Semen Padang Tuntut Aturan Marquee Player Dihapus di Liga 1 2018

oleh Arya Sikumbang diperbarui 09 Okt 2017, 18:45 WIB
Didier Zokora, marquee player asal Pantai Gading yang diputus kontrak Semen Padang pada pertengahan musim Liga 1 2017. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Padang - Manajemen Semen Padang menginginkan PSSI dan operator Liga 2018 menerapkan regulasi soal pemain asing yang mengacu ke AFC. Diharapkan musim depan tidak ada lagi penggunaan istilah marquee player yang memicu kontroversi.

Advertisement

Seperti diketahui, pada Liga 1 musim 2017, PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi dan PSSI mengeluarkan sejumlah regulasi nyeleneh.

Selain setiap klub wajib menurunkan tiga pemain U-23 pada setiap pertandingan pada putaran pertama kompetisi kasta elite.  Anehnya aturan tersebut dibatalkan dengan alasan SEA Games 2017 telah berakhir.

Liga 1 2017 juga memberi istilah pemain asing berlabel bintang dengan sebutan marquee player. Di mana pemain dengan status ini tak dihitung masuk kuota 2 + 1 (2 non Asia, 1 Asia). Banyak klub mengakali aturan ini agar bisa menambah jumlah legiun asing.

Kuota pemain asing yang ditetapkan AFC sendiri dari 3+1 (3 asing non Asia dan 1 pemain Asia). Liga 1 diharapkan Semen Padang mengacu regulasi baku yang diterapkan otoritas tertinggi sepak bola Asia. 

“Untuk kompetisi tahun 2018, Semen Padang berharap ada regulasi yang mengacupada AFC. Hal ini sangat beralasan, karena regulasi yang sama akan tetapdipakai jika klub Indonesia berlaga di kompetisi Asia,” ujar manajer Semen Padang, Win Bernadino, Senin (9/10/2017).

 “Bagi kami, penggunaan marquee player belum tepat. Bisa kita lihat, hampir seluruh marguee player yang bermain di Liga-1 dari sisi kualitas dan kemampuan tak beda jauh dengan pemain pemain lokal. Kategori kebintangan mereka tak jelas.

Pemain yang pernah bermain di Piala Dunia dan kompetisi elite dunia saat tak lagi produktif ramai-ramai datang ke Indonesia. Pastinya kemampuan dan kualitas mereka tidak sebaik dulu. Klub-klub Liga 1 tak secara signifikan terbantu. Sepak bola Indonesia tidak mendapat benefit apa-apa, selain pengeluaran klub makin besar untuk membayar marquee player,” kata Win Bernadino.

Menurut Win, regulasi marquee player yang serba abu-abu menciptakan riak-riak konflik di antara klub peserta. “Selain harga yang mahal, setiap klub dituntut untuk memberikan pelayanan berbeda kepada sang marquee player. Ini menyebabkan kecemburuan sosial di dalam sebuah tim. Padahal dengan harga yang mahal, klub bisa membeli beberapa pemain lokal dan bahkan pemain timnas dengan harga di bawah banderol marquee player,” jelasnya.

Semen Padang sempat mendatangkan marquee player asal Pantai Gading, Didier Zokora. Namun sang pemain diputus kontraknya pada tengah musim karena dinilai gaji tak sebanding dengan kualitas di lapangan.