Cerita Perjalanan Mendebarkan Arema dari Markas Madura United

oleh Iwan Setiawan diperbarui 12 Sep 2017, 14:14 WIB
Ahmet Atayev Naik Rantis dari Polres Sampang (Bola.com/Adreanus Titus-Iwan Setiawan))

Bola.com, Malang - Berbagai teror diterima Arema FC seusai pertandingan melawan tuan rumah Madura United Minggu (10/9/2017) di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, Madura.

Tak hanya dilempari botol di lapangan dan batu ketika keluar Stadion Ratu Pamelingan, tapi hingga rombongan Arema pulang menuju Malang. Setelah berkoordinasi dengan pihak kepolisian, Arema memutuskan pulang tengah malam.

Ahmad Alfarizi dkk. meninggalkan hotel dengan menggunakan bus bertuliskan Madura United. Sebab, bus yang dipakai Arema sebelumnya mengalami pecah kaca setelah dilempari batu ketika pulang dari stadion. Dengan pengawalan sebuah rantis dan mobil polisi, perjalanan awalnya terlihat aman.

Advertisement

Tapi ketika 45 menit berlalu, perjalanan berhenti mendadak. Kepolisian yang mengawal mendapatkan kabar ada sweeping dalam jumlah besar yang dilakukan kelompok suporter Surabaya dan Madura di area jembatan Suramadu.

Ketika rombongan Arema berhenti, setidaknya ada empat motor ditumpangi anak muda berbaju hitam bergantian memotret bus Arema dengan ponsel. Setelah ditelusuri, diduga para pemuda itu merupakan informan dari kelompok suporter yang melakukan sweeping.

Dengan cepat Arema memanggil rombongan pemain U-19 yang kebetulan sudah pulang beberapa menit lebih awal. Tim muda Arema itu juga menjalani pertandingan Liga 1 U-19 di Pamekasan. Setelah kedua rombongan bertemu, akhirnya merek dibawa pihak kepolisian ke Polres Sampang.

Pengurus Arema mendapatkan informasi jika keamanan mendatangkan mobil rantis tambahan untuk mengangkut tim senior dan U-19. Namun setelah menunggu hampir satu jam, ada perubahan keputusan. Jika menunggu kendaraan rantis butuh waktu dua jam. Karena posisi kendaraan anti huru hara itu ada di Polda Jatim, Surabaya.

Tidak ingin para pemain lebih lelah menunggu di Polres Sampang, mereka memutuskan pulang dengan kendaraan yang ada. Satu rantis dan bus polisi. "Pulang naik apa saja tidak masalah yang penting selamat sampai rumah," kata bek senior Arema, Beny Wahyudi dengan nada lelah.

2 dari 2 halaman

Rantis Penuh Sesak

Para pemain senior Arema awalnya ditempatkan di rantis. Namun hanya cukup untuk sekitar delapan orang. Sedangkan bus yang dengan kapasitas 24 orang harus diisi hampir 40 orang yang terdiri beberapa pemain senior dan U-19.

Karena tidak ideal, pihak Kepolisian mengganti formasi. Rantis diisi pemain U-19 yang punya badan kecil sehingga bisa menampung banyak orang. Sedangkan penumpang bus akhirnya berkurang menjadi 33 orang. Meski masih ada beberapa yang harus berdiri dalam bus, mereka akhirnya berangkat melintasi Suramadu.

Sepanjang perjalanan ternyata tidak ada tanda-anda kelompok suporter yang melakukan sweeping. Karena perjalanan lancar. Pihak kepolisian akhirnya mengantar sampai rest area di tol Sidoarjo.

Di sana tim rombongan mengakhiri ketegangannya dan berganti kendaraan ke bus pariwisata yang sudah disiapkan. Rombongan Arema tiba di Malang setelah total tujuh jam perjalanan.

Perjalanan musim ini berbeda dengan musim lalu. Pada TSC 2016, pemain Arema tidak melintasi Suramadu dan memilih jalur laut, dengan menyewa kapal pribadi.