Persipura Berikan Jersey kepada Keluarga Almarhum Haringga Lewat The Jakmania

oleh Aditya Wany diperbarui 29 Sep 2018, 23:45 WIB
Persipura lewa Bento Madubun (kanan) memberikan jersey kepada keluarga almarhum Haringga Sirla lewat Ketum The Jakmania, Ferry Indrasjarief, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (29/9/2018). (Bola.com/Aditya Wany)

Bola.com, Malang - Laga amal yang mempertemukan Arema FC kontra Madura United benar-benar diharapkan jadi momentum untuk bangkit. Laga yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu malam (29/9/2018) itu, juga menjadi persembahan untuk Haringga Sirla, suporter Persija Jakarta yang meninggal dunia pada Minggu (23/9/2018).

Acara ini dihadiri hampir semua perwakilan klub Liga 1 2018, kecuali PSM Makassar yang berhalangan hadir. Persipura Jayapura secara khusus bahkan menyiapkan jersey mereka dengan nama 'Haringga Sirla' dan bernomor punggung 1.

Advertisement

Media Officer Persipura, Bento Madubun, secara simbolis menyerahkan jersey itu kepada Ketua The Jakmania, Ferry Indrasjarief. Bento menyebutkan timnya ingin ambil bagian memberikan persembahan kepada almarhum.

"Dengan jersey ini, kami dari persipura merasa bersatu dengan Haringga dan seluruh suporter di Indonesia. Kami berharap seluruh pencinta sepak bola indonesia bersatu dengan hati kami di sini," ungkap Bento kepada Bola.com setelah pertandingan.

Haringga menjadi korban meninggal setelah dikeroyok oknum suporter Persib Bandung. Insiden itu terjadi menjelang pertemuan Persib vs Persija di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Minggu (23/9/2018).

Kasus meninggalnya Haringga hanya satu di antara korban kehilangan nyawa akibat perseteruan suporter sepak bola di Indonesia. Tak hanya suporter Persija dan Persib, beberapa kali suporter Arema dan Persebaya juga menjadi korban akibat rivalitas.

"Kami ingin seluruh suporter bisa memahami situasi yang terjadi saat ini. Kami berharap semua akan berakhir dengan malam ini seluruh klub berikrar untuk mengejar kedamaian. Kami tidak mengejar apa-apan, tujuannya hanya perdamaian," imbuh Bento.

"Rivalitas 90 menit di lapangan, setelah itu selesai. Ini adalah kekuatan kami untuk bangkit dan membenahi sepak bola Indonesia. Kami ingin sepak bola Indonesia mengarah ke perdamaian," ucapnya.