Pulang dari Paju, Timnas Indonesia U-19 Perlu Kerja Keras

oleh Windi Wicaksono diperbarui 07 Nov 2017, 20:26 WIB
Para pemain Indonesia U-19 bersalaman dengan pemain Malaysia U-19 usai laga Kualifikasi Piala Asia U-19 2018 di Stadion Public, Paju, Senin (6/11/2017). Indonesia kalah 1-4 dari Malaysia. (AFP/Kim Doo-Ho)

Jakarta - Timnas Indonesia U-19 gagal memenuhi target peringkat kedua klasemen Grup F babak kualifikasi Piala Asia U-19 yang berlangsung di Paju, Korea Selatan, belum lama ini. Meski tetap lolos ke putaran utama tahun depan, Garuda Nusantara masih membutukan banyak polesan.  

Di Paju, Korsel, Timnas Indonesia U-19 hanya menang atas tim yang di atas kertas bisa diatasi seperti Brunei Darussalam dan Timor Leste. Tapi, ketika bertemu lawan seperti Korea Selatan dan Malaysia, tim berjulukan Garuda Nusantara tak berkutik.

Advertisement

Melawan Korsel, Egy Maulana Vikri dan kawan-kawan kalah 4-0. Sementara ketika berhadapan dengan Malaysia, Timnas Indonesia U-19 juga takluk dengan skor mencolok 4-1.

Dengan dua kekalahan itu, Indonesia tidak dapat menempati posisi runner up Grup F, tetapi tetap lolos ke putaran final Piala Asia U-19 2018, karena berstatus tuan rumah. Bayangkan jika bukan tuan rumah, Timnas Indonesia U-19 harus absen di Piala Asia tahun depan.

Fakta ini membuat pandangan tim asuhan Indra Sjafri itu tidak kompetitif di turnamen tersebut. Apalagi lawan-lawan di Piala Asia bukan lagi Brunei Darussalam atau Timor Leste, tapi Jepang, Korsel, Australia, Arab Saudi, Iran, hingga Uzbekistan yang levelnya lebih tinggi.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Gagal Buktikan Diri

Pemain Indonesia U-19 menyanyikan lagu Indonesia Raya saat bertanding melawan Korea Selatan (Korsel) pada kualifikasi Piala Asia U-19 2018 di Stadion Paju, Sabtu (4/11/2017). Korsel menang 4-0 atas Indonesia. (AFP/Kim Doo-Ho)

Indra Sjafri tidak bisa membuktikan diri timnya pantas bermain di Piala Asia U-19 2018. Dengan serentetan hasil kurang mengesankan itu, sudah berkembang kah Garuda Nusantara di bawah asuhan Indra Sjafri?

Taktik yang diterapkan Indra Sjafri tidak dapat dijalankan maksimal oleh anak-anak asuhannya. Lini pertahanan sangat longgar dan kerap kewalahan menghadapi serangan balik lawan.

Lini depan Timnas Indonesia U-19 juga banyak mengandalkan kemampuan individu, khususnya Egy Maulana Vikri. Satu-satunya gol ke gawang Malaysia juga bukan hasil kerjasama tim.

3 dari 3 halaman

Pembenahan Besar-besaran

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri (kanan) berdiri dengan staf timnya sebelum bertanding pertandingan melawan Korea Selatan pada laga ketiga kualifikasi Piala Asia U-19 2018 di Paju Public Stadium, Korsel (4/11). (AFP Photo/Kim Doo-Ho)

Padahal, Timnas Indonesia U-19 sudah menjalani serangkaian uji coba, termasuk di Toulon Tournament, Prancis pada Juni 2017. Hingga selesai kualifikasi Piala Asia U-19, tidak tampak progres signifikan dari Garuda Nusantara bila dilihat dari hasil kontra tim-tim yang levelnya setara atau lebih tinggi.

Pencinta Timnas Indonesia U-19 tentu tidak ingin pasukan Indra Sjafri menjadi bulan-bulanan di Piala Asia U-19 2018. Pembenahan dan perombakan besar-besaran perlu dilakukan jika mereka ingin tampil sesuai ekspektasi banyak orang.

Masih ada waktu setahun untuk Indra Sjafri memperbaiki kekurangan tim besutannya. Apalagi masih ada promosi-degradasi pemain di skuat Timnas Indonesia U-19 sehingga Indra Sjafri masih punya waktu mendapatkan komposisi terbaik untuk timnya.