Susy Susanti: Indonesia Sebenarnya Punya Peluang Kalahkan China

oleh Oka Akhsan diperbarui 12 Okt 2017, 15:14 WIB
Manajer tim Indonesia, Susy Susanti, buka suara setelah gagal memenuhi target lolos ke semifinal nomor beregu Kejuaraan Dunia Junior 2017, di Yogyakarta, Kamis (12/10/2017). (PBSI)

Bola.com, Yogyakarta - Manajer tim Indonesia, Susy Susanti, buka suara setelah gagal memenuhi target lolos ke semifinal nomor beregu Kejuaraan Dunia Junior 2017. Langkah Indonesia terhenti pada babak perempat final setelah dijegal juara bertahan China dengan skor 1-3 di GOR Among Rogo, Yogyakarta, Kamis (12/10/2017).

"Hari ini kami harus mengakui keunggulan tim China. Kami sebenarnya tadi punya peluang untuk meraih kemenangan. Seperti yang sudah diprediski, kans Indonesia ada di tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Tapi di susunan pemain mereka ada yang rangkap," kata Susy seperti dikutip dari Djarum Badminton.

Advertisement

Indonesia tertinggal 0-1 setelah ganda campuran Muhammad Shohibul Fikri/Adnan Maulana menyerah kepada Fan Qiuyue/Wang Chang. Fikri/Adnan kalah setelah bertarung tiga gim dengan skor 21-13, 18-21, 15-21.

Indonesia menyamakan skor menjadi 1-1 lewat tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung. Gregoria secara gemilang berhasil menaklukkan Han Yue dua gim langsung 21-17, 21-17 dalam waktu 35 menit.

Indonesia kembali tertinggal setelah tunggal putra Gatjra Piliang Fiqihilahi Cupu gagal membendung Yupeng Bai. Bertarung ketat tiga gim selama 63 menit, Gatjra akhirnya menyerah 21-16, 15-21, 13-21.

Tertinggal 1-2, harapan Indonesia untuk memperpanjang napas ada di pundak ganda putri Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto yang turun pada partai keempat. Namun, kenyataan berkata lain. Jauza/Ribka kalah dari Liu Xuanxuan/Yuting Xia dua gim langsung 9-21, 15-21 sehingga Indonesia mesti mengubur impian merengkuh titel Piala Suhandinata di kandang sendiri.

"Ganda putra sebenarnya ada kesempatan. Gim pertama, Adnan/Fikri bisa memberikan perlawanan dan mereka menang. Tapi sayang di gim kedua saat poin kritis mereka agak sedikit tegang. Gim ketiga mereka di bawah tekanan. Tunggal putri, Gregoria bisa tampil maksimal. Sayang di sektor tunggal putra, Indonesia sebenarnya punya kesempatan. Pemain-pemain Indonesia pada saat gim pertama mereka bisa menguasai keadaan. Pada gim kedua di saat mereka sudah menekan lawan, harusnya terus seperti itu. Tapi mereka justru berganti pola, malah mati sendiri. Hal itu yang menjadi catatan buat kami," ujar Susy.

"Untuk ganda putri sebenarnya kami berharap bisa menyamakan skor 2-2. Tapi sayang sejak awal Jauza/Ribka sudah tertekan, sehingga mereka tidak bisa mengeluarkan permainan terbaik," tutur Susy Susanti.

 

2 dari 2 halaman

Kecewa

Meski terhenti pada babak perempat final, perjuangan tim Indonesia belum berakhir. Garuda Muda akan menghadapi Thailand dalam playoff perebutan peringkat 5-8 malam nanti pada pukul 19.00 WIB. Indonesia menempati peringkat kelima pada edisi 2016.

Susy mengaku kecewa Indonesia tak bisa melangkah lebih jauh di nomor beregu. Meski demikian, dia tetap meminta para pemain Indonesia tetap bersemangat untuk menebus kegagalan tersebut di nomor perorangan.

"Tentu kami sedih karena sebagai tuan rumah Indonesia tak bisa lanjut ke babak selanjutnya. Memang berdasarkan hasil undian, persaingan di pool bawah yang ditempati Indonesia lebih merata ketimbang pool atas. Saya rasa yang menjadi kendala kami di pertandingan beregu kali ini adalah stamina, konsentrasi, fokus, keyakinan, dan keberanian. Mudah-mudahan ini bisa menjadi masukan dan evaluasi agar lebih baik lagi di perorangan nanti," kata Susy.

Nomor perorangan baru akan dimulai pada Senin (16/10/2017). Indonesia menargetkan meraih satu medali emas. Menurut Susy, peluang terbesar Indonesia ada di nomor tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran. Pada edisi 2016 di Bilbao, Spanyol, Indonesia meraih satu perak dan satu perunggu.