3 Kali Rasakan Kompetisi Berhenti, Legenda Pelita Jaya Akui 2020 Paling Sulit

oleh Iwan Setiawan diperbarui 08 Apr 2020, 18:45 WIB
I Made Pasek Wijaya. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Malang - Kompetisi Shopee Liga 1 2020 terancam berhenti di tengah jalan karena pandemi virus corona sampai saat ini masih belum berakhir. PSSI sudah memutuskan menunda semua pertandingan Liga 1 dan 2 dan kemungkinan bakal digelar lagi setelah 1 Juli mendatang.

Jika penyebaran virus corona belum teratasi, bisa jadi kompetisi tidak dilanjutkan lagi. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kompetisi dihentikan di Indonesia.

Advertisement

Pada 1998 dan 2015, kompetisi juga tidak dilanjutkan karena alasan berbeda. Pada 1998, Liga Indonesia berhenti lantaran situasi politik yang mengakibatkan kerusuhan meledak di berbagai tempat sehingga faktor keamanan jadi pertimbangan utama kompetisi tidak berlanjut.

Sedangkan pada 2015, Liga Indonesia berhenti pada awal musim karena FIFA menjatuhkan banned kepada PSSI. Waktu itu pemerintah ikut campur tangan lewat Menpora dan sempat tidak sejalan dengan PSSI. Hal tersebut membuat FIFA menjatuhkan sanksi membekukan sepak bola Indonesia.

Legenda sepak bola Bali, I Made Pasek Wijaya jadi sosok yang mengalami tiga kali keadaan ini. Pada 1998, dia masih aktif bermain di Pelita Jaya. Sedangkan musim 2015, dia sebagai asisten pelatih Arema. Sekarang, Pasek jadi pelatih kepala Bali United U-18.

“Saya mengalami kompetisi berhenti pada tiga kondisi ini. Ya, mau bagaimana lagi? Pelaku sepak bola seperti saya hanya bisa menjalaninya saja,” jelas I Made Pasek Wijaya.

 

Video

2 dari 2 halaman

Paling Sulit Saat Ini

Asisten pelatih Bali United, I Made Pasek Wijaya. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Dari tiga kasus yang sudah terjadi, I Made Pasek Wijaya melihat berhentinya kompetisi pada tahun ini menjadi yang paling sulit. Bukan semata karena semua elemen merasakan pemangkasan gaji, tapi juga ada banyak efek lain.

“Waktu musim 2015, saya masih jadi asisten pelatih Arema situasinya tidak sesulit sekarang. Dulu kompetisi berhenti, tapi masih ada aktivitas seperti turnamen atau undangan uji coba. Klub juga masih dapat pemasukan dari turnamen,” jelasnya.

Namun, saat ini virus corona membuat semua aktivitas terhenti. Bahkan masyarakat diimbau lebih banyak berada di rumah.

“Sekarang kondisinya saya rasa paling sulit karena tidak bisa diprediksi selesai kapan. Saya sendiri hanya di rumah. Pemain Bali United juga saya instruksikan latihan sendiri di rumah. Tapi saya berikan program dan memantaunya lewat vidio,” lanjut pelatih 50 tahun ini yang memang menjadi pelatih kepala Bali United U-18.

Selain sepak bola, kondisi Bali juga lesu. Tempat pariwisata banyak yang tutup. Pemasukan warga setempat juga menurun. Padahal Bali mengandalkan pemasukan dari sektor pariwisata.