Sukses Kunci Gelar Shopee Liga 1 2019, Bali United Hanya Butuh 4 Tahun untuk Masuk Buku Sejarah

oleh Ario Yosia diperbarui 03 Des 2019, 07:30 WIB
Bali United juara Shopee Liga 1 2019. (Bola.com/Dody Iryawan)

Bola.com, Jakarta - Bali United menjadi juara Shopee Liga 1 2019. Mereka mengamankan gelar setelah mengantungi kemenangan menyakinkan dengan skor 2-0 saat melawat ke markas Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim, Senin (2/12/2019).

Gol pertama Bali United tercipta di menit ke-51. Tandukan Ilija Spasojevic usai memanfaatkan umpan sundulan Yabes Roni berhasil mengoyak gawang Semen Padang yang dijaga Rendy Oscario.

Advertisement

Spasojevic mencetak gol keduanya pada menit ke-85. Berdiri bebas di depan gawang, Spasojevic berhasil mengirim bola usai mendapat umpan mendatar dari Brwa Nouri.

Kemenangan ini memastikan Bali United juara Shopee Liga 1 2019 di pekan ke-30. Tambahan satu poin membuat Serdadu Tridatu mengemas 63 poin.

Dengan empat pertandingan tersisa, Bali United sudah tidak mungkin dikejar oleh pesaing terdekatnya, Borneo FC. Pesut Etam mengumpulkan 46 poin dari 30 laga yang telah dimainkan.

Sementara bagi Semen Padang, kekalahan ini membuat mereka semakin tenggelam di dasar klasemen. Kabau Sirah baru mengumpulkan 28 poin.

Kampiun juara Shopee Liga 1 2019 ini menjadi prestasi luar biasa bagi Bali United. Pasalnya, pada musim lalu, mereka hanya finis di posisi ke-11 dengan 45 poin.

Keberhasilan menjuarai Shopee Liga 1 2019 ini juga mengobati luka Bali United di tahun 2017. Ketika itu, mereka finis di posisi kedua dengan 68 poin, hanya kalah selisih gol dari Bhayangkara FC.

Simak cerita detail bagaimana Bali United jadi klub elite dan akhirnya sukses menjadi juara kompetisi kasta tertinggi.

2 dari 4 halaman

Persipura Mendominasi Liga Indonesia

Striker Persija Jakarta, Marko Simic, berebut bola dengan pemain Persipura Jayapura pada laga Shopee Liga 1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (28/11). Persija menang 1-0 atas Persipura. (Bola.com/Yoppy Renato)

Klub milik pengusaha abang-adik Pieter dan Yabes Tanuri itu masuk buku sejarah dalam deretan klub peraih titel di era kompetisi berlabel Liga Indonesia.

Kompetisi ini mulai dihelat 1995-1996 oleh PSSI era kepengurusan Azwar Anaz yang menggabungkan klub-klub eks Perserikatan dan Galatama. Pada edisi perdana mencuat Persib Bandung sebagai kampiun. 

Sejarah mencatat Persipura Jayapura jadi klub pengoleksi gelar terbanyak kompetisi. Tim Mutiara Hitam jadi yang terbaik sebanyak lima kali pada musim 2005, 2008-2009, 2010-2011, 2013, dan 2016 (kompetisi tak resmi).

Sukses Persipura tak lepas dari mencuatnya Golden Generation PON Papua 2004 yang melahirkan talenta-talenta berbakat macam Boaz Solossa, Ian Kabes, Immanuel Wanggai, serta Ricardo Salampessy. Mereka berjaya di tangan dua pelatih, Rahmad Darmawan pada edisi perdana 2005 dan sisanya Jacksen F. Tiago (3 gelar), serta terakhir Alfredo Vera pada 2016.

Belum ada klub yang mampu mendekati dominasi Persipura. Pesaing terdekat Persib Bandung, Persija Jakarta, Sriwijaya FC, Persebaya Surabaya, baru mengantungi masing-masing dua gelar juara.

Aneka drama terjadi sepanjang sejarah Liga Indonesia yang kini bernama Liga 1. Mulai dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 yang membuat kompetisi terhenti di tengah jalan, dualisme kompetisi LPI Vs ISL imbas perseteruan antara nggota PSSI, hingga bubarnya kompetisi musim 2015 gara-gara FIFA menjatuhkan sanksi pembekuan ke PSSI imbas perseteruan federasi dengan Kemenpora.

Lepas dari hal tersebut, Liga Indonesia yang kerap berganti-ganti nama mengikuti nama sponsor itu kerap menyajikan drama yang menguras emosi. Perjuangan klub untuk menjadi juara tak mudah.

Sekadar informasi format kompetisi sempat berulangkali berubah, mulai dari dua wilayah kemudian tiga wilayah, hingga sekarang stabil sejak 2015 menggunakan sistem satu wilayah home and away.

3 dari 4 halaman

Menjelma Menjadi The Dream Team

CEO Bali United, Yabes Tanuri (kiri), bersama perwakilan YCAB di Bali United Cafe, Gianyar, Minggu (18/11/2018). (Bola.com/Aditya Wany)

Bali United sejatinya klub pendatang baru. Klub ini dulunya bernama Pesisam yang merupakan tim merger eks tim Perserikatan Persisam dengan Putra Samarinda dari Galatama.

