Ada Kasih Sayang dan Ketegasan Anggono di Balik Performa Gerry Cs

oleh Muhammad Wirawan Kusuma diperbarui 17 Apr 2017, 06:18 WIB
Manajer Safety Riding and Motorsport AHM, Anggono Iriawan (tengah), bisa dibilang sebagai sosok penting di balik kesuksesan Gerry Salim Cs. (Bola.com/Muhammad Wirawan Kusuma)

Bola.com, Buriram - Performa pebalap Astra Honda Racing Team pada ajang Asia Road Racing Championship 2017 terbilang luar biasa. Gerry Salim, Irfan Ardiansyah, Rheza Danica Ahrens, dan Awhin Sanjaya, tampil impresif meski sering dilanda masalah.

Banyak faktor yang membuat mereka begitu ciamik di lintasan balap. Selain faktor pebalap, motor, dan mekanik, ada juga peran dari sang manajer, Anggono Iriawan.

Advertisement

Tak bisa dipungkiri Manager Motorsport and Safety Riding AHM tersebut yang membuat Gerry Salim Cs memiliki kemampuan yang hebat, tak hanya membalap tetapi juga bersikap di dalam dan luar lintasan.

Gerry Salim menyebut Anggono adalah sosok yang keras. Namun, dia mengatakan ketegasan Anggono baru terlihat saat balapan sudah di depan mata.

"Pak Anggono kalau tidak balapan selalu santai, tapi ketika saat hendak balapan dia bisa menjadi sangat tegas," ujar Gerry Salim.

"Saya orangnya keras. Tipikal saya memang seperti itu. Saya bergaulnya dari pebalap sampai presiden direktur. Kalau bergaul saya bisa sama siapa saja. Tapi ketika sudah balapan, tujuannya harus jelas," ujar Anggono tak membantah anggapan tersebut.

Anggono mengaku dirinya bertindak sebagai orang tua para pebalap AHRT. Itu yang membuatnya tak bisa lembek saat menempa mental anak asuhannya.

Tugas sebagai "ayah" buat Gerry Salim Cs dinilai pria kelahiran Jayapura, Papua, itu sebagai tugas yang berat. Ini karena para pebalap AHRT, termasuk Dimas Ekky Pratama dan Andi Gilang yang turun di ajang CEV Internasional, memiliki karakter yang berbeda-beda.

"Saya merangkap sebagai orang tua mereka. Ini tantangan yang paling berat karena saya harus pintar membaginya. Karakter mereka berbeda-beda. Gerry beda, Irfan beda, Awhin, Rheza, Dimas, dan Gilang memiliki karakter yang berbeda," kata Anggono.

"Saya tak bisa hanya memperhatikan satu pebalap saja. Bagaimana saya menjaga agar mereka tetap termotivasi. Saya pelajari betul karakter Gerry Salim dan kawan kawan, jadi saya sedikit belajar psikologi juga," tambahnya.

2 dari 3 halaman

Pentingnya Faktor Mental

Bagi Anggono menempa kemampuan dan fisik para pebalap adalah hal yang bisa diukur. Namun, untuk hal mental, tak ada yang bisa menjadi tolok ukurnya. Itu yang menjadi fokus utama Anggono dalam mendidik para pebalapnya.

"Balapan itu tidak hanya sekedar skill, tapi juga fisik dan mental. Mental ini berkaitan dengan sikap mereka, ini yang harus dijaga," sebutnya.

"Tak bisa dipungkiri, Astra Honda sekarang menjadi tujuan para pebalap muda nasional. Tapi kami juga bilang bahwa kursi kami juga tidak banyak. Nah, setelah mereka masuk, mereka harus fokus, tanggung jawab. Ya, kayak tadi, tidak hanya di kemampuan, tapi juga komunikasi dan sikap."

"Contoh Awhin. Mungkin dulu dia di balap nasional setelah balapan dia tinggal duduk saja, tapi sekarang tidak bisa. Dia harus terlibat dan memiliki catatan. Pebalap sekelas Valentino Rossi, Marc Marquez, yang sudah beberapa kali juara dunia juga memiliki catatan. Kami ingin para pebalap itu bersikap profesional," imbuh Anggono.

3 dari 3 halaman

Menjadi seperti Alex Ferguson

Sebagai pencinta sepak bola, Anggono kerap menerapkan filosofi yang sama ketika menangani para pebalapnya. Dia melihat pada dasarnya semua olahraga sama, yaitu mengutamakan mental.

Jadi, itu yang menjadi fokus Anggono. Jika bisa diibaratkan, Anggono adalah sosok Alex Ferguson dan Jose Mourinho, dua pria yang melatih Manchester United.

"Alex Ferguson itu tak bisa dipungkiri kehebatannya. Begitu juga Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Saya kira mereka tak berbicara soal teknis lagi. Saya juga sama seperti mereka. Saya menjaga motivasi anak-anak ini yang memiliki karakter berbeda. Ini jadi tantangan tersendiri," tutur Anggono.

"Saya rasa di dunia olahraga semua sama. Pasti ujungnya itu mentality dan itu yang paling susah. Fisik dilatih terus diukur mudah, skill juga begitu. Mental? tidak ada alat ukurnya. Ini yang susah," tutupnya.

Kerja keras Anggono Iriawan muali membuahkan hasil. Kini pebalap AHRT menjadi momok menakutkan para rival mereka, tak hanya di nasional tapi juga internasional. Sebut saja Gerry Salim yang kini menjadi pemuncak klasemen ARRC 2017 kelas AP 250.

Berita Terkait