Membangun Karakter Sejak Usia Dini ala Uni Papua Lewat Sepak Bola

oleh Gregah Nurikhsani diperbarui 18 Okt 2019, 20:30 WIB
Uni Papua FC menggelar Football For Peace. (Dok. FIFA)

Bola.com, Jakarta - Kebanyakan orang memandang olahraga sepak bola sebatas memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Bagi Uni Papua FC, indahnya sepak bola juga bisa menjadi alat untuk membentuk seseorang menjadi lebih baik secara keseluruhan.

Pada awalnya, Uni Papua dibuat agar orang-orang, khususnya anak-anak memiliki kegiatan positif sehingga terhindar dari ancaman kesehatan, seperti penyalahgunaan obat-obatan, HIV/AIDS dan alkohol. Seiring berkembangnya zaman, organisasi yang dibentuk di Pulau Biak, Papua pada tahun 2013 silam itu punya tujuan lebih.

Advertisement

Uni Papua sadar hal pertama yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah dengan membangun karakter. Lewat sepak bola, mereka berharap anak-anak bisa belajar mengenai pentingnya kedisiplinan dan semangat hidup baik yang berkarakter positif.

"Tujuan kami adalah membentuk dan membangun karakter positif kepada anak-anak, seperti kedisiplinan, komitmen, memilki pola hidup sehat, saling menghargai antar ras, suku dan perbedaan gender," ujar Harry Widjaja, founder dan CEO Uni Papua.

"Mewujudkan semua itu bukan perkara mudah, pasti membutuhkan waktu yang lama. Namun, itulah tujuan utama Uni Papua FC," sambungnya kepada FIFA.com.

 

2 dari 2 halaman

Dukungan FIFA dan Pemerintah Indonesia

Para Pemain Uni Papua saat melawan PS TNI pada laga uji coba di Markas Komado Kostrad, Cilodong, Jawa Barat. PS TNI menang 8-1. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Perlahan namun pasti, inisiasi Uni Papua mendapatkan sokongan dari banyak pihak. Bersama pemerintah Indonesia, diadakanlah program Football For Peace Festival.

Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mengetahui hal ini juga memberikan respons positif karena komitmen Uni Papua melibatkan anak-anak.

Hingga kini, Uni Papua telah memiliki banyak pemuda-pemudi Indonesia yang dilatih oleh 64 staf pelatih. Anak-anak tak cuma mendapatkan pelatihan sepak bola, tapi juga belajar membentuk karakter positif.

"Saya dulu nakal dan suka jahil ke teman-teman saya. Jadwal tidur saya berantakan, tidur selalu larut malam. Setelah bergabung dengan Uni Papua, banyak hal yang saya peroleh, seperti pola makan dijaga betul, latihan disiplin, saya sekarang jadi orang yang lebih baik, yang berkarakter. Saya juga diajari untuk rispek terhadap orang lain," kata Gabriel Honin, duta Uni Papua.

Sumber: FIFA