Pada 15 Februari 2015, Putra Samarinda diambil alih pengusaha asal Indonesia, Pieter dan Yabes Tanuri, setelah sebelumnya mengalami kesulitan finansial. Pemilik sebelumnya, Harbiansyah Hanafiah, tak kuat lagi membiayai klub miliknya.

Sepanjang sejarah baik bernama Persisam maupun Putra Samarinda, klub ini belum pernah meraih prestasi tertinggi di kasta elite yang diikuti.

Klub berdiri tahun 1989 dengan nama Putra Samarinda Football Club. Putra Samarinda berlaga di Galatama dan kemudian menjadi Liga Indonesia sejak kompetisi resmi itu bergulir musim 1994-1995.

Kemudian Putra Samarinda mengalami kesulitan finansial sejak mengikuti Liga Galatama dan Perserikatan digabung menjadi satu kompetisi. Pada tahun 2003, Putra Samarinda dan Persisam, Klub perserikatan yang didanai APBD Samarinda dimerger menjadi Persisam Putra Samarinda dan menggunakan lisensi Putra Samarinda untuk berlaga di Liga Indonesia.

Klub tersebut lebih banyak menghabiskan waktu di kompetisi kasta kedua. Pada tahun 2008/2009, Persisam menjadi juara liga Divisi Utama Liga Indonesia 2008–09 dan dipromosikan ke Liga Super Indonesia. Dan belakangan kolaps pada 2014 sehingga dijual kepemilikannya ke Pulau Dewata.

Berganti nama menjadi Bali United, klub ini menjelma jadi tim raksasa dengan kondisi finansial yang wah. Pada awalnya Bali United ditukangi Indra Sjafri dengan poros kekuatan pemain-pemain belia veteran Timnas Indonesia U-19 yang sukses menjadi juara Piala AFF U-19 2013.

Namun, kebijakan klub berubah. Tanuri Bersaudara mulai mendatangkan banyak pemain top ke klubnya. Irfan Bachdim, Stefano Lilipaly, Ilija Spasojevic, Paulo Sergio, deretan nama beken yang jadi bagian skuat berjulukan Serdadu Tridatu.

Pada tanggal 17 Juni 2019, Bali United menjadi klub pertama yang memiliki saham go public di Asia Tenggara dan kedua di Asia. Pada pembukaan perdagangan perdananya, harga saham perusahaan langsung melambung 69,14 persen ke level Rp296 per saham dari nilai saham perdana Rp175 per lembar.

Klub ini melepas 33,33% kepemilikannya dengan total 2 miliar unit saham. Dengan demikian, dana yang diraup oleh klub ini mencapai 350 miliar rupiah. Dengan dana taktis besar bukan sesuatu yang sulit bagi petinggi klub membangun The Dream Team.

Sejak musim 2017, Bali United stabil di jajaran papan atas. Kesuksesan mereka menjadi juara Shopee Liga 1 2019 sudah diprediksi banyak pengamat karena mereka memang terlihat paling siap menatap persaingan dibanding klub lain.

 

4 dari 4 halaman

Daftar Juara Liga Indonesia

Vladimir Vujovic mencium trofi Indonesia Super League saat selebrasi juara di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, (7/11/2014). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
  • 1994/1995  Persib Bandung (Indra Thohir)
  • 1995/1996  Mastrans Bandung Raya (Henk Wullems)
  • 1996/1997 Persebaya Surabaya (Rusdi Bahalwan)
  • 1997/1998 Dihentikan
  • 1998/1999 PSIS Semarang (Edy Paryono)
  • 1999/2000  PSM Makassar (Syamsuddin Umar)
  • 2001 Persija Jakarta (Sofyan Hadi)
  • 2002 Petrokimia Putra (Serghei Dubrovin)
  • 2003 Persik Kediri (Jaya Hartono)
  • 2004 Persebaya Surabaya (Jacksen F Tiago)
  • 2005 Persipura Jayapura (Rahmad Darmawan)
  • 2006 Persik Kediri (Daniel Roekito)
  • 2007  Sriwijaya FC  (Rahmad Darmawan)
  • 2008/2009 Persipura Jayapura (Jacksen F Tiago)
  • 2009/2010 Arema Indonesia (Robert Rene Alberts)
  • 2010/2011 Persipura Jayapura (Jacksen F Tiago)
  • 2011/2012 Sriwijaya FC (Kas Hartadi)
  • 2012 Semen Padang (Nilmaizar)
  • 2012/2013 Persipura Jayapura (Jacksen F Tiago)
  • 2014 Persib Bandung (Djajang Nurjaman)
  • 2015  Dihentikan
  • 2016 Persipura Jayapura (Alfredo Vera)*
  • 2017  Bhayangkara FC (Simon McMenemy)
  • 2018 Persija Jakarta (Stefano Cuggura Teco)
  • 2018 - Bali United  (Stefano Cuggura Teco)

*) Kompetisi tak resmi.

Berita Terkait