beberapa jurnal ilmiah botani, rumput Zoysia matrella memiliki ciri daun yang rucing, warna hijau pekat, dan rigiditas yang rapat. Dilengkapi akar yang kuat membuat rumput jenis ini aman ketika bersentuhan langsung dengan sepul sepatu sepak bola.

Zoysia matrella biasanya ditanam menggunakan media pasir dan juga memiliki tingkat elistisitas yang sangat baik. Dengan demikian, aliran bola sempurna menggelinding tanpa mengurangi kecepatannya karena tekstur akarnya sangat kuat.

Zoysia matrella bisa dibilang rumput manja karena harus disiram sekali setiap hari plus diberi pupuk. Rumput tersebut juga minimal harus dipangkas per dua pekan dan dianjurkan hanya dipakai untuk pertandingan sepak bola.

Perawatan yang tak bisa dibilang sederhana itu sebanding dengan harga rumput. Di pasaran, rumput Zoysia matrella dibanderol dengan harga Rp 90.000 per meter persegi.

2 dari 2 halaman

Indentitas SUGBK

Pekerja menyelesaikan proyek renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Senayan, Jakarta, Jumat (17/3/2017). SUGBK ini direnovasi untuk menyambut Asian Games 2018. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Cerita Zoysia matrella bersama Indonesia bermula ketika Presiden Soekarno memiliki ide membuat stadion yang menjadi ikon kebangsaan bangsa. Penggarapan stadion yang terletak di kawasan Senayan itu pun tak main-main.

Bung Karno menyetujui anggaran dana yang tak kecil demi membuat stadion termegah ketika itu. Kedekatan antara Soekarno dan Uni Soviet pun berbuah dana pinjaman lunak senilai 12,5 juta dollar AS untuk mendirikan stadion kelas dunia pertama di Indonesia.

Presiden Soekarno mempercayakan pembangunan stadion kepada artitek kenamaan, Frederich Silaban. Pembangunan stadion tersebut dimulai pada pertengahan 1958.

Demi memuaskan hasrat Soekarno, Frederich Silaban merancang stadion yang mampu menampung kapasitas 120.800 kursi. Selain itu, sang arsitek juga merancang stadion ditutupi atap temu gelang yang ketika itu merupakan teknologi mutakhir di dunia olahraga.

Rancangan Frederich Silaban membuat Presiden Soekarno sangat antusias. Selama pembangunan, Sang Proklamator rajin mengunjungi proyek mercusuarnya tersebut.

Soekarno bahkan terlibat sampai urusan sepele seperti pemilihan batu bata, pasir, hingga rumput. Untuk urusan rumput, Frederich Silaban menawari Soekarno jenis yang setara dengan gengsi stadion tersebut. Tercetuslah ide pemilihan Zoysia matrella, yang kala itu merupakan rumput mahal dan harus didatangkan dari luar negeri.

Dari segi historis, secara tidak langsung Zoysia matrella sudah melekat di jantung stadion yang kini bernama Gelora Bung Karno tersebut. Nilai tersebut yang kini dipertahankan oleh arsitek dan pimpinan proyek renovasi SUGBK untuk Asian Games 2018.

"Jenisnya dipertahankan agar mengingat sejarah juga. Pendahulu yang membangun stadion ini juga menanam rumput itu, jadi kami gunakan jenis yang sama agar orang bisa mengingat sejarah juga," kata Direktur Utama Pusat Pengelolaan Komplek Geloran Bung Karno (PPK GBK), Winarto, kepada Bola.com, Senin (10/4/2017).

"Perawatan rumput jenis itu tidak susah-susah amat kok. Ada tim untuk merawatnya dan tekniknya juga ada mulai dari penyiraman, pemotongan yang menggunakan mesin, dan perawatannya. Jadi, kami mempertahankan rumput jenis ini selain faktor kualitas juga ada nilai historisnya," ujar Winarto. 

Penggunaan Zoysia matrella diharapkan bukan sekadar mempertahankan gengsi Stadion Utama Gelora Bung Karno. Namun, rumput Zoysia matrella dan Stadion Utama Gelora Bung Karno harus terus mencerminkan cita-cita Presiden Soekarno oada pidato pertamanya di stadion tersebut tentang bagaimana olahraga dapat menjelma menjadi Nation and Character Building.

Bung Karno berita-cita melalui olahraga bisa menyatukan rasa kebangsaan dan kebanggaan terhadap Indonesia. Dua poin tersebut bisa mulai dibangkitkan lagi ketika si rumput Zoysia matrella yang tertanam di Stadion Utama Gelora Bung Karno menggelar event Asian Games pada 18 Agustus - 2 September 2018